KISAH NABI YUSUF – MIMPI YUSUF DAN DIBUANG KE DALAM SUMUR

KISAH NABI YUSUF – MIMPI YUSUF DAN DIBUANG KE DALAM SUMUR

Ini adalah kisah seorang yang mulia, karena ia adalah anak dari seorang nabi, cucu dari seorang nabi, dan cicit dari seorang nabi. Dia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Ibrahim memiliki anak bernama Ishaq. Ishaq memiliki anak bernama Ya’qub. Ya’qub lahir di masa kakeknya masih hidup, sebagai perwujudan janji Allah kepadanya: “Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq, dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub.” (QS Hud: 71)

Dengan demikian, Ya’qub -dia adalah Israil- dididik oleh dua orang nabi, yaitu Ishaq, ayahnya dan Ibrahim, kakeknya. Sarah yang diberi kabar gembira dengan kelahiran Ya’qub juga turut mendidik Ya’qub. Mereka merawat Ya’qub hingga mereka wafat. Setelah itu nubuwah beralih kepada Ya’qub yang dikaruniai dua belas anak. Mereka disebut cucu-cucu nabi. Allah menjanjikan nubuwah kepada salah satu di antara anak-anak Ya’qub. Ya’qub berharap peristiwa itu terjadi di masa ia masih hidup. Harapan Ya’qub ternyata menjadi kenyataan, karena tanda-tanda nubuwah tampak pada si kecil Yusuf. Tanda-tanda itu sudah lama dilihat Ya’qub sebelum akhirnya muncul tanda-tanda nyata yang melenyapkan segala keraguan.

Pagi itu si kecil Yusuf bangun dari tidurnya dan menceritakan mimpi yang ia alami kepada ayahnya.

Yusuf berkata, “Wahai ayah, sesungguhnya aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Semuanya sujud kepadaku.” (QS Yusuf: 4)

Mimpi Yusuf yang aneh itu membuat Ya’qub gembira. Hanya saja ia tidak menafsirkan mimpi itu. Meski mimpi itu nyata bagi kita, tapi saat itu Ya’qub masih belum mengetahui dan memahaminya.

Mimpi itu merupakan mukjizat Yusuf  yang sejalan dengan ilmu yang dikenal pada masanya. Sejak saat itu Ya’qub yakin bahwa Yusuf memiliki kedudukan tersendiri di antara saudara-saudaranya.

Ya’qub mengetahui hasad terhadap Yusuf dan saudara seibunya, Bunyamin menghinggapi hati anak-anaknya yang lain yang tampak dari raut wajah mereka. Mereka mengira Yusuf dan Bunyamin memiliki kedudukan istimewa di hati ayah mereka yang tidak mereka miliki.

Ya’qub berkata kepada Yusuf, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu. (Aku khawatir) mereka akan melakukan tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (QS Yusuf: 5).

Kemudian Ya’qub menyampaikan kabar gembira kepada Yusuf dengan berkata, “Demikianlah, Rabb memilihmu (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkanmu sebagian takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Rabbmu Mahamengetahui, Mahabijaksana.” (QS Yusuf: 6)

Yusuf pun jadi tahu bahwa dirinya terpilih menjadi nabi.

Berita mimpi Yusuf akhirnya bocor kepada saudara-sudaranya. Api dengki menyala di dada mereka. Permusuhan dan kebencian kian meningkat, hingga tidak satu ruang pun di rumah Ya’qub yang tidak tersulut api permusuhan.

Sepuluh saudara Yusuf mengumbar amarah kepada si kecil Yusuf dan Bunyamin, dan Yusuf adalah sasaran utama amarah mereka.

Sepuluh saudara Yusuf berkumpul untuk menyusun rencana jahat. Mereka berencana membawa Yusuf ke tempat yang sangat jauh agar perhatian ayah mereka tercurah sepenuhnya kepada mereka.

Mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.” (QS Yusuf: 8)

Kekeliruan sang ayah menurut pandangan mereka adalah karena ia hanya perhatian kepada dua anak kecil (Yusuf dan Bunyamin), sementara mereka tidak diperhatikan.

Setan menemukan apa yang ia cari ketika mendekati mereka melalui pintu dengki, hingga akhirnya setan menjadi pengatur dan perencana bagi mereka. Sampai-sampai seseorang di antara mereka tanpa iba dan kasih sayang berkata, “Bunuhlah Yusuf!” (QS Yusuf: 9)

Seperti itulah luapan amarah dan dengki yang mempersulit hal yang mudah dan memperbesar hal yang kecil, hingga anak seorang nabi mengeluarkan perintah untuk membunuh, atau jalan keluar lain yang tidak berbeda jauh, “…atau buanglah dia ke suatu tempat!” (QS Yusuf: 9)

Membunuh atau membuang Yusuf sejauh mungkin memiliki kesamaan akibat, yaitu jiwa mereka menjadi lega dan puas.

Mereka berkata, “…agar perhatian ayah tertumpah kepada kalian, dan setelah itu kalian menjadi orang-orang yang baik.” (QS Yusuf: 9)

Dengki membuat mereka memutus silatutahmi, durhaka kepada orang tua, sewenang-wenang terhadap anak kecil, tidak menyayangi orang yang sudah tua renta, dan memisahkan ayah dari anaknya yang masih kecil sementara ayahnya sudah tua renta.

