AMAL APAKAH YANG PALING UTAMA?

AMAL APAKAH YANG PALING UTAMA?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya,  “Amal apakah yang paling utama?”

Beliau menjawab:

إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ditanyakan, “Kemudian apa?”

Beliau menjawab:

الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berjihad di jalan Allah.”

Ditanyakan, “Kemudian apa?”

Beliau menjawab:

حَجٌّ مَبْرُورٌ

Haji yang mabrur.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 26 dan 1519 —lafaz ini milik al-Bukhari— dan Muslim no. 135)

Sesungguhnya perkara terpenting yang wajib diperhatikan oleh seorang hamba dalam kehidupan ini adalah iman. Iman merupakan sebaik-baik perkara yang diperoleh jiwa, diraih oleh hati, dan dengannya seorang hamba memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Bahkan, sesungguhnya seluruh kebaikan di dunia dan akhirat bergantung pada iman yang benar. Maka iman merupakan tuntutan yang paling agung, tujuan yang paling mulia, dan sasaran yang paling luhur.

Pembahasan-pembahasan dan masalah-masalah tentang iman merupakan pembahasan dan masalah yang paling penting secara mutlak, karena ia merupakan pembahasan agama yang paling penting dan pokok kebenaran serta keyakinan yang paling agung. Betapa banyak manfaat yang berkaitan dengan iman yang benar, buah-buah yang ranum, hasil yang lezat, buah yang terus-menerus, dan kebaikan yang berkesinambungan. Semua itu merupakan perkara-perkara yang tidak terhitung dan manfaat-manfaat yang tidak dapat dihimpun seluruhnya, baik yang diperoleh segera di dunia maupun kelak di akhirat.

Dengan iman, seorang hamba menjalani kehidupan yang baik di dua negeri, selamat dari berbagai perkara yang tidak disukai, keburukan, dan kesulitan, meraih seluruh tujuan dan tuntutan, serta memperoleh pahala akhirat. Maka ia memasuki Surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Ia juga selamat dari Neraka yang azabnya sangat keras dan dasarnya sangat dalam. Dan yang lebih agung daripada semua itu adalah ia memperoleh keridhaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala sehingga Dia tidak akan murka kepadanya selama-lamanya, serta merasakan kenikmatan memandang wajah-Nya Yang Mahamulia tanpa mengalami kesusahan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Dengan iman hati menjadi tenteram, jiwa menjadi tenang, dan kalbu menjadi lapang. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28)

Betapa banyak manfaat besar dari iman, pengaruh-pengaruh yang penuh berkah, buah-buah yang ranum, dan kebaikan yang terus-menerus di dunia dan akhirat, yang tidak ada yang dapat menghitung dan meliputinya kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa berbagai kenikmatan yang menyenangkan hati sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS as-Sajdah: 17)

Secara keseluruhan seluruh kebaikan merupakan cabang dari iman dan bergantung kepadanya. Adapun seluruh kebinasaan dan keburukan terjadi karena hilangnya iman dan berkurangnya iman. Maka tidak mengherankan jika pembahasan-pembahasan tentang iman merupakan pembahasan yang paling penting, paling agung, paling layak mendapatkan perhatian dan kepedulian, serta paling pantas untuk dicurahkan kepadanya tekad dan waktu.

Kemuliaan suatu ilmu bergantung pada kemuliaan perkara yang dipelajarinya. Tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada iman dan ilmu-ilmu tentangnya, yang dengan terwujudnya iman dan ilmu-ilmu tersebut seluruh kebaikan dapat terwujud dan seluruh keburukan dapat dihindarkan. Bahkan, tidak ada kebaikan bagi para hamba, tidak ada keberuntungan, tidak ada kehidupan yang baik, tidak ada kebahagiaan di dua negeri, dan tidak ada keselamatan dari kehinaan dunia serta azab akhirat, kecuali dengan iman yang benar, baik secara ilmu maupun penerapannya. Maka ilmu dan iman merupakan sebaik-baik anugerah dari ar-Rahman dan semulia-mulia pemberian-Nya.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Sebaik-baik perkara yang diperoleh jiwa, diraih oleh hati, dan dengannya seorang hamba memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat adalah ilmu dan iman. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَىٰ يَوْمِ الْبَعْثِ

Orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata, ‘Sungguh, kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari kebangkitan.’” (QS ar-Rum: 56)

Dan firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11)

Mereka adalah manusia-manusia pilihan dan intinya, serta orang-orang yang layak memperoleh tingkatan-tingkatan yang tinggi.”

