KEMULIAAN PARA SYUHADA UHUD DAN KESAKSIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

KEMULIAAN PARA SYUHADA UHUD DAN KESAKSIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

al-Bukhari dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan setiap dua orang dari para syuhada Uhud dalam satu helai kain kafan. Beliau lalu bertanya, “Siapa di antara mereka yang lebih banyak hafalan al-Qur’annya?” Jika telah ditunjukkan, beliau mendahulukannya ke dalam liang lahat seraya bersabda, “Aku akan menjadi saksi atas mereka pada Hari Kiamat.” Beliau memerintahkan agar mereka dikuburkan dengan darah yang masih melekat pada tubuh mereka, tanpa dimandikan dan tanpa dishalatkan. Para syuhada itu dikuburkan dua atau tiga orang dalam satu kuburan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar mereka dikuburkan di tempat mereka gugur. Maka jenazah yang telah dibawa ke Madinah pun dikembalikan ke tempat semula.

Setelah proses penguburan para syuhada selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membariskan para sahabat, kemudian memuji Rabb-nya dan berdoa kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada mereka kebaikan dunia dan akhirat, serta membinasakan kaum kafir yang pendusta.

Beliau juga mengungkapkan harapannya untuk dapat menyusul para sahabatnya yang gugur sebagai syahid di Uhud. Ketika mendengar Ali berkata kepada Fathimah, “Berikanlah pedang itu! Sesungguhnya ia telah menyembuhkanku,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mampu mengayunkan pedang dengan baik, sungguh Sahl bin Hanif, Abu Dujanah, ‘Ashim bin Tsabit al-‘Aqlah, dan al-Harits bin ash-Shimmah telah menggunakan pedang mereka dengan sangat baik.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyampaikan kabar gembira kepada kaum muslimin tentang besarnya pahala yang Allah sediakan bagi para syuhada. Ketika beliau mendengar tangisan Fathimah binti ‘Abdullah bin ‘Amr —ayah Jabir— beliau bersabda, “Mengapa engkau menangis? Sesungguhnya para malaikat terus menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga ia diangkat.” Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Engkau menangisinya atau tidak, para malaikat tetap menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya.”

Berkenaan dengan para syuhada Uhud, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabb-nya mendapat rezeki.” (QS Ali Imran: 169)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Roh-roh mereka berada dalam burung-burung hijau yang memiliki pelita-pelita dari emas yang tergantung di bawah ‘Arsy. Mereka bebas pergi ke Surga kapan saja mereka kehendaki, lalu kembali ke pelita-pelita tersebut.” Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kehidupan para syuhada adalah kehidupan yang hakiki, sebagaimana dijelaskan dalam hadis ini.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari Uhud, beliau mendengar tangisan para perempuan Anshar —dari Bani ‘Abdul Asyhal dan Zhafar— atas suami-suami mereka yang gugur sebagai syahid. Beliau pun bersabda, “Namun Hamzah tidak ada yang menangisinya.” Setelah bangun dari tidur, beliau mendengar tangisan dan ratapan atas Hamzah, maka pada hari itu beliau melarang ratapan atas kematian.

Baca sebelumnya: KETEGARAN PEREMPUAN MUSLIMAH DALAM MUSIBAH UHUD

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah