MENOLAK KERAGUAN AKAN IMAN

MENOLAK KERAGUAN AKAN IMAN

Setan selalu membisikkan pertanyaan kepada manusia yang tidak memiliki ilmu agama, “Siapakah yang menciptakan Rabbmu?” agar ia ragu akan Islam. Bagaimana cara menolak pertanyaan batil dari setan tersebut?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

Setan mendatangi salah seorang dari kalian dan berkata, ‘Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan ini?’ Hingga ia berkata, ‘Siapakah yang menciptakan Rabbmu?’ Apabila telah sampai kepada pertanyaan ini, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dan menyudahinya.”

Dalam lafaz lain,

فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

Hendaklah ia mengucapkan,Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.” (Muttafaq ‘alalhi)

Dalam lafaz lain,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُونَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga mereka berkata, ‘Siapakah yang menciptakan Allah?’

PENJELASAN

Hadis ini menjelaskan bahwa setan senantiasa membisikkan pertanyaan batil, “Siapakah yang menciptakan Rabbmu?” ke dalam hati manusia, baik bisikan itu murni dari setan sendiri atau melalui lisan setan-setan manusia. Setan membisikkan pertanyaan batil ini kepada manusia yang tidak memiliki ilmu agama agar dia ragu akan Islam.

Bukan cuma setan, para penentang agama pun demikian. Mereka melemparkan syubhat (keragu-raguan) yang paling batil ini dengan membahas sebab-sebab dan materi-materi alam melalui pembicaraan yang tidak berbobot, seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Dalam hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita cara menolak pertanyaan batil itu, yaitu (1) segera menyudahinya, (2) berlindung kepada Allah dari setan, dan (3) dilawan dengan iman.

1. Segera menyudahinya

Cara pertama adalah menyudahinya. Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan akal dan pikiran manusia berbatas sehingga pikirannya dapat berhenti dan tidak mampu melampaui batas ini. Walaupun manusia berusaha melakukannya, akal tidak mungkin melampaui batas ini karena hal itu memang tidak masuk akal. Selain itu, usaha untuk mengetahui sesuatu yang mustahil merupakan kebatilan dan kebodohan.

Di antara yang paling mustahil adalah memikirkan rangkaian tak terputus dari seluruh peristiwa dan pelakunya. Sungguh setiap mahluk memiliki permulaan dan akhir. Kebanyakan urusannya memiliki rangkaian peristiwa yang panjang hingga sampai kepada Allah Ta’ala, Zat yang menciptakannya dan menciptakan pula materi beserta sifat-sifatnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى

Dan sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS an-Najm: 43)

Jika akal sudah sampai ke titik yang memikirkan Zat Allah, maka ia wajib menyudahi dan meninggalkannya, sebab Allah-lah yang permulaan yang tak ada sesuatu pun sebelumnya, dan Allah-lah yang akhir yang tak ada sesuatu pun sesudahnya. Awal bagi Allah adalah tidak ada permulaan bagi-Nya, meskipun dipaksakan oleh zaman atau keadaan apa pun, sebab Dia-lah yang menciptakan zaman, keadaan, dan akal manusia. Dan akal merupakan salah satu kekuatan manusia. Lalu bagaimana mungkin akal nekat dan bersikeras menuruti dan menjawab pertanyaan setan yang batil itu? Sungguh, yang wajib dilakukan oleh manusia jika dia mengalami keadaan ini adalah segera menyudahinya dan meninggalkannya.

2. Berlindung kepada Allah dari setan

Cara kedua adalah berlindung kepada Allah dari setan, sebab pikiran batil ini merupakan bisikan setan yang dibisikkan ke dalam hati manusia. Setan membisikannya agar manusia ragu dan tidak beriman kepada Rabbnya. Oleh karena itu, setiap orang wajib berlindung kepada Allah Ta’ala dari setan jika ia mendapati pikiran batil ini. Barangsiapa berlindung kepada Allah Ta’ala dengan tulus dan sungguh-sungguh, maka Allah Ta’ala akan melindunginya dan mengusir setan darinya, sehingga hilanglah pikiran batil ini.

3. Dilawan dengan iman

Cara ketiga untuk menolak pikiran yang meragukan ini adalah dilawan dengan kebalikannya, yaitu keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengabarkan bahwa Dia-lah yang awal yang tidak ada sesuatu pun sebelumnya, Dia menyendiri dalam keesaan-Nya, esa dalam menciptakan dan mengadakan makhluk, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, dari tidak ada menjadi ada di muka bumi ini.

Iman yang benar, jujur dan penuh keyakinan mampu menolak semua lawannya yang berupa syubhat-syubhat. Kebenaran mampu menolak kebatilan, dan keraguan tidak mampu melawan keyakinan.

Ketiga cara yang diajarkan Nabi ini juga mampu menolak syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para penentang agama. Mereka menyampaikan dengan beragam ungkapan. Nabi menyuruh kita berhenti karena dengan berhenti kita dapat memutus rangkaian pertanyaan itu. Beliau menyuruh kita berlindung dari setan karena setanlah yang membisikkan syubhat itu ke dalam hati kita. Dengan memohon perlindungan, setan akan terusir. Kita diperintahkan menggunakan keimanan yang benar agar segala kebatilan yang bertentangan dengan iman tertolak.

Alhamdulillah. Dengan ‘berhenti’, keburukan langsung terputus. Dengan berlindung, sebab yang mendatangkan keburukan tertebas. Dengan iman yang kuat, akidah yang benar dan keyakinan yang tinggi, segala perkara yang menentang akidah terpental.

Ketiga cara ini merupakan sumber semua sebab yang mampu menolak semua syubhat yang bertentangan dengan keimanan. Oleh karena itu, kita harus memperhatikannya setiap kali syubhat mengusik keimanan. Setiap hamba harus langsung menolak syubhat-syubhat dengan menggunakan argumen yang menunjukkan kebatilan syubhat itu, lalu menetapkan lawannya, yaitu kebenaran yang tidak ada setelahnya selain kesesatan. Juga dengan berlindung kepada Allah Ta’ala dari setan yang selalu memasukkan fitnah syubhat dan fitnah syahwat ke dalam hati manusia agar keimanan goyah dan manusia terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan. Hanya dengan kesabaran dan keyakinan seorang hamba meraih keselamatan dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Hanya Allah-lah pemberi taufik dan pemelihara.

Baca juga: PIKIRAN KACAU KETIKA SALAT

Baca juga: MIMPI ORANG BERIMAN

Baca juga: MENGUAP BERASAL DARI SETAN

(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Akidah