Sesungguhnya iman adalah pohon yang penuh berkah, sangat besar manfaatnya, melimpah faedahnya, dan banyak buahnya. Ia memiliki tempat untuk ditanam, memiliki siraman khusus, serta memiliki akar, cabang, dan buah.

Adapun tempatnya adalah hati seorang mukmin. Di dalamnya diletakkan benih-benih dan akar-akarnya, dan darinya tumbuh ranting-ranting dan cabang-cabangnya.

Adapun siramannya adalah wahyu yang nyata, yaitu Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan keduanya pohon yang penuh berkah ini disirami, dan tidak ada kehidupan serta pertumbuhan baginya kecuali dengan keduanya.

Adapun akarnya adalah enam pokok iman, yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Pokok yang paling tinggi dari semua pokok tersebut adalah beriman kepada Allah. Maka iman kepada Allah merupakan pokok dari seluruh pokok pohon yang penuh berkah ini.

Adapun cabang-cabangnya adalah amal-amal saleh, berbagai macam ketaatan, dan berbagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh seorang mukmin berupa shalat, zakat, haji, puasa, kebajikan, berbuat baik, dan selainnya.

Adapun buah-buahnya adalah setiap kebaikan dan kebahagiaan yang diperoleh seorang mukmin di dunia dan akhirat. Semua itu merupakan buah dari buah-buah iman dan hasil dari hasil-hasilnya. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sungguh Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl: 97)

Pentingnya iman ini tampak dengan mengetahui berbagai manfaat dan buahnya. Mengenai hal ini, Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa kebaikan dunia dan akhirat termasuk buah dari iman yang benar. Dengan iman, seorang hamba menjalani kehidupan yang baik di dua negeri. Dengan iman, ia selamat dari berbagai perkara yang tidak disukai dan keburukan. Dengan iman, berbagai kesulitan menjadi ringan dan seluruh tuntutan dapat diraih. Marilah kita menunjukkan buah-buah tersebut secara terperinci, karena mengetahui berbagai manfaat dan buah iman merupakan salah satu pendorong terbesar untuk menambah iman.”

Kemudian beliau rahimahullah mulai menyebutkan secara terperinci buah-buah dan manfaat iman. Berikut ini ringkasannya. Di antara buah dan manfaat iman adalah:

Pertama: Iman merupakan sebab memperoleh keridhaan Allah, yang merupakan perkara paling besar.

Kedua: Pahala akhirat, masuk Surga, menikmati berbagai kenikmatan di dalamnya, serta selamat dari Neraka dan azabnya, semuanya hanya dapat diperoleh dengan iman.

Ketiga: Allah Ta’ala membela orang-orang yang beriman dan menjauhkan dari mereka berbagai keburukan dunia dan akhirat.

Keempat: Allah telah menjanjikan pertolongan dan dukungan kepada orang-orang mukmin yang benar-benar menegakkan iman.

Kelima: Petunjuk dari Allah untuk memperoleh ilmu dan beramal, serta untuk mengetahui kebenaran dan menempuhnya, diberikan sesuai dengan kadar iman dan penunaian hak-haknya.

Keenam: Iman mendorong untuk menambah ilmu-ilmu tentangnya serta amal-amalnya, baik yang lahir maupun yang batin.

Ketujuh: Orang yang beriman kepada Allah, kepada kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya, kebesaran-Nya, dan kemuliaan-Nya adalah orang yang paling besar keyakinannya, ketenteramannya, tawakalnya kepada Allah, dan kepercayaannya kepada-Nya.

Kedelapan: Seorang hamba tidak mungkin dapat mewujudkan keikhlasan kepada Allah, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah, dan memberikan nasihat kepada mereka secara sempurna kecuali dengan iman.

Kesembilan: Sesungguhnya hubungan muamalah di antara sesama manusia tidak akan sempurna dan tegak kecuali di atas kejujuran, ketulusan dalam memberikan nasihat, dan tidak melakukan kecurangan. Tidak ada yang benar-benar dapat menegakkan hal tersebut kecuali orang-orang yang beriman.

