ISTIQAMAH

ISTIQAMAH

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ

Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu.” (QS Hud: 112)

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ، نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih, dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’ Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (Surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta, sebagai hidangan (bagi kalian) dari (Rabb) Yang Mahapengampun, Mahapenyayang.” (QS al-Fushilat: 30-32)

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ جَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-Ahqaf: 13-14)

PENJELASAN

Istiqamah adalah berpegang teguh di atas syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang Allah perintahkan, yang harus didahului oleh keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian penulis menyebutkan beberapa ayat dalam bab ini, di antaranya firman Allah Ta’ala:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ

Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu.” (QS Hud: 112)

Seruan pada ayat ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, seruan yang ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku pula untuk umatnya, kecuali jika terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seruan itu khusus untuk beliau. Jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan tersebut, maka seruan itu hanya berlaku untuk beliau. Adapun jika tidak ada dalil yang menunjukkan kekhususannya, maka seruan itu berlaku untuk beliau dan umatnya.

Di antara seruan yang didukung oleh dalil bahwa seruan tersebut khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah firman Allah Ta’ala:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ؛ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ؛ الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu?” (QS asy-Syarh: 1-3)

Ayat-ayat ini khusus ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu juga firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.” (QS al-Hijr: 87)

Ayat ini juga khusus ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun jika tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa seruan tersebut bersifat khusus, maka seruan itu berlaku untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga umatnya. Berdasarkan kaidah ini, firman Allah Ta’ala: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu,” bersifat umum bagi beliau dan umatnya.

Setiap orang wajib untuk istiqamah sebagaimana diperintahkan, tanpa mengubah agama Allah dengan menambahkan atau menguranginya. Oleh karena itu, dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ

Dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS Syura: 15)

Kabar Gembira bagi Orang-orang yang Bertauhid dan Istiqamah

Ayat kedua adalah firman Allah Ta’ala:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ؛ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ؛ نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih, dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’ Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (Surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta sebagai hidangan (bagi kalian) dari (Rabb) Yang Mahapengampun, Mahapenyayang.” (QS al-Fushilat: 30)

Rabb kami adalah Allah” berarti Dia adalah Pencipta kami, Pemilik kami, dan Pengatur segala urusan kami. Oleh karena itu, kami mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.

Kemudian meneguhkan pendirian mereka (istiqamah)” di atas hal itu, yaitu di atas ucapan mereka, “Rabb kami adalah Allah.” Oleh karena itu, mereka menjalankan syariat Allah.

Orang-orang yang memiliki dua sifat ini, yaitu “Mereka mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allahkemudian meneguhkan pendirian mereka (istiqamah)”, maka “malaikat-malaikat akan turun kepada mereka” satu demi satu dengan membawa kabar gembira dari Allah di setiap tempat yang menakutkan, terutama pada saat kematian. Para malaikat berkata kepada mereka, “Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih.” Jangan takut terhadap apa yang akan kamu hadapi di masa depan (berupa perkara-perkara akhirat), dan jangan bersedih atas apa yang telah berlalu di masa lalu (berupa anak, istri, harta benda dan agama, sebab Allah akan mengadakan penggantimu untuk mereka).

Dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepada kalian.” Kabar gembira ini adalah berita yang menyenangkan, dan tidak diragukan bahwa manusia akan merasa bahagia menjadi penghuni Surga. Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk di antara mereka.

Dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepada kalian,” karena siapa saja yang berkata, “Rabbku adalah Allah,” dan istiqamah di atas agama Allah, maka ia akan termasuk penghuni Surga.

Para malaikat juga berkata kepada mereka, “Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Para malaikat menjadi penolong bagi orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka istiqamah dalam kehidupan dunia. Para malaikat membimbing, membantu, dan menolong mereka. Begitu pula di akhirat, para malaikat menyambut mereka pada hari kebangkitan dan hisab dengan berkata:

هَٰذَا يَوْمُكُمُ ٱلَّذِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Inilah hari yang telah dijanjikan kepada kalian.” (QS al-Anbiya: 103)

Para malaikat memberi mereka kabar gembira dengan kebaikan di saat-saat penuh ketakutan dan kesulitan. Mereka akan menenangkannya dari ketakutan di dalam kubur dan ketika ditiupkan sangkakala. Mereka akan menentramkannya pada hari kebangkitan dan pengumpulan. Mereka akan menenangkannya ketika akan dihisab. Mereka akan mendampinginya di ash-Shirath dan akan mengantarkannya menuju Surga, negeri penuh kenikmatan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Di dalamnya (Surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta.”

Di dalamnya,” yaitu di akhirat. Apa yang diinginkan oleh jiwa-jiwa kalian, itu berada dalam kenikmatan Surga, karena Surga berisi apa saja yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan mata.

Dan memperoleh apa yang kalian minta,” maksudnya adalah apa yang kalian mohonkan dan inginkan. Bahkan, mereka mendapatkan lebih dari itu, sebagaimana firman Allah:

لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS Qaaf: 35)

Mereka tidak hanya mendapatkan apa yang mereka minta, mohonkan, atau inginkan, tetapi juga mendapatkan tambahan di atas semua itu.

Sebagai hidangan (bagi kalian) dari (Rabb) Yang Mahapengampun, Mahapenyayang.” Artinya, Surga adalah tempat tinggal dan jamuan yang disediakan untuk mereka oleh Allah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.

Yang Mahapengampun,” artinya Dia mengampuni dosa-dosa mereka. “Lagi Mahapenyayang,” artinya Dia menyayangi mereka dengan meninggikan derajat mereka.

Inilah balasan bagi orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian istiqamah.

Dalam hal ini terdapat dalil yang menunjukkan pentingnya istiqamah di atas agama Allah Ta’ala, yaitu bahwa seseorang harus teguh tanpa menambah, mengurangi, mengubah, atau mengganti ajaran agama. Adapun siapa saja yang berlebihan dalam agama Allah, menjauh darinya atau menggantinya, dia tidak berada dalam keadaan istiqamah di atas syariat Allah ‘Azza wa Jalla. Istiqamah harus disertai dengan keseimbangan dalam segala hal, sehingga seseorang dapat teguh di atas syariat Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca juga: ISTIQAMAH ADALAH KUNCI SUKSES DALAM AGAMA ISLAM

Baca juga: AL-GHURABA’ (ORANG-ORANG YANG ASING)

Baca juga: KIAT-KIAT BERPEGANG TEGUH DENGAN AGAMA ALLAH

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin