KASIH SAYANG KEPADA ANAK, SEBAB TURUNNYA RAHMAT ALLAH

KASIH SAYANG KEPADA ANAK, SEBAB TURUNNYA RAHMAT ALLAH

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, sementara di sisi beliau ada al-Aqra’ bin Habis. al-Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya dan bersabda,

مَنْ لَا يَرْحَمْ، لَا يُرْحَمْ

Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318)

PENJELASAN

Di antara hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, sementara di sisi beliau ada al-Aqra’ bin Habis.

al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah putra Fathimah, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, kakeknya dari pihak ibu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai al-Hasan dan al-Husain karena keduanya adalah cucu beliau. Beliau lebih mengutamakan al-Hasan daripada al-Husain, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang al-Hasan,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga Allah mendamaikan melalui dirinya dua kelompok besar dari kaum muslimin.” (Shahih al-Bukhari no. 2704)

Maka terjadilah sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika fitnah besar terjadi pada masa Mu’awiyah dan kekhalifahan berpindah kepada al-Hasan setelah wafat ayahnya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, al-Hasan radhiyallahu ‘anhu menyerahkan kekhalifahan itu kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan demi menjaga darah kaum muslimin. Ia mengetahui bahwa di tengah manusia terdapat orang-orang jahat, dan bahwa mereka mungkin akan datang kepadanya serta menghasutnya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap saudaranya, al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Penduduk Irak telah memperdaya al-Husain, sehingga terjadilah peristiwa pembantaian besar di Karbala dan al-Husain pun terbunuh.

Adapun al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, maka ia menyerahkan kekhalifahan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dengan demikian, terwujudlah apa yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semoga Allah mendamaikan melalui dirinya dua kelompok besar dari kaum muslimin.”

Peristiwa tersebut menjadi bukti kebenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah benar-benar mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui al-Hasan radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menyerahkan kekhalifahan kepada Mu’awiyah demi menjaga persatuan umat dan mencegah pertumpahan darah.

Di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu berada al-Aqra’ bin Habis, salah seorang pemimpin Bani Tamim. Biasanya penduduk badui dan orang-orang yang semisal mereka memiliki sifat keras dan kurang lembut.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium al-Hasan, al-Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.”

Kita berlindung kepada Allah dari hati yang keras, yang tidak mau mencium anak-anaknya meskipun mereka masih kecil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepadanya lalu bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

Maksudnya, orang yang tidak menyayangi hamba-hamba Allah, maka Allah tidak akan menyayanginya.

Dari hadis ini dipahami pula bahwa barang siapa menyayangi hamba-hamba Allah, maka Allah akan menyayanginya. Memang demikian adanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh ar-Rahman.” (Shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 1924, Abu Dawud no. 4941, Ahmad no. 6494, dan lainnya)

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa seseorang hendaklah menampakkan kasih sayang dalam berinteraksi dengan anak-anak kecil dan yang semisal mereka. Juga terdapat anjuran agar seseorang mencium anak-anaknya, anak-anak perempuannya, serta cucu-cucunya dari anak laki-laki maupun anak perempuan, sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka dan sebagai teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun apa yang dilakukan sebagian orang berupa sikap keras dan kasar terhadap anak-anak, maka engkau dapati ia tidak mengizinkan anaknya hadir di majelisnya, tidak mengizinkan anaknya meminta sesuatu kepadanya, dan apabila melihat anaknya berada di tengah orang-orang dewasa, ia membentaknya dan menghardiknya. Sikap seperti ini bertentangan dengan sunah dan bertentangan dengan kasih sayang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami manusia dalam salah satu dari dua shalat pada waktu siang, yaitu salat Zhuhur atau Ashar. Lalu datang putri dari putri beliau, yaitu Umamah.

Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendongnya sementara beliau sedang mengimami manusia dalam shalat. Jika beliau berdiri, beliau menggendongnya, dan apabila beliau sujud, beliau meletakkannya.

Di manakah akhlak seperti ini dibandingkan dengan akhlak kita pada hari ini?

Sekarang, jika seseorang melihat anak kecilnya berada di masjid, ia akan mengeluarkannya. Apalagi jika harus menggendongnya ketika sedang shalat.

Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sujud. Lalu datang al-Hasan atau al-Husain, kemudian menaiki punggung beliau, seolah-olah menjadikan beliau sebagai tunggangan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang sujudnya. Setelah selesai shalat dan mengucapkan salam, beliau bersabda,

إِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَقُومَ حَتَّى يَقْضِيَ نَهْمَتَهُ

Sesungguhnya anakku ini telah menjadikanku sebagai tunggangannya, dan aku tidak suka bangkit sebelum ia menyelesaikan keinginannya.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad 3/493, an-Nasa-i no. 1141, dan Ibnu Syaibah 6/739)

Ini menunjukkan besarnya kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak serta kelembutan beliau terhadap mereka.

Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah di atas mimbar. Tiba-tiba al-Hasan dan al-Husain datang mengenakan dua pakaian baru, namun keduanya tersandung-sandung karena pakaian tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu menggendong keduanya di hadapan beliau dan bersabda,

صَدَقَ اللَّهُ: إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

Benarlah Allah dalam firman-Nya: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan.’” (QS at-Taghabun: 15)

Kemudian beliau bersabda,

نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ

Aku melihat kedua anak kecil ini tersandung-sandung, maka aku tidak dapat menahan diriku.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 1456, Ibnu Hibban no. 6038 dan 6039, at-Tirmidzi no. 3774, Ahmad 5/354, dan selainnya)

Maksudnya, hati beliau tidak merasa tenang hingga beliau turun dari mimbar dan menggendong keduanya.

Dalam semua kisah ini dan yang semisalnya terdapat dalil bahwa seseorang hendaklah menyayangi anak-anak kecil, bersikap lembut kepada mereka, dan bahwa hal tersebut merupakan sebab datangnya rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Kita memohon kepada Allah agar Dia melimpahkan rahmat-Nya, kelembutan-Nya, dan kebaikan-Nya kepada kami dan kepada kalian semua.

Baca juga: TEROBSESI DALAM KEBAIKAN

Baca juga: KEZALIMAN DAN JENIS-JENISNYA

Baca juga: BESARNYA HAK KEDUA ORANG TUA

Baca juga: TIDAK DISAYANG ALLAH ORANG YANG TIDAK SAYANG

Baca juga: MENDIDIK ANAK AGAR MENJAUHI PERBUATAN HARAM

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin