KARAMAH PARA WALI

KARAMAH PARA WALI

Karamah adalah kejadian luar biasa yang tidak diikuti dengan pengakuan kenabian dan tidak pula mukadimahnya. Allah Ta’ala menampakkan karamah atas sebagian hamba-Nya yang saleh dari golongan orang-orang yang berpegang teguh dengan hukum syari’at Islam sebagai bentuk kemuliaan bagi mereka dari Allah Ta’ala. Jika tidak diikuti dengan iman yang benar dan amal saleh, maka kejadian luar biasa itu bukan karamah, melainkan istidraj.

Karamah pernah terjadi pada umat-umat terdahulu, seperti yang disebut dalam surat al-Kahfi. Karamah terjadi pula pada generasi awal umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan sahabat dan tabiin, seperti yang terjadi pada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dimana ia berkata, “Wahai, Sariyyah, berlindunglah di gunung!”

Dalam kitab-kitab sunan yang sahih dan atsaratsar disebutkan kisah-kisah tentang karamah. Allah Ta’ala menghormati hamba-hamba-Nya yang saleh dan yang mengamalkan al-Qur’an dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah tersebut juga diriwayatkan oleh ribuan ulama dan lainnya yang bersumber dari orang-orang terpercaya lagi menyaksikannya. Kisah itu sampai kepada kita dengan jalan mutawatir dan masih tetap ada pada umat ini, tergantung pada kehendak Allah Ta’ala.

Karamah para wali pada hakikatnya merupakan bagian dari mukjizat para Nabi. Sebab, karamah tidak akan terjadi kepada siapa pun, kecuali karena mengikuti Nabi-Nya dan berjalan di atas petunjuk agama dan syari’at-Nya. Karamah termasuk kejadian yang dapat diterima akal. Kadang-kadang pengetahuan yang luas yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman merupakan hal yang lebih afdal dan lebih agung daripada kejadian luar biasa yang bersifat material yang dapat kita dengar atau kita baca.

Termasuk karamah yang disepakati oleh salafush shalih adalah istikamah (konsisten untuk senantiasa berpegang teguh) di atas panji al-Qur’an dan as-Sunnah, taat dan rida dengan hukum yang terkandung di dalamnya, dan keserasian antara ilmu dan amal.

Sebagian kaum muslimin tidak memperoleh karamah, namun hal itu tidak menunjukkan kelemahan iman mereka.

Karamah terjadi antara lain untuk menguatkan iman seseorang. Oleh karena itu, karamah tidak banyak terjadi di kalangan para sahabat. Sebab, mereka adalah orang-orang yang kuat imannya dan sempurna keyakinannya.

Karamah juga terjadi sebagai iqamatul hujjah terhadap musuh. Karamah tidak terikat dari segi logika semata, melainkan juga dari segi kaidah syar’i.

Syarat-syarat Karamah

Syarat-syarat karamah antara lain:

1️⃣ Tidak diharamkan menurut hukum syar’i maupun kaidah agama,

2️⃣ Terjadi pada orang yang masih hidup,

3️⃣ Terjadi karena keperluan.

Jika salah satu syarat tersebut tidak ada, berarti itu bukan karamah, melainkan khayalan/imajinasi belaka atau ilusi atau bahkan pemberian dari setan.

Karamah tidak ada sangkut pautnya dengan hukum syar’i, demikian pula hukum syar’i tidak akan lenyap karena karamah. Sebab, hukum syar’i mempunyai referensi yang makruf, baik dari al-Qur’an, sunah Rasul-Nya, maupun ijmak.

Jika Allah Ta’ala menganugerahkan karamah kepada seorang muslim, hendaklah ia bersyukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah dan nikmat itu. Selain itu, hendaklah ia memohon ketetapan kepada Allah serta tidak menjadikannya sebagai fitnah jika hal itu merupakan cobaan dan ujian. Hendaklah pula ia merahasiakan karamah dari manusia dan tidak menjadikannya sebagai sarana untuk membanggakan diri dan sombong, karena membanggakan diri dan sombong dapat mendatangkan malapetaka. Banyak manusia merugi dunia dan akhirat ketika setan memperdaya mereka dari jalan ini. Akibatnya amal tersebut menjadi bencana bagi mereka.

Kriteria Orang yang Diberi Karamah

Para wali Allah mempunyai beberapa kriteria yang telah disebutkan dalam Kitab-Nya di beberapa ayat dan yang telah terkumpul dalam surat al-Furqan ayat 63-74. Kriteria itu juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada beberapa hadis.

Di antara kriteria tersebut adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, serta takdir baik dan buruk.

Kriteria lainnya adalah takwa, yaitu takut kepada Allah Ta’ala, mengamalkan sunah Nabi-Nya, menyiapkan diri untuk hari pertemuan dengan Allah, serta mencintai dan membenci karena Allah.

Melihat mereka akan mengingatkan kita kepada Allah Ta’ala. Mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Jika disapa orang jahil, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Di malam hari mereka bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Mereka juga selalu berdoa, “Wahai Rabb kami, jauhkan kami dari azab Jahanam.” Mereka membelanjakan hartanya secara tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Mereka tidak menyembah selain Allah Ta’ala, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar. Mereka tidak berzina dan tidak memberikan persaksian palsu. Jika bertemu dengan orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, mereka melaluinya saja sambil menjaga kehormatan dirinya. Jika diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb-nya, mereka tidak menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta. Doa yang mereka panjatkan adalah, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,” … serta kriteria lain yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Baca juga: AHLI SUNAH WALJAMAAH MEMBENARKAN KARAMAH PARA WALI

Baca juga: KISAH KARAMAH SUAMI ISTRI YANG KELAPARAN

Baca juga: AGUNGNYA FISIK MALAIKAT

(‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsari)

Akidah