Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ، وَلْيَنْتَهِ
“Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga akhirnya ia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Maka apabila waswas itu telah sampai kepadanya, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dan berhenti (dari memikirkannya).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134/214)
Dalam lafaz lain,
فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
“Hendaklah ia mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.’”
Dalam lafaz lain,
لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: مَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟
“Manusia akan terus saling bertanya hingga mereka berkata, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’”
PENJELASAN
Hadis ini mengandung penjelasan bahwa setan pasti akan melontarkan kerancuan yang batil ini, baik berupa bisikan murni dari setan maupun melalui lisan setan-setan dari kalangan manusia dan orang-orang yang menyimpang kepada ilhad (atheisme/kesesatan).
Apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah terjadi. Kedua hal tersebut terus berlangsung. Setan senantiasa menanamkan pertanyaan batil ini ke dalam hati orang-orang yang tidak memiliki bashirah (ilmu dan pemahaman yang benar). Demikian pula para penganut ilhad terus menyebarkan syubhat ini, padahal ia merupakan syubhat yang paling batil. Mereka berbicara tentang sebab-sebab dan materi ilmu dengan ucapan yang lemah dan telah dikenal kebatilannya.
Dalam hadis yang agung ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing cara menolak pertanyaan tersebut dengan tiga perkara: berhenti dari melanjutkan pemikiran tersebut, memohon perlindungan kepada Allah dari setan, dan menguatkan iman.
1. Berhenti
Adapun berhenti, yaitu perkara pertama, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan batas bagi pikiran dan akal yang harus berhenti padanya dan tidak boleh melampauinya. Mustahil bagi akal untuk dapat melampaui batas tersebut meskipun ia berusaha melakukannya. Karena hal itu merupakan sesuatu yang mustahil, berusaha mencapai sesuatu yang mustahil termasuk kebatilan dan kebodohan. Di antara kemustahilan yang paling mustahil adalah adanya rangkaian sebab dan pelaku yang tidak berujung.
Sesungguhnya makhluk-makhluk memiliki permulaan dan memiliki akhir. Berbagai perkara yang berkaitan dengan mereka dapat saling berhubungan dan berurutan hingga akhirnya berujung kepada Allah, yang menciptakan mereka serta menciptakan berbagai sifat, materi, dan unsur yang ada pada mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى
“Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS an-Najm: 43)
Apabila akal telah sampai kepada Allah Ta’ala, maka ia harus berhenti dan berakhir di sana, karena Dia adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Yang Akhir yang tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya.
Keawalan Allah Ta’ala tidak memiliki permulaan, betapapun dibayangkan adanya berbagai zaman dan keadaan. Dia menciptakan zaman, keadaan, dan akal yang merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki manusia. Maka bagaimana mungkin akal berusaha mempertahankan pertanyaan batil ini dan terus bergantung kepadanya? Karena itu, kewajiban yang pasti dalam keadaan seperti ini adalah berhenti dan tidak melanjutkannya.
2. Memohon perlindungan kepada Allah dari setan
Perkara kedua adalah memohon perlindungan kepada Allah dari setan. Sebab, pertanyaan tersebut termasuk bisikan dan godaan setan yang ia tanamkan ke dalam hati manusia agar mereka ragu terhadap keimanan kepada Rabb mereka. Maka apabila seorang hamba mendapati hal tersebut pada dirinya, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah darinya. Barang siapa memohon perlindungan kepada Allah dengan kejujuran dan kekuatan hati, niscaya Allah akan melindunginya, mengusir setan darinya, dan lenyaplah bisikan-bisikan batil tersebut.
3. Menolak dengan sesuatu yang bertentangan dengannya
Perkara ketiga adalah menolak syubhat tersebut dengan sesuatu yang bertentangan dengannya, yaitu iman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah dan rasul-rasul-Nya telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dia Mahatunggal dalam keesaan-Nya, serta Mahatunggal dalam menciptakan dan mengadakan seluruh makhluk, baik yang terdahulu maupun yang kemudian. Keimanan yang benar, jujur, dan penuh keyakinan ini akan menolak seluruh syubhat yang bertentangan dengannya, karena kebenaran akan menolak kebatilan. Keraguan tidak dapat menandingi keyakinan.
Tiga perkara yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini akan membatalkan syubhat-syubhat yang terus diucapkan oleh orang-orang yang menyimpang kepada ilhad, yang mereka sebarkan dengan berbagai ungkapan dan bentuk yang beragam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berhenti dari pemikiran tersebut, yang dengan itu rangkaian anggapan batil yang tidak berujung dapat diputus. Beliau juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang menanamkan syubhat tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk berpegang kepada iman yang benar, yang dapat menolak segala kebatilan yang bertentangan dengannya.
Segala puji bagi Allah, karena dengan berhenti dari pemikiran tersebut, keburukan dapat diputus secara langsung; dengan memohon perlindungan kepada Allah, sebab yang mendorong kepada keburukan dapat diputus; dan dengan iman, seseorang berlindung serta berpegang teguh kepada keyakinan yang benar dan pasti, yang mampu menolak setiap hal yang menentangnya.
Tiga perkara ini merupakan himpunan sebab-sebab yang dapat menolak setiap syubhat yang bertentangan dengan iman. Oleh karena itu, hendaklah seseorang memberikan perhatian besar terhadapnya dalam menghadapi setiap syubhat dan kerancuan yang menimpa keimanannya. Ia harus segera menolaknya dengan dalil-dalil yang menunjukkan kebatilannya, serta dengan menetapkan lawannya, yaitu kebenaran yang setelahnya tidak ada lagi selain kesesatan.
Ia juga harus memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang menanamkan fitnah syubhat dan fitnah syahwat ke dalam hati manusia, agar ia dapat mengguncang keimanan mereka dan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai jenis kemaksiatan. Dengan kesabaran dan keyakinan, seorang hamba akan memperoleh keselamatan dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat.
Allah-lah Yang memberi taufik dan menjaga.
Baca juga: PIKIRAN KACAU KETIKA SALAT
Baca juga: MIMPI ORANG BERIMAN
Baca juga: MENGUAP BERASAL DARI SETAN
Baca juga: SUNAH BERHENTI MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA RASA KANTUK MENGUASAI
Baca juga: KAIDAH HALAL, HARAM, DAN SYUBHAT SERTA PERAN HATI DALAM MENJAGA AGAMA
(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

