KISAH NABI YUSUF – KEMBALI KE MESIR

KISAH NABI YUSUF – KEMBALI KE MESIR

Setahun setelah kedatangan saudara-saudara Yusuf ke Mesir untuk mengambil jatah makanan, mereka kembali ke Mesir untuk mengambil jatah makanan tahun ini. Kali ini mereka disertai Bunyamin.

Sebelum anak-anaknya berangkat, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam berpesan, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang secara bersamaan. Masuklah kalian dari pintu-pintu gerbang yang berbeda. Meskipun begitu, aku tidak dapat melepaskan kalian sedikit pun dari takdir Allah. Keputusan menetapkan sesuatu adalah hak Allah. Kepada-Nya-lah aku bertawakal, dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS Yusuf: 67)

Nabi Ya’qub khawatir jika mereka masuk Mesir secara bersamaan dari satu pintu gerbang, orang-orang yang mengidap penyakit ‘ain akan hasad kepada mereka karena jumlah mereka yang banyak dan ketampanan mereka yang berasal dari keturunan satu orang saja. Jika mereka masuk dari pintu-pintu yang berbeda, tentu kehadiran mereka tidak menarik perhatian orang-orang. Namun demikian, pesan tersebut tidak akan melepaskan mereka sedikit pun dari takdir Allah Ta’ala. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanya hak Allah. Keputusan itu adalah keputusan-Nya dan perintah itu adalah perintah-Nya. Apa pun yang telah diputuskan dan ditetapkan Allah pasti terjadi. Oleh karena itu, Nabi Ya’qub menggantungkan dirinya kepada Allah Ta’ala, tidak bertumpu pada sebab pesan dirinya kepada anak-anaknya. Dia bertawakal kepada Allah, karena dengan tawakal, sasaran-sasaran yang baik akan terwujud, dan kejadian-kejadian yang menakutkan akan menyingkir.

Ketika mereka memasuki pintu-pintu yang berbeda, sebagaimana yang diperintahkan oleh ayah mereka, hal itu tidak menolak ketetapan Allah Ta’ala kepada mereka. Apa yang dipesankan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya tidak lebih dari bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya agar mereka tidak terkena serangan ‘ain. Pesan itu bukan karena kedangkalan ilmu Nabi Ya’qub, sebab Nabi Ya’qub adalah seorang rasul yang mulia, dan seorang alim yang rabbani. Allah Ta’ala berbicara tentang Nabi Ya’qub, “Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan.” Maksudnya, dia benar-benar memiliki ilmu yang agung yang telah Allah Ta’ala ajarkan kepadanya, bukan atas daya dan kekuatan sendiri.

Setibanya di Mesir, saudara-saudara Yuauf segera menemui Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Mereka tidak lupa membawa Bunyamin.

Nabi Yusuf mengajak saudara kandungnya, Bunyamin berbicara secara khusus tanpa didampingi saudara-saudaranya. Saat itulah Nabi Yusuf berkata kepada Bunyamin, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu. Janganlah engkau berduka-cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Yusuf: 69)

Nabi Yusuf menjelaskan semua kejadian yang dia alami. Namun Nabi Yusuf meminta agar Bunyamin merahasiakan semua itu kepada saudara-saudaranya untuk sementara waktu.

Nabi Yusuf mencari siasat agar Bunyamin tetap bertahan di Mesir dan tidak pulang bersama saudara-saudaranya.

Ketika Nabi Yusuf memerintahkan para pegawainya untuk menaikkan bahan makanan ke atas unta-unta milik saudara-saudaranya, dia menaruh penakar milik kerajaan yang biasa digunakan untuk menakar bahan makanan ke dalam kantong makanan milik Bunyamin tanpa sepengetahuan mereka.

Ketika saudara-saudara Yusuf beranjak pulang, seseorang berteriak dari belakang mereka, “Wahai para pemilik unta yang mengangkut bahan makanan, kalian telah mencuri!”

Saudara-saurada Yusuf kaget dituduh mencuri. Mereka mendatangi orang yang berteriak dan orang-orang yang bersamanya.

“Apa yang hilang dari kalian sehingga kalian menuduh kami mencuri?” tanya saudara-saudara Yusuf.

“Kami kehilangan penakar milik kerajaan yang biasa digunakan untuk menakar bahan makanan. Barangsiapa menyerahkan penakar milik kerajaan itu sebelum kami melakukan pemeriksaan, ia akan mendapatkan imbalan berupa bahan makanan sebanyak satu muatan seekor unta. Aku jamin ia akan mendapatkannya,” jawab mereka.

Saudara-saudara Yusuf berkata, “Demi Allah, kalian tahu bahwa kami semua bersih dari tuduhan mencuri dan kami tidak bersalah. Kalian dapat melihatnya dari penampilan kami. Kami datang ke Mesir bukan untuk membuat kerusakan di negeri ini. Sepanjang hidup kami kami tidak pernah mencuri.”

