Segala puji bagi Allah yang menjadikan al-Qur’an sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Di dalamnya Dia menjelaskan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, serta memperbaiki dengannya urusan dunia dan agama.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, Raja Yang Mahabenar lagi Mahanyata. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia yang paling sempurna dan pemimpin para rasul.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada Muhammad, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Pembalasan.
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan carilah kecintaan-Nya dengan mendekatkan diri kepada-Nya serta mengikuti segala hal yang diridhai-Nya. Sungguh Allah telah menghimpun seluruh kebaikan dalam satu ayat dari Kitab-Nya, yaitu firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat. Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl: 90)
Ayat ini telah menghimpun seluruh perkara yang diperintahkan dan melarang seluruh perkara yang buruk. Maka perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan keadilan di dalamnya. Dengan keadilan itu langit dan bumi tegak, berbagai urusan menjadi baik, dan seluruh makhluk menjadi lurus.
Keadilan yang paling besar adalah menunaikan ibadah kepada Allah dan mewujudkan tauhid. Sedangkan kezaliman yang paling besar adalah mempersekutukan Allah dan menjadikan tandingan-tandingan bagi-Nya.
Termasuk keadilan adalah mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan syariat-syariat agama, menunaikan hak kedua orang tua, kerabat, tetangga, dan orang-orang yang berinteraksi dengan kita.
Termasuk keadilan pula adalah menegakkan sikap adil dalam hukum dan kepemimpinan, yaitu dengan menjadikan seluruh manusia sama di hadapanmu; baik yang jauh maupun yang dekat, musuh maupun orang yang engkau cintai.
Termasuk keadilan adalah memperlakukan manusia dengan memenuhi janji, kejujuran, dan sikap adil, serta memberikan kepada mereka seluruh hak yang menjadi kewajibanmu, sebagaimana engkau menuntut hakmu secara penuh tanpa pengurangan dan tanpa kezaliman.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar?” (QS al-Muthaffifin: 1–5)
Termasuk keadilan juga adalah bersikap adil terhadap dirimu sendiri, terhadap orang-orang yang dekat denganmu, maupun terhadap orang-orang yang jauh darimu.
Termasuk keadilan adalah tidak membiarkan hawa nafsu menyesatkanmu dari jalan syariat dan agama.
Termasuk keadilan adalah berlaku sama di antara istri-istrimu dalam nafkah, pakaian, dan pergaulan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang sempurna akhlaknya. Juga tidak mengutamakan sebagian anak di atas sebagian yang lain dalam pemberian, kebaikan, atau hubungan kasih sayang.
Allah Ta’ala juga memerintahkan ihsan dalam beribadah kepada-Nya, yaitu dengan merasa diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, serta ikhlas kepada-Nya dalam ucapan dan perbuatan, dan memerintahkan ihsan kepada hamba-hamba Allah dengan memberikan nasihat, mengajarkan ilmu, mengerahkan kedudukan dan harta untuk membantu mereka.
Termasuk ihsan adalah berbuat baik, memaafkan orang yang berbuat buruk, bertutur kata lembut, bermuka ceria, dan berakhlak mulia kepada seluruh kaum muslimin.
Termasuk ihsan adalah memuliakan tetangga dan memberi kepada kerabat. Allah menyebutkannya secara khusus karena kemuliaannya dan besarnya maslahat yang terkandung di dalamnya.
Termasuk ihsan pula bersikap lembut terhadap para budak, pelayan, dan hewan-hewan; tidak mencaci mereka dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul, sebagaimana perbuatan orang yang melampaui batas dan zalim.
Dalam ayat ini Allah melarang perbuatan keji (fahsya’), yaitu dosa-dosa besar seperti pembunuhan, zina, riba, penipuan, dan berbagai kejahatan besar lainnya. Demikian pula riya, kesombongan, dan merendahkan manusia, karena semua itu termasuk dosa yang paling buruk.
Allah juga memperingatkan dari akhlak yang mungkar, perbuatan yang mungkar, hawa nafsu yang menyimpang, dan segala bentuk gangguan terhadap orang lain. Dia melarang perbuatan melampaui batas terhadap manusia, baik pada diri mereka, harta mereka, maupun kehormatan mereka. Orang yang berbuat zalim pasti akan dijatuhkan oleh kezalimannya sendiri, dan ia akan memperoleh akibat yang buruk dan menyedihkan.
Semoga Allah menganugerahkan kepadaku dan kepada kalian sifat adil dan ihsan, serta menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan keji, kemungkaran, dan kezaliman.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
Baca juga: BERLAKU ADIL DALAM KEADAAN MARAH DAN RIDHA
Baca juga: IHSAN MERUPAKAN DASAR AJARAN ISLAM YANG AGUNG
Baca juga: HAKIKAT IHSAN DALAM IBADAH
Baca juga: SABAR DALAM BERDAKWAH WALAU DISAKITI KAUMNYA
Baca juga: MEMAHAMI AGAMA ADALAH TANDA KEBERUNTUNGAN
(Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

