Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain.”
Kemudian beliau menyilangkan jari-jari tangannya. (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585)
PENJELASAN
Ini adalah hadis yang agung. Di dalamnya terdapat pemberitaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang mukmin bahwa mereka berada di atas sifat ini. Hadis ini juga mengandung dorongan dari beliau agar memperhatikan prinsip ini, dan agar mereka menjadi saudara-saudara yang saling menyayangi, saling mencintai, dan saling berbelas kasih. Masing-masing mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri dan berusaha mewujudkan hal tersebut.
Mereka wajib memperhatikan kemaslahatan-kemaslahatan umum yang menghimpun kemaslahatan mereka semuanya, serta hendaklah mereka berada di atas sifat ini. Sebab, sebuah bangunan tersusun dari fondasi-fondasi, dinding-dinding luar yang mengelilinginya secara keseluruhan, dinding-dinding yang mengelilingi ruangan-ruangan tertentu, serta apa yang tercakup di dalamnya berupa atap-atap, pintu-pintu, berbagai kemaslahatan, dan manfaat.
Setiap jenis dari bagian-bagian tersebut tidak dapat berdiri sendiri hingga sebagian bergabung dengan sebagian yang lain. Demikian pula kaum muslimin, mereka wajib seperti itu. Hendaklah mereka memperhatikan tegaknya agama mereka dan syariat-syariatnya, serta segala sesuatu yang menegakkan dan menguatkannya, dan menghilangkan berbagai penghalang dan rintangan yang menghalanginya.
Adapun fardu ‘ain, maka setiap mukalaf melaksanakannya. Tidak boleh bagi seorang mukalaf yang mampu untuk meninggalkannya atau melalaikannya. Adapun fardu kifayah, maka pada setiap kewajiban tersebut hendaklah ada di antara kaum muslimin orang-orang yang melaksanakannya, sehingga dengan mereka tercapailah kecukupan dan dengan mereka sempurnalah tujuan yang dikehendaki.
Allah Ta’ala berfirman tentang jihad:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya?” (QS at-Taubah: 122)
Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Hendaklah di antara kalian ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS Ali Imran: 104)
Allah Ta’ala memerintahkan untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Maka kaum muslimin memiliki tujuan dan sasaran yang satu, yaitu tegaknya kemaslahatan agama dan dunia mereka, yang agama tidak akan sempurna kecuali dengannya.
Setiap kelompok berusaha mewujudkan tugasnya sesuai dengan apa yang cocok baginya serta sesuai dengan waktu dan keadaan. Hal itu tidak akan sempurna bagi mereka kecuali dengan mengadakan musyawarah, membahas kemaslahatan-kemaslahatan umum, dengan sarana apa kemaslahatan tersebut dapat dicapai, bagaimana cara-cara untuk menempuhnya, serta dengan setiap kelompok membantu kelompok lainnya dalam pendapat, perkataan, dan perbuatannya, serta dalam menyingkirkan berbagai hal yang menentang dan menghambatnya.
Di antara mereka ada kelompok yang belajar dan ada kelompok yang mengajar. Di antara mereka ada kelompok yang berangkat untuk berjihad setelah mempelajari berbagai seni peperangan. Di antara mereka ada kelompok yang berjaga-jaga dan menjaga daerah-daerah perbatasan serta menahan musuh.
Di antara mereka ada kelompok yang berkecimpung dalam berbagai industri yang menghasilkan persenjataan yang sesuai untuk setiap zaman menurut keadaannya. Di antara mereka ada kelompok yang berkecimpung dalam pertanian, bercocok tanam, perdagangan, berbagai macam usaha, serta berupaya menempuh sebab-sebab ekonomi.
Di antara mereka ada kelompok yang berkecimpung dalam mempelajari politik, urusan perang dan perdamaian, serta apa yang semestinya dilakukan terhadap musuh yang mendatangkan kemaslahatan bagi Islam dan kaum muslimin; mendahulukan kemaslahatan yang lebih tinggi daripada yang lebih rendah; menolak kemudaratan yang lebih besar dengan mengambil kemudaratan yang lebih kecil; menimbang berbagai perkara; serta mengetahui hakikat kemaslahatan dan kemudaratan beserta tingkatan-tingkatannya.
Secara keseluruhan, mereka semua berusaha mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia mereka, dengan saling membantu dan saling menopang. Mereka memandang bahwa tujuannya adalah satu, meskipun jalan-jalannya berbeda-beda, dan maksudnya adalah satu, meskipun sarana-sarana untuk mencapainya beraneka ragam.
Alangkah bermanfaatnya mengamalkan hadis agung ini, yang di dalamnya Nabi yang mulia membimbing umatnya agar mereka menjadi seperti sebuah bangunan yang sebagian menguatkan sebagian lainnya, dan seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur. Oleh karena itu, syariat menganjurkan segala sesuatu yang memperkuat perkara ini, segala sesuatu yang menumbuhkan kecintaan di antara orang-orang mukmin, dan segala sesuatu yang dengannya dapat terwujud kerja sama dalam berbagai kemanfaatan. Syariat juga melarang perpecahan, permusuhan, dan tercerai-berainya persatuan dalam banyak nash. Bahkan, perkara ini dianggap sebagai salah satu prinsip agung di antara prinsip-prinsip agama yang wajib diperhatikan, dipertimbangkan, didahulukan daripada selainnya, dan diusahakan dengan segala cara yang memungkinkan.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia mewujudkan prinsip ini bagi kaum muslimin, menyatukan hati mereka, dan menjadikan mereka satu kekuatan dalam menghadapi orang-orang yang menentang dan memusuhi mereka.
Sesungguhnya Dia Mahamulia.
Baca juga: PERSAUDARAAN DALAM AGAMA
Baca juga: LARANGAN MEMECAH-BELAH AGAMA
Baca juga: PAHALA SEDEKAH DARI MENANAM TANAMAN
Baca juga: MENGINGATKAN MANUSIA TENTANG NIKMAT AGAMA
Baca juga: SIFAT MUSLIM, MUHAJIR, MUKMIN DAN MUJAHID SEJATI
(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

