LANGIT-LANGIT MERUPAKAN BENDA-BENDA NYATA YANG DAPAT DIINDRA

LANGIT-LANGIT MERUPAKAN BENDA-BENDA NYATA YANG DAPAT DIINDRA

Segala puji bagi Allah yang meninggikan tujuh langit tanpa tiang, menghamparkan bumi dan menjadikannya siap untuk dihuni oleh para hamba. Dia menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka, baik ketika hidup maupun setelah mati. Dari bumi itu Dia menciptakan mereka, ke dalamnya Dia mengembalikan mereka, dan darinya pula Dia akan mengeluarkan mereka sekali lagi pada Hari Kebangkitan dan hari ketika seruan dikumandangkan.

Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Pemilik kemuliaan, kekuatan, dan kekuasaan. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia pilihan yang terpilih.

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau yang jujur, berbakti, dan suci, serta kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik selama malam dan siang silih berganti, dan semoga Allah melimpahkan salam dengan sebanyak-banyaknya.

Amma ba’du.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, taatilah Dia, benarkanlah segala perkara ghaib yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya serta yakinilah. Tolaklah setiap pendapat manusia yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, serta tinggalkanlah. Sesungguhnya setiap sesuatu yang bertentangan dengan keduanya adalah batil, dusta, dan tidak memiliki hakikat. Sebaliknya, setiap sesuatu yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah benar, telah ditegakkan dalil atasnya, dan didukung oleh hujah yang kuat. Sesungguhnya firman Allah dan sabda Rasul-Nya adalah perkataan yang paling benar, paling jelas, dan paling mudah dipahami.

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan di atas kalian tujuh langit yang berlapis-lapis lagi kokoh. Langit-langit itu merupakan benda-benda nyata yang dapat diindra dan tampak jelas, sehingga tidak menerima keraguan, perdebatan, maupun pengingkaran.

Allah Ta’ala, Yang Mahabenar dalam firman-Nya, berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا

Dia-lah yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis.” (QS al-Mulk: 3)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَاۤىِٕقَ

Sungguh, Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh langit yang berlapis-lapis.” (QS al-Mukminun: 17)

Allah Ta’ala berfirman:

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

Kami membangun di atas kalian tujuh langit yang kokoh.” (QS an-Naba’: 12)

Syidad artinya kokoh lagi kuat.

Allah Ta’ala berfirman:

ءَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا ۝ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

Apakah penciptaan kalian yang lebih sulit ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (QS an-Nazi’at: 27 -28)

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا السَّمَاۤءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًا

Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara.” (QS al-Anbiya’: 32)

Allah Ta’ala berfirman:

اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَيَّنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ

Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?” (QS Qaaf: 6)

Furuj artinya retak-retak.

Allah Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat.” (QS ar-Ra’d: 2)

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas.” (QS al-Anbiya’: 104)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ

Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit-langit tergulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS az-Zumar: 67)

Allah Ta’ala berfirman:

 اِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَاۤءِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.” (QS al-A’raf: 40)

Allah Ta’ala berfirman:

 وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖ

Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya.” (QS al-Hajj: 65)

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang semisal dengannya menunjukkan dengan penunjukan yang pasti, yang tidak menerima keraguan sedikit pun, bahwa langit-langit benar-benar merupakan benda-benda nyata yang dapat diindra. Ya, semuanya menunjukkan dengan penunjukan yang tegas dan tidak menerima keraguan. Penyebutan langit sebagai berlapis-lapis, ditinggikan, memiliki bangunan yang tinggi, menjadi atap, dan dapat dilipat —yakni benar-benar dilipat— semuanya merupakan nash yang jelas dan tegas bahwa langit-langit itu adalah benda-benda nyata yang dapat diindra. Kemudian, penetapan adanya pintu-pintu bagi langit, penafian adanya celah-celah dan retakan padanya, serta penafian bahwa langit akan jatuh ke bumi, semuanya merupakan bukti bahwa langit-langit adalah benda-benda nyata yang tampak.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diisra’ dan dimi’rajkan, beliau naik dari satu langit ke langit berikutnya. Pada setiap langit beliau memberi salam kepada salah seorang nabi dari para nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Peristiwa ini telah diriwayatkan secara mutawatir di kalangan kaum muslimin dan mereka telah berijmak atasnya. Barang siapa mengingkari salah satu dari perkara tersebut atau meragukannya, maka ia kafir, karena ia telah mendustakan Allah, Rasul-Nya, dan ijmak kaum mukminin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, niscaya Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dipilihnya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisaa’: 115)

Sesungguhnya kami menjelaskan dan mengingatkan hal ini karena ada di antara para ahli falak yang zindik dan orang-orang ateis di kalangan mereka yang mengingkari bahwa langit-langit merupakan benda-benda nyata yang dapat diindra. Dikhawatirkan kebatilan ini akan tersebar di kalangan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah. Segala pendapat yang dikemukakan oleh para ahli falak mengenai perkara-perkara seperti ini tidak boleh diyakini sebelum diuji dengan Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Apabila dalam keduanya terdapat dalil yang menunjukkan kebenarannya, maka pendapat itu dapat diterima. Apabila dalam al-Qur’an dan as-Sunnah terdapat dalil yang mendustakannya, maka pendapat itu batil dan harus ditolak.

Apabila al-Qur’an dan as-Sunnah tidak memuat dalil yang menetapkan maupun menafikan pendapat-pendapat tersebut, maka wajib bersikap tawaqquf (tidak menetapkan dan tidak menolak) hingga ada dalil ilmiah atau dalil akal yang membuktikan kebenarannya. Kami mengatakan wajib bersikap tawaqquf sampai ada dalil yang membuktikannya, karena kita tidak mungkin menerima begitu saja pendapat mereka sebagai sesuatu yang pasti, sementara mereka sendiri terkadang saling berbeda pendapat. Sebab, pendapat-pendapat itu bisa benar dan bisa pula salah.

Langit-langit ini tidak mungkin dapat ditembus atau dilampaui oleh siapa pun, baik dengan kekuatan teknologi maupun selainnya, kecuali dengan izin Allah. Sungguh, manusia yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dimi’rajkan bersama Jibril ‘alaihis salam yang telah Allah sifatkan dengan kekuatan yang sangat besar dan kedudukan yang tinggi. Namun, keduanya tidak mendatangi satu langit pun dari langit-langit itu melainkan terlebih dahulu meminta izin agar pintunya dibukakan, lalu dibukakanlah pintu itu bagi keduanya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Baca juga: ISRA’ DAN MI’RAJ

Baca juga: SENGSARA ATAU BAHAGIAKAH BAYI YANG MENINGGAL?

Baca juga: DZIKIR AGAR TERJAGA DARI MUDARAT DI BUMI DAN DI LANGIT

Baca juga: ANCAMAN KERAS BAGI PERAMPAS TANAH: SEJENGKAL YANG BERBUAH AZAB TUJUH LAPIS BUMI

Baca juga: LAA ILAAHA ILLALLAAH’ LEBIH BERAT DALAM TIMBANGAN DARIPADA LANGIT DAN BUMI BESERTA ISINYA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Khotbah