HUKUM ISTIHADAH

HUKUM ISTIHADAH

Istihadah adalah darah yang mengalir dari kemaluan perempuan secara terus-menerus tanpa henti atau berhenti dalam waktu yang singkat (kemudian mengalir lagi).

Keadaan Perempuan Mustahadah

Keadaan perempuan yang mengalami istihadah (mustahadah) adalah sebagai berikut:

1️⃣ Mempunyai kebiasaan haid yang tetap sebelum mengalami istihadah

Apabila seorang perempuan mempunyai kebiasaan haid yang tetap sebelum mengalami istihadah, maka ia menghitung masa haid yang sudah tetap itu dengan berpedoman bahwa masa itu adalah masa haidnya, sedangkan selainnya merupakan istihadah.

Misalnya: Seorang perempuan biasanya haid selama enam hari setiap awal bulan. Tiba-tiba ia mengalami istihadah dan darahnya keluar terus-menerus. Maka masa haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedangkan selainnya merupakan istihadah, dan seperti itulah setiap bulannya. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Fathimah binti Abi Hubaisyi radhiyallahu ‘anha bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku terus-menerus mengeluarkan darah setelah masa haid sehingga aku tidak bisa suci. Apakah aku boleh meninggalkan salat?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لَا، إِنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلَاةَ قَدْرَالْأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا، ثُمَّ اِغْتَسِلِي وَصَلِّي

Tidak! Sesungguhnya itu adalah ‘irq (urat nadi yang memanas). Tinggalkanlah salat sebanyak hari yang biasanya kamu haid sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukan salat.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah)

2️⃣ Tidak mempunyai kebiasaan haid yang tetap sebelum mengalami istihadah, namun mampu membedakan darah haid dan darah istihadah

Apabila seorang perempuan tidak mempunyai kebiasaan haid yang tetap, dimana istihadah terus-menerus terjadi sejak pertama kali ia mendapati darah, maka dalam keadaan ini, hendaklah ia melakukan tamyiz (pembedaan) antara darah haid dan darah istihadah jika ia mampu melakukannya. Jika tidak, maka ia berpindah pada keadaan ketiga.

Ketahuilah bahwa darah haid berwarna hitam kental, memiliki bau khas yang membedakannya dengan darah lainnya, dan tidak asing lagi (mudah dikenali). Adapun selainnya adalah istihadah. Hal itu berdasarkan hadis dari Fathimah binti Abi Hubaisyi radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضِ، فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ، فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ، فَتَوَضَّئِي، فَإِنَّمَا هُوَعِرْقٌ

Jika darah itu darah haid, sesungguhnya darahnya berwarna hitam yang sudah dikenal. Oleh karena itu, tinggalkanlah salat. Jika tidak demikian, maka berwudulah, karena itu hanya ‘irq (urat nadi yang memanas).” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, al-Hakim, dan al-Baihaqi. al-Hakim mensahihkannya berdasarkan kriteria Muslim. Disepakati oleh adz-Dzahabi. Dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

3️⃣ Tidak mempunyai kebiasaan haid yang tetap dan tidak memiliki kemampuan yang baik untuk membedakan darah darah haid dan darah istihadah karena samar baginya atau kedatangannya disertai dengan sifat yang berubah-ubah

Apabila seorang perempuan tidak mempunyai kebiasaan haid yang tetap serta tidak memiliki kemampuan dalam membedakan darah, maka hendaklah ia mengambil kebiasaan perempuan pada umumnya. Masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan, terhitung sejak saat pertama kali mendapati darah. Sedangkan selebihnya merupakan istihadah. Ini dilakukan dengan cara mengetahui masa haid perempuan yang lebih dekat hubungan kekerabatannya. Dengan demikian, untuk masa haidnya, ia berpatokan dengan masa tersebut, sedangkan sisanya merupakan istihadah.

