SIFAT MUSLIM, MUHAJIR, MUKMIN DAN MUJAHID SEJATI

SIFAT MUSLIM, MUHAJIR, MUKMIN DAN MUJAHID SEJATI

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim adalah orang yang muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam at-Tirmidzi dan an-Nasai menambahkan dalam riwayatnya,

وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

Seorang mukmin adalah orang yang orang lain merasa aman darah dan harta mereka dari ganguannya.”

Imam al-Baihaqi menambahkan,

وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

Seorang mujahid adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam berbuat ketaatan kepada Allah.”

PENJELASAN

Dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kesempurnaan istilah-istilah agung. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan balasan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dengan istilah-istilah ini. Istilah-istilah ini adalah Islam, iman, hijrah dan jihad. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batasan terhadap istilah-istilah ini melalui perkataannya yang jami’ dan syamil.

Dalam memaknai ‘muslim’, beliau berkata, “Seorang muslim adalah orang yang muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” Yang demikian itu karena Islam yang hakiki adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya, serta melaksanakan hak-hak-Nya dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman seseorang tidak sempurna hingga dia mencintai kaum muslimin seperti ia mencintai diri sendiri. Hal itu tidak terwujud kecuali dengan selamatnya muslim lainnya dari keburukan lidah dan tangannya. Inilah dasar kewajiban yang ditekankan kepadanya untuk dia tunaikan terhadap kaum muslimin.

Maka, orang yang membuat muslim lain tidak selamat dari lidah atau tangannya tidak mungkin mampu melaksanakan kewajibannya terhadap kaum muslimin. Jadi, selamatnya kaum muslimin dari keburukan ucapan dan perbuatan seseorang merupakan tanda sempurnanya keislaman orang tersebut.

Kemudian beliau menafsirkan ‘mukmin’ dengan orang yang orang lain merasa aman darinya dalam darah dan harta mereka. Jika iman sudah bersemi dan memenuhi relung hati seseorang, maka iman akan mewajibkan pemilik hati untuk melaksanakan hak-hak iman. Di antaranya adalah menjaga amanat, jujur dalam bermuamalah, dan mencegah diri dari menzalimi orang lain dalam darah dan harta. Barangsiapa berbuat seperti itu, maka orang-orang akan mengetahui kebaikan-kebaikannya itu sehingga mereka merasa aman darinya dalam darah dan harta mereka. Mereka percaya kepadanya karena tahu bahwa ia adalah orang yang sangat menjaga amanah. Menjaga amanah termasuk perkara paling khusus yang diwajibkan oleh iman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

Tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai sifat amanat.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban. Disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’)

Kemudian beliau menafsirkan ‘muhajir’ dengan orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Hijrah adalah fardu ain (wajib) bagi setiap muslim, yaitu meninggalkan semua dosa dan perbuatan maksiat. Kewajiban ini tidak pernah gugur dari setiap mukalaf dalam segala keadaan. Hal itu karena Allah Ta’ala mengharamkan hamba-hamba-Nya menerjang perbuatan haram dan menjerumuskan diri ke dalam kemaksiatan. Inilah makna hijrah secara umum.

Adapun makna hijrah secara khusus adalah berpindah dari negara kafir atau negara bidah ke negara Islam. Sunah merupakan bagian dari hijrah khusus. Hijrah khusus tidak diwajibkan kepada setiap individu. Hijrah ini menjadi wajib jika ada sebab-sebab jelas yang mengharuskan seseorang berhijrah.

Kemudian beliau menafsirkan ‘mujahid’, yaitu orang yang senantiasa memerangi hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Hal itu karena hawa nafsu manusia sangat malas untuk berbuat baik, sangat ingin berbuat buruk, dan cepat terpengaruh atau lalai ketika malapetaka datang. Oleh karena itu, seseorang membutuhkan kesabaran dan jihad ekstra dalam memaksa hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, untuk istikamah di atas ketaatan, memeranginya agar tidak berbuat maksiat, agar terhindar dari maksiat, dan memaksanya agar selalu bersabar ketika bencana datang. Inilah puncak ketaatan dalam agama ini, yaitu melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan bersabar atas takdir yang menimpa.

Jadi, seorang mujahid sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dari setiap perkara di atas sehingga hawa nafsunya mau menjalankan kewajiban dan tugasnya.

Sedangkan bentuk jihad atau perang yang paling mulia adalah memaksa nafsu untuk mau berperang melawan musuh. Juga mau memerangi mereka dengan ucapan dan perbuatan, karena jihad fi sabilillah adalah puncak tertinggi dalam agama ini.

Barangsiapa berhasil melaksanakan semua petunjuk yang terkandung dalam hadis ini, niscaya ia berhasil mengerjakan seluruh ajaran agama Islam, yaitu orang yang muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya, orang yang orang lain merasa aman dari gangguan dirinya dalam darah dan harta mereka, orang yang meninggalkan semua larangan Allah Ta’ala, dan orang yang memerangi hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Tidak tersisa satu pun kebaikan duniawi dan ukhrawi, lahir dan batin, kecuali ia telah mengerjakannya. Dan tidak tersisa suatu keburukan pun kecuali ia telah meninggalkannya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk tujuan itu.

Baca juga: MACAM-MACAM SABAR

(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Kelembutan Hati