Jika pun Yusuf tidak mati di tangan saudara-saudaranya, ia pasti mati karena kelaparan, kehausan, dan terasing.

Salah seorang dari mereka merasa iba terhadap Yusuf. Ia berkata kepada saudaranya yang lain, “Janganlan kalian membunuh Yusuf. Masukkan saja dia ke dalam sumur agar dia dipungut oleh musafir, jika kalian hendak berbuat.” (QS Yusuf: 10)

Meski terbilang jahat, usulan itu tidak sekejam dua usulan sebelumnya. Mereka pun menyetujui usulan itu.

Kemudian mereka menemui ayah mereka, meminta izin untuk mengajak Yusuf kecil bermain dan bersenang-senang bersama mereka. Namun Ya’qub menolak. Ya’qub khawatir akan keselamatan Yusuf, meskipun saudara-saudara Yusuf berjanji untuk melindungi Yusuf dari binatang buas. Mereka kembali meminta izin, dan Ya’qub pun kembali menolaknya hinga mereka berkata, “Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak memercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.” (QS Yusuf:12)

Akhirnya Ya’qub memenuhi permintaan mereka sambil mengutarakan isi hatinya, “Sesungguhnya kepergian kalian bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku. Dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedangkan kalian lengah darinya.” (QS Yusuf:13)

Mereka berkata, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.” (QS Yusuf:14)

Mereka tidak iba terhadap ayahnya yang sudah tua. Mereka juga tidak iba terhadap Yusuf yang masih kecil dan lemah.

Keesokan paginya mereka membawa Yusuf keluar rumah dan menjauhkannya sejauh mungkin dari ayahnya dengan tujuan memasukkannya ke dalam sumur.

Sesampai di lokasi sumur mereka memasukkan Yusuf ke dalam sumur. Lalu Allah memberi ilham kepada Yusuf, “Pasti ada jalan keluar bagimu dari kesulitan yang engkau hadapi ini. Kelak engkau akan memberitahukan perbuatan ini kepada saudara-saudaramu (ketika engkau telah menjadi penguasa, saat mereka memerlukan bantuanmu dan takut kepadamu), sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS Yusuf: 15)

Allah melakukan hal itu agar pendirian Yusuf teguh sekaligus sebagai kabar gembira bagi Yusuf bahwa Allah akan memberinya jalan keluar dari kesulitan yang ia hadapi.

Setelah memasukkan Yusuf ke dalam sumur, mereka pulang meninggalkan Yusuf dengan membawa baju Yusuf yang telah dilumuri darah. Mereka pulang pada petang hari agar cahaya siang tidak membongkar aib mereka. Mereka sengaja pulang terlambat agar ayah mereka tidak dapat mencari Yusuf di kegelapan malam.

Setelah tiba di hadapan ayah mereka, sambil menangis mereka berkata, “Wahai ayah, sesungguhnya kami pergi berlomba. Kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami. Lalu dia dimakan serigala. Tentu engkau tidak percaya kepada kami sekalipun kami berkata benar.” (QS Yusuf: 17)

Mereka melaporkan seperti yang dikhawatirkan oleh sang ayah, yaitu Yusuf dimakan serigala. Mereka merasa bahwa apa pun yang mereka sembunyikan, kelak akan terbongkar juga. Oleh karena itu, mereka berkata, “Tentu engkau tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” Padahal mereka berkata tidak benar.

Mereka datang dengan membawa baju Yusuf yang berlumur darah. Darah itu adalah darah palsu, bukan darah Yusuf yang dimakan srigala. Mereka melakukan itu untuk mengelabui ayah mereka bahwa Yusuf benar-benar telah dimakan serigala. Tetapi pada baju Yusuf sama sekali tidak ditemukan bekas gigitan serigala, tidak ada satu pun sobekan. Inilah celah yang membuka lebar konspirasi mereka.

Saat tanda-tanda kecurigaan itu tampak, ayah mereka memahami apa yang sebenarnya telah mereka lakukan, karena sang ayah mengerti betul kedengkian dan permusuhan mereka terhadap Yusuf.

Ya’qub tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi musibah itu selain bersabar. Ia memiliki firasat bahwa Yusuf kelak menjadi nabi. Para nabi haram dimakan binatang buas atau bumi. Kebohongan keluar jelas dari mulut anak-anaknya sehingga Ya’qub menuding mereka telah melakukan kejahatan kepada Yusuf. Ia menyerahkan urusan ini kepada Allah sambil berkata, “Sebenarnya hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka, hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS Yusuf: 18)

Ya’qub lupa untuk memohon pertolongan kepada Allah dan berdoa agar Allah mengembalikan Yusuf. Mungkin sudah menjadi takdir Allah bahwa Ya’qub lupa tidak berdoa seperti itu. Tapi ia tidak lupa untuk bersabar tanpa keluh-kesah dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menghadapi perpisahan dengan Yusuf.

Baca sesudahnya: KISAH NABI YUSUF – DARI SUMUR KE MESIR

Baca juga: KISAH NABI LUTH

Baca juga: KISAH NABI SYU’AIB

(Dr Hamid Ahmad ath-Thahir)

Kisah