Dari Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang mengalami haid yang sangat deras. Bagaimana pendapatmu tentangnya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ

Aku tunjukkan kepadamu kapas, karena ia dapat menyerap darah.”

Hamnah berkata, “Darahnya lebih banyak dari itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّخِذِي ثَوْبًا

Gunakanlah kain…” hingga pada sabda beliau

إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنْ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فِي عِلْمِ اللَّهِ، ثُمَّ اغْتَسِلِي، فَإِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ، فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً أَوْ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا

Sesungguhnya itu adalah usikan setan, maka hitunglah haidmu enam atau tujuh hari menurut ilmu Allah, setelah itu mandilah. Jika engkau merasa bahwa engkau telah suci dan bersih, maka salatlah dua puluh empat malam atau dua puluh tiga siang dan malamnya.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. at-Tirmidzi berkata, “Hasan sahih.” Dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’)

Apa yang Mesti Dilakukan oleh Perempuan Mustahadah Berkenaan dengan Salatnya?

Jika masa haid perempuan mustahadah telah berakhir (seperti pada perincian yang lalu), maka ia wajib mandi haid, lalu membalut kemaluannya dengan sehelai kain -perbuatan ini disebut dengan taljam dan istitsfar-. Dengan demikian berlakulah baginya hukum-hukum thuhr (keadaan suci). Ia diperbolehkan salat, puasa, tawaf dan hal-hal lain yang semasa haid haram dilakukan. Terkait dengan salat, ia harus memilih salah satu dari perkara berikut:

🔷 Berwudu setiap kali hendak salat, yaitu ia tidak boleh berwudu sebelum masuk waktu salat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ

Berwudulah kamu setiap kali hendak salat.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Sebelum berwudu hendaklah ia membasuh kemaluannya terlebih dahulu, lalu menyumbatnya dengan sehelai kain.

🔷 Mengakhirkan salat Zuhur hingga dekat dengan waktu Asar, lalu mandi, salat Zuhur dan salat Asar. Begitu juga, ia mengakhirkan salat Magrib hingga dekat dengan waktu Isya, lalu mandi, salat Magrib dan salat Isya. Begitu pula mandi untuk salat Subuh, lalu salat Subuh. Hal ini berdasarkan hadis dari Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

وَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ، فَتَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَتُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ، فَافْعَلِي، وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الْفَجْرِ، فَافْعَلِي

Jika kamu sanggup mengakhirkan salat Zuhur dan menyegerakan salat Asar, lalu kamu mandi dan menjamak (menggabungkan) dua salat tersebut yaitu Zuhur dan Asar, juga mengakhirkan salat Magrib dan menyegerakan salat Isya, lalu kamu mandi dan menjamak dua salat tersebut, maka lakukanlah. Dan jika kamu sanggup mandi untuk salat Subuh, maka lakukanlah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan,

وَهَذَا أَعْجَبُ الأَمْرَيْنِ إِلَىَّ

Bagiku ini adalah perkara yang lebih aku sukai dari dua pilihan” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Yakni pilihan yang ini lebih aku utamakan, mandi tiga kali untuk salat lima waktu: untuk Zuhur dan Asar satu kali, untuk Magrib dan Isya satu kali, dan untuk Subuh satu kali. Sedangkan pilihan kedua adalah mandi setiap kali hendak salat (lima kali sehari) sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Dawud di bawah.

🔷 Mandi setiap kali hendak salat

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha pernah mengalami istihadah dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkannya untuk mandi setiap kali hendak salat. (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Disahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’)

Beberapa Catatan

🔵 Darah yang keluar dari perempuan mustahadah setelah ia berwudu untuk salat tidak membahayakannya sebanyak apapun, karena ia dalam keadaan uzur. Hendaklah ia menyumbat kemaluannya dengan sehelai kain.

