KEUTAMAAN TAUHID DAN MEREALISASIKANNYA AKAN TERCAPAI KEAMANAN DAN PETUNJUK

KEUTAMAAN TAUHID DAN MEREALISASIKANNYA AKAN TERCAPAI KEAMANAN DAN PETUNJUK

Secara bahasa tauhid berasal dari kata wahhada yang berarti menjadikan sesuatu satu. Maka tauhid adalah bentuk masdar dari wahhada-yuwahhidu, yang artinya menjadikan sesuatu itu satu.

Secara istilah tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam segala bentuk ibadah, baik yang batin maupun yang lahiriah, seperti doa, penyembelihan, nazar, dan ibadah lainnya.

Lawan dari tauhid adalah syirik, yang merupakan kezaliman paling besar. Hal ini karena seorang mukalaf (manusia yang dibebani syariat), jika mengingkari hak Penciptanya —yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur, menghidupkan, dan mematikan— dengan berdoa kepada selain Allah, bernazar kepada selain Allah, menjadikan perantara antara dirinya dan Penciptanya untuk mendekatkan diri atau meminta pertolongan, atau memalingkan sebagian ibadah kepada selain Allah, maka ia telah berbuat sewenang-wenang, menyimpang, dan berbuat zalim.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kezaliman yang besar.” (QS Luqman: 13)

Syirik membatalkan amal, menyia-nyiakan usaha, dan tidak diterima oleh Allah, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Amal saleh yang dilakukan oleh seorang musyrik tidak akan diangkat, meskipun amal itu besar, dan ia termasuk penghuni Neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS an-Nisa: 116)

Allah juga berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sungguh, barang siapa mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya adalah Neraka. Tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Ma’idah: 72).

Sebesar tauhid yang dimiliki oleh seseorang, sebesar itu pula ia akan memperoleh keamanan dan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-An’am: 82)

Ketika ayat ini turun, para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasa kebingungan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika ayat ini turun, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Siapakah di antara kami yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kezaliman?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ، أَلَا تَسْمَعْ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ؟

Bukan seperti itu maksudnya. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada anaknya, ‘Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar?’” (HR Bukhari)

Para sahabat sebelumnya mengira bahwa yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat tersebut adalah kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri melalui maksiat dan semisalnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud kezaliman dalam kitab Allah adalah syirik, bahkan syirik merupakan kezaliman yang paling besar.

Barang siapa selamat dari syirik, yang merupakan kezaliman terbesar, serta selamat dari kezaliman terhadap dirinya sendiri dengan dosa-dosa di bawah syirik, dan selamat dari kezaliman terhadap orang lain, maka ia akan mendapatkan keamanan dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat.

Keamanan yang sempurna berarti terbebas dari azab di dunia dan di akhirat.

Petunjuk di dunia berupa petunjuk kepada syariat Allah melalui ilmu dan amal.

Petunjuk di akhirat berupa petunjuk menuju Surga.

Baca juga: PAHALA BESAR BAGI ORANG YANG MEREALISASIKAN TAUHID

Baca juga: KEZALIMAN DAN JENIS-JENISNYA

Baca juga: WASPADA TERHADAP KEZALIMAN DAN KESERAKAHAN

(Fuad bin Abdul ‘Aziz asy-Syalhub)

Akidah