KISAH NABI YUSUF – DARI SUMUR KE MESIR

KISAH NABI YUSUF – DARI SUMUR KE MESIR

Yusuf kecil berada di dasar sumur yang gelap. Ia berharap seseorang menjulurkan tali kehidupan kepadanya agar terlepas dari kesempitan yang ditimpakan saudara-saudaranya kepadanya.

Kemudian kafilah-kafilah dagang dari Madyan di negeri Syam yang tengah dalam perjalanan menuju Mesir melintasi sumur itu. Mereka menyuruh seorang yang dipercaya untuk mengambil air dari dalam sumur dan memberikan air itu kepada mereka untuk diminum. Orang itu mengikat timba dengan tali panjang, lalu melemparkannya ke dalam sumur. Yusuf berpegangan pada talinya. Setelah timba diangkat dari sumur, orang itu melihat Yusuf dan berteriak senang, “Alangkah senangnya. Ia seorang anak belia!”

Ia berteriak senang kepada teman-temannya karena telah menemukan susuatu yang sangat berharga, yaitu seorang pemuda yang ketampanannya mengambil separuh ketampanan seluruh umat manusia.

Orang itu dan teman-temannya ingin merahasiakan penemuan Yusuf dari kafilah lain. Mereka menaruh Yusuf dalam bagian barang-barang yang mereka bawa.

Saudara-saudara Yusuf kembali ke sumur untuk memantau keberadaan Yusuf. Ketika melihat Yusuf bersama kafilah dagang, mereka langsung berkata, “Dia adalah budak yang melarikan diri dari kami.” Setelah itu mereka berbisik kepada Yusuf, “Kau harus mengaku budak, atau kami akan membunuhmu.”

Yusuf pun terpaksa mengaku budak.

Saudara-saudara Yusuf berkata kepada kafilah dagang, “Jika kalian ingin membeli budak ini, kami akan jual dia.”

Para kafilah dagang berkata, “Itu yang kami inginkan. Tetapi kami meminta jaminan dari kalian bahwa budak ini tidak akan melarikan diri lagi.”

Maka saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf kepada kafilah dagang dengan harga yang murah, hanya beberapa dirham. Mereka tidak tertarik kepada Yusuf. Yang penting bagi mereka adalah Yusuf jauh dari ayahnya dan lenyap dari pandangan mereka.

Kafilah dagang itu membawa Yusuf ke Mesir. Di sana mereka menurunkan barang-barang bawaannya, termasuk Yusuf yang mereka jadikan barang dagangan untuk diperjual-belikan. Barang dagangan memiliki kualitas yang berbeda-beda, dan Yusuf termasuk barang dagangan dengan kualitas yang sangat tinggi. Oleh karena itu, Yusuf ditawarkan kepada calon pembeli sebagai budak dengan harga tertinggi. Mendengar barang dagangan dengan kualitas yang sangat tinggi dan dengan harga tertinggi, al-Aziz (petinggi) Mesir datang untuk membelinya. Hanya al-Aziz dan kalangan atas saja yang mampu membeli barang dengan harga yang sangat tinggi.

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan ia pasti memiliki suara merdu dan tampang rupawan. al-Aziz membeli Yusuf dengan harga tinggi karena firasatnya mengatakan bahwa kelak Yusuf akan menjadi orang yang mulia.

Ulama mengatakan bahwa manusia yang paling tajam firasatnya ada tiga: al-Aziz Mesir ketika memilih Yusuf, anak perempuan orang saleh dari Madyan ketika memilih Musa, dan Abu Bakr ketika memilih Umar sebagai khalifah sepeninggalnya.

Yusuf dibawa ke kediaman al-Aziz. Di sana mereka disambut oleh istri al-Aziz. al-Aziz berkata kepada istrinya, “Perlakukanlah dia dengan baik! Berilah dia tempat tinggal yang baik bersama kita! Mudah-mudahan dia berguna bagi kita untuk melakukan sesuatu yang kita perlukan, atau kita bisa menjadikannya sebagai anak angkat.”

Yusuf tinggal di kediaman al-Aziz secara terhormat dan dimuliakan, tidak seperti di tempat yang dipilih oleh saudara-saudaranya untuknya, yaitu sumur.

Saudara-saudara Yusuf memang telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu menjauhkan Yusuf dari ayahnya dan melenyapkan adiknya itu dari pandangan mereka, namun Allah Ta’ala menjadikan peristiwa itu bagian dari rencana-Nya dengan berfirman, “Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir).”

Ya, rencana itu adalah kedudukan yang baik.

Yusuf memang seorang budak, tapi itulah rentang waktu bagi Yusuf untuk belajar berhitung, bercocok tanam, mengatur urusan rumah al-Aziz, dan bertemu banyak orang. Seandainya ia tetap berada di rumah Ya’qub, tentu ia tidak belajar semua itu. Allah menginginkan suatu hal untuk Yusuf. Untuk mewujudkannya, Allah mempergunakan saudara-saudara Yusuf, karena mereka adalah bagian dari perangkat takdir sesuai perintah Allah. Yusuf dipastikan akan menguasai Mesir. Di sana, ia akan menjadi seorang al-Aziz (petinggi), sekaligus seorang nabi dari kalangan orang-orang yang saleh.

Ketika Yusuf telah sampai pada usia dengan kekuatan fisik dan akal yang sempurna, Allah memberikan Yusuf hikmah dan ilmu. Allah menjadikan Yusuf seorang nabi dan rasul, seorang ulama yang rabani.

Demikianlah, Allah Ta’ala memberi balasan kepada orang yang berbuat baik dalam ibadahnya kepada al-Khalik dengan mengerahkan segenap kemampuan dan ketulusan saat mengerjakannya. Sedangkan bagi orang yang berbuat baik kepada sesama hamba, Allah Ta’ala memberi balasan dengan mencurahkan manfaat dan kebaikan kepada mereka. Di antara balasan Allah atas kebaikan hamba adalah Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang berguna. Ini menunjukkan bahwa Yusuf sudah mencapai tingkatan ihsan. Maka Allah mengaruniakan Yusuf hikmah dan ilmu yang banyak serta kenabian di antara manusia.

Baca sebelumnya: KISAH NABI YUSUF – MIMPI YUSUF DAN DIBUANG KE DALAM SUMUR

Baca sesudahnya: BERBUAT MESUM ATAU DIPENJARA?

(Dr Hamid Ahmad ath-Thahir)

Kisah