🔵 Ulama berbeda pendapat tentang bolehnya menyetubuhi perempuan mustahadah. Dan yang benar adalah boleh, karena syariat tidak melarang menyetubuhinya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Tidak ada di dalam syariat larangan perbuatan tersebut. Di dalam Sunan Abu Dawud dari Ikrimah, ia berkata, ‘Ummu Habibah pernah beristihadah, sedangkan suaminya menyetubuhinya.’” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi. Ummu Habibah adalah Hamnah binti Jahsy)

🔵 Jika seorang perempuan menguras banyak darahnya disebabkan sesuatu yang mengharuskannya demikian seperti operasi pada rahim, maka ini berada dalam dua keadaan:

✅ Diketahui ia tidak mungkin haid lagi, seperti karena ia menjalani operasi pengangkatan rahim, maka dalam keadaan seperti itu tidak berlaku baginya hukum-hukum istihadah. Oleh karena itu, ia tidak boleh meninggalkan salat pada waktu kapan pun, sedangkan darah yang keluar adalah darah penyakit dan darah rusak.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa ia mesti berwudu setiap kali salat.

✅ Diketahui bahwa ia kemungkinan bisa haid lagi, maka berlaku baginya hukum perempuan mustahadah.

🔵 Darah haid dapat dibedakan dari darah istihadah dengan empat tanda, yaitu:

Warna. Darah haid berwarna hitam, sedangkan darah istihadah berwarna merah.

Ketebalan: Darah haid tebal (pekat), sedangkan darah istihadah tipis (halus).

Bau: Darah haid berbau busuk, sedangkan darah istihadah tidak berbau busuk.

Kebekuan: Darah haid tidak beku (kental), sedangkan darah istihadah beku.

🔵 Jika seorang perempuan memiliki kebiasaan haid yang tetap dan juga memiliki kemampuan membedakan darah, maka pendapat yang unggul adalah bahwa perempuan tersebut berpatokan pada kebiasaan, dan bukan pada kemampuan membedakan. Alasannya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memerintahkan perempuan (seperti yang termaktub di dalam hadis) untuk berpatokan pada kebiasaan, beliau tidak menanyainya, “Apakah kamu dapat membedakan darah atau tidak?” Alasan lain adalah bahwa berpatokan pada kebiasaan adalah lebih akurat bagi seorang perempuan. Sebab, bisa saja terjadi darah terputus. Satu hari darahnya berwarna hitam, satu hari lainnya berwarna merah. Adapun jika ia lupa pada kebiasaan haidnya, maka ia berpedoman pada tamyiz (pembedaan).

🔵 Jika seorang perempuan mengetahui waktu haidnya, tapi lupa bilangan haidnya, dalam arti ia tahu misalnya haid itu mendatanginya pada awal bulan, kemudian lupa apakah masa haid tersebut berlangsung selama enam atau tujuh hari atau selain dari itu, maka dikatakan kepadanya, “Berpedomanlah sesuai dengan kebiasaan haid pada umumnya (lihat keadaan ketiga). Kamu tidak boleh berpedoman pada tamyiz.”

🔵 Sebaliknya, jika seorang perempuan mengetahui jumlah bilangan haidnya namun lupa waktu haidnya, seperti ia ingat bahwa masa haidnya berlangsung selama enam hari namun lupa apakah ia berada di awal bulan atau di akhirnya, maka hendaklah ia berpatokan pada awal bulan, seberapa pun bilangan haid mendatanginya. Jika si perempuan berkata, “Haid mendatangiku di pertengahan bulan, namun aku tidak mampu menentukan waktunya,” maka ia mesti menghitung sejak awal pertengahan bulan, seberapa pun bilangan haid mendatanginya, karena pertengahan bulan untuk keadaan seperti ini lebih dekat pada keakuratan waktu. Wallahu a’lam.

Baca juga: HUKUM HAID

Baca juga: HUKUM NIFAS

Baca juga: HUKUM DARAH

(Syekh Abu Abdurrahman Adil bin Yusuf al-Azazy)

Fikih