SEBAGIAN KARAMAH PARA SAHABAT, PENGIKUT PARA RASUL, RADHIYALLAHU ‘ANHUM

SEBAGIAN KARAMAH PARA SAHABAT, PENGIKUT PARA RASUL, RADHIYALLAHU ‘ANHUM

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelita yang menerangi. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya.

Sesungguhnya perkara yang menyelisihi kebiasaan, apabila terjadi melalui tangan para pengikut rasul, disebut karamah. Meskipun demikian, karamah tidaklah mereka peroleh kecuali dengan berkah mengikuti para rasul, mengamalkan syariat Allah, dan menaati-Nya. Maka, mereka memperoleh pertolongan dan karamah yang dengannya mata mereka menjadi sejuk, hati mereka menjadi tenteram, dan keimanan mereka semakin bertambah di atas keimanan mereka.

Sebagian sahabat dan tabi’in telah memperoleh berbagai karamah yang riwayat tentangnya telah sahih dan masyhur di kalangan para ulama. Kami akan menyebutkan kepadamu sebagian darinya:

Di antara karamah adalah apa yang terjadi pada Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu ketika para malaikat turun karena bacaannya terhadap Surah al-Kahfi.

Dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata: Seorang laki-laki membaca Surah al-Kahfi, sementara di dalam rumah terdapat seekor hewan tunggangan. Hewan itu kemudian mulai meronta. Ia pun melihat, ternyata kabut atau awan menaunginya. Ia berkata: Kemudian ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

اقْرَأْ فُلَانُ، فَإِنَّهَا السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ عِنْدَ الْقُرْآنِ، أَوْ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Bacalah, wahai Fulan, karena sesungguhnya itu adalah sakinah yang turun ketika al-Qur’an dibaca, atau turun karena al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3614 dan Muslim no. 795)

Di antara karamah adalah cahaya yang Allah berikan kepada Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr ketika keduanya keluar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam yang gelap.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa dua orang laki-laki keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam yang gelap. Tiba-tiba cahaya muncul di hadapan keduanya hingga ketika keduanya berpisah, cahaya itu pun berpisah bersama keduanya.”

Dalam riwayat lain, dari Anas radhiyallahu ‘anhu: “Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3805)

Di antara karamah adalah apa yang terjadi pada Khubaib bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu ketika ia menjadi tawanan di Makkah. Hal itu terjadi ketika ia radhiyallahu ‘anhu ditawan dan dibawa sebagai tawanan ke Makkah, lalu ditahan di tempat Bani al-Harits bin ‘Amir karena ia telah membunuh ayah mereka, al-Harits.

Putri al-Harits bin ‘Amr bin Naufal berkata mengenai keadaannya ketika menjadi tawanan, “Demi Allah, sungguh pada suatu hari aku mendapatinya sedang memakan setangkai buah anggur yang berada di tangannya, padahal ia benar-benar sedang dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah tidak ada buah-buahan.”

Ia biasa berkata, “Sesungguhnya itu benar-benar rezeki dari Allah yang Dia rezekikan kepada Khubaib.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3054)

Di antara karamah adalah bahwa ‘Amir bin Fuhairah radhiyallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid. Mereka mencari jasadnya, tetapi tidak berhasil menemukannya. Ketika ia terbunuh, jasadnya diangkat dan ‘Amir bin ath-Thufail melihatnya dalam keadaan telah diangkat. ‘Urwah berkata, “Mereka berpendapat bahwa para malaikatlah yang menguburkannya.”

al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya, ia berkata: Hisyam bin ‘Urwah berkata, “Ketika orang-orang yang berada di Bi’r Ma’unah terbunuh dan ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri ditawan, ‘Amir bin ath-Thufail berkata kepadanya, ‘Siapakah ini?’ Ia menunjuk kepada seorang yang terbunuh. ‘Amr bin Umayyah menjawab, ‘Ini adalah ‘Amir bin Fuhairah.’ Ia berkata, ‘Sungguh, aku melihatnya setelah ia terbunuh, diangkat ke langit, hingga sungguh aku melihat ke langit di antara dirinya dan bumi, kemudian ia diletakkan kembali….’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4093)

Di antara karamah adalah kisah para tamu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan keberkahan yang terjadi pada makanan, sehingga makanan tersebut tidak berkurang sedikit pun.

‘Abdurrahman bin Abu Bakar berkata dalam kisah para tamu tersebut,  “Demi Allah, setiap kali kami mengambil satu suapan darinya, makanan itu tumbuh dari bagian bawahnya lebih banyak daripada yang diambil.” Ia berkata, “Yakni, hingga mereka kenyang, dan makanan itu menjadi lebih banyak daripada sebelumnya. Kemudian Abu Bakar melihat makanan tersebut, ternyata jumlahnya tetap seperti semula atau bahkan lebih banyak. Lalu ia berkata kepada istrinya, ‘Wahai saudari Bani Firas, apakah ini?’ Istrinya menjawab, ‘Tidak, demi penyejuk mataku, sungguh sekarang makanan itu tiga kali lebih banyak daripada sebelumnya.’ Kemudian Abu Bakar memakan sebagian darinya.”

Kemudian ia berkata, “Kemudian Abu Bakar membawa makanan tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR al-Bukhari no. 602 dan Muslim no. 2057)

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabat beliau. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Baca juga: KARAMAH PARA WALI

Baca juga: BEBERAPA KEUTAMAAN PARA SAHABAT NABI

Baca juga: AMAL SALEH DAN SYARAT DITERIMANYA AMAL

Baca juga: KISAH KARAMAH SUAMI ISTRI YANG KELAPARAN

Baca juga: AHLI SUNAH WALJAMAAH MEMBENARKAN KARAMAH PARA WALI

(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

Akidah