Mereka bertanya, “Apa balasan yang akan diterima seorang pencuri menurut hukum kalian jika ternyata kalian berdusta tentang pengakuan kalian bahwa kalian tidak mencuri?”

“Hukuman bagi pencuri menurut hukum kami adalah barangsiapa ditemukan barang curian di wadahnya, ia harus diserahkan kepada pemilik barang untuk dijadikan budaknya. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang yang zalim,” jawab saudara-saudara Yusuf.

Demikianlah Allah Ta’ala mengatur kejadian sedemikian rupa. Kalaulah saudara-saudara Yusuf tidak mengatakan demikian, tentu Nabi Yusuf tidak dapat menahan adiknya berdasarkan undang-undang kerajaan Mesir saat itu.

Mereka membawa saudara-saudara Yusuf kepada Nabi Yusuf untuk dilakukan pemeriksaan. Nabi Yusuf mulai memeriksa kantong makanan milik saudara tertua, dilanjutkan kantong makanan milik saudaranya yang lain hingga terakhir kantong makanan milik saudara kandungnya, Bunyamin. Nabi Yusuf menemukan penakar milik kerajaan berada di kantong makanan milik Bunyamin, lalu mengeluarkannya.

Mengetahui Bunyamin mencuri, saudara-saudara Yusuf berkata, “Tidaklah mengherankan apabila ia mencuri, karena sebelumnya saudara kandungnya (maksudnya Yusuf) pernah mencuri.”

Mendengar ucapan saudara-saudaranya Yusuf pun sedih. Ia menyembunyikan kesedihan itu dan tidak memperlihatkannya kepada mereka. Dalam hati ia berkata, “Kedengkian dan kelakuan buruk yang dulu pernah kalian lakukan persis seperti kejahatan yang sedang kalian lakukan saat ini. Allah Ta’ala Mahamengetahui fitnah yang keluar dari mulut kalian.”

Saudara-saudara Yusuf mengingat pesan sang ayah kepada mereka untuk menjaga Bunyamin. Mereka berkata kepada Yusuf, “Wahai al-Aziz, sesungguhnya dia mempunyai ayah yang sudah tua renta yang sangat mencintainya. Ambillah salah seorang dari kami sebagai penggantinya. Sesungguhnya kami melihat engkau seorang yang sangat baik kepada kami dan kepada yang lain.”

Nabi Yusuf menolak usulan mereka dengan berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari tindakan semena-mena kepada orang yang tidak bersalah, yaitu menangkap orang lain, bukan orang yang kami temukan penakar kerajaan di kantung makanannya. Sesungguhnya, jika kami melakukan hal itu, tentu kami telah berbuat zalim karena telah menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang bersalah.”

Mereka putus asa untuk membawa Bunyamin pulang. Padahal  mereka telah berjanji kepada ayah mereka untuk membawa Bunyamin pulang dan  tidak lalai seperti yang pernah mereka lakukan terhadap Yusuf.

Mereka kemudian menyingkir dari kerumunan orang untuk bermusyawarah. Saudara tertua mereka berkata, “Aku sudah mengingatkan kalian bahwa ayah kalian telah mengambil janji yang kuat atas nama Allah dari kalian bahwa kalian akan membawa putranya kembali kepadanya, kecuali jika kalian dikepung oleh musuh dan tidak sanggup melawan. Sebelum ini kalian telah melakukan kecerobohan terkait Yusuf. Kalian tidak menepati janji kalian kepada ayah kalian dalam menjaga Yusuf. Oleh karena itu, aku tidak akan meninggalkan Mesir sampai ayahku mengizinkan aku kembali kepadanya, atau Allah memutuskan untuk mengembalikan saudaraku kepadaku. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi keputusan, karena Dia memutuskan segala sesuatu secara benar dan adil.”

Dia pun berpesan kepada saudara-saudaranya, “Pulanglah kalian ke rumah ayah kalian. Katakanlah kepadanya bahwa putranya telah mencuri. Sebagai hukumannya, dia dijadikan budak oleh pejabat kerajaan Mesir. Katakanlah kepadanya, ‘Kami hanya menyampaikan apa yang kami ketahui, karena kami menyaksikan sendiri sebuah penakar dikeluarkan dari kantung makanan miliknya. Tidak ada pada diri kami ilmu tentang perkara gaib bahwa ia akan mencuri ketika kami telah mengikat janji teguh denganmu untuk membawanya pulang.’”

Baca sebelumnya: KISAH NABI YUSUF – MUSIM PACEKLIK

Baca setelahnya: KISAH NABI YUSUF – KESEDIHAN YANG MENDALAM

(al-Hafidz Ibnu Katsir)

Kisah