Kesepuluh: Sesungguhnya iman merupakan pertolongan terbesar dalam menanggung berbagai kesulitan, melaksanakan beban-beban ketaatan, dan meninggalkan berbagai perbuatan keji yang di dalam jiwa terdapat dorongan kuat untuk melakukannya. Maka perkara-perkara tersebut tidak akan terlaksana dengan sempurna kecuali dengan kuatnya iman.

Kesebelas: Sesungguhnya seorang hamba pasti akan ditimpa sesuatu berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Iman merupakan pertolongan terbesar dalam menanggung berbagai musibah tersebut.

Kedua belas: Sesungguhnya iman menjadikan seorang hamba memiliki kekuatan tawakal kepada Allah, karena pengetahuan dan keyakinannya bahwa seluruh urusan kembali kepada Allah dan tercakup dalam ketetapan dan takdir-Nya.

Ketiga belas: Sesungguhnya iman menjadikan seorang hamba berani dan menambah keberanian orang yang berani. Karena ketergantungannya kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, serta kuatnya harapan dan keinginannya terhadap apa yang ada di sisi-Nya, berbagai kesulitan menjadi ringan baginya. Ia pun berani menghadapi berbagai hal yang menakutkan dengan penuh kepercayaan kepada Rabb-nya, berharap kepada-Nya, dan takut jatuh dari pandangan-Nya karena rasa takutnya kepada makhluk.

Keempat belas: Sesungguhnya iman merupakan sebab terbesar bagi keterikatan hati kepada Allah dalam seluruh tuntutannya, baik yang berkaitan dengan agama maupun dunia.

Kelima belas: Sesungguhnya iman mendorong kepada akhlak yang baik terhadap seluruh lapisan manusia. Apabila iman melemah, berkurang, atau menyimpang, maka hal itu akan berpengaruh terhadap akhlak seorang hamba berupa penyimpangan, sesuai dengan kadar jauhnya ia dari iman.

Keenam belas: Sesungguhnya iman yang sempurna mencegah seseorang masuk Neraka secara keseluruhan, sebagaimana iman tersebut telah mencegah pemiliknya di dunia dari melakukan berbagai kemaksiatan. Adapun iman yang tidak sempurna mencegah seseorang kekal di dalam Neraka.

Ketujuh belas: Sesungguhnya iman menjadikan pemiliknya dipandang baik dan dipercaya oleh manusia. Iman juga menjadikan seorang hamba menjaga diri dari menumpahkan darah manusia, mengambil harta mereka, dan merusak kehormatan mereka.

Kedelapan belas: Sesungguhnya orang yang kuat imannya akan merasakan dalam hatinya manisnya iman, kelezatan rasanya, manisnya berbagai pengaruhnya, kenikmatan dalam mengabdi kepada Rabb-nya, serta menunaikan hak-hak-Nya dan hak-hak para hamba-Nya, yang semuanya merupakan konsekuensi dan pengaruh iman. Maka seorang mukmin senantiasa berada dalam berbagai kenikmatan dan kemanisan iman.

Kesembilan belas: Sesungguhnya iman merupakan satu-satunya sebab untuk menegakkan puncak tertinggi agama, yaitu jihad dengan badan, harta, dan perkataan di jalan Allah.

Semua itu termasuk buah-buah iman serta bagian dari kesempurnaan dan kelengkapannya. Seluruh kebaikan dunia dan akhirat merupakan cabang dari iman dan bergantung kepadanya.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan dalam Kitab-Nya berbagai manfaat dan buah yang berkaitan dengan iman, yang jumlahnya tidak kurang dari seratus manfaat. Masing-masing manfaat tersebut lebih baik daripada dunia beserta segala isinya.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Jumlahnya sekitar seratus perkara. Setiap perkara darinya lebih baik daripada dunia dan segala yang ada di dalamnya.

Di antaranya adalah pahala yang besar:

وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS an-Nisa’: 146)

Di antaranya adalah Allah menolak dari mereka berbagai keburukan dunia dan akhirat:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS al-Hajj: 38)

Di antaranya adalah permohonan ampun para malaikat pemikul ‘Arsy untuk mereka:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Rabb mereka, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman.” (QS Ghafir: 7)

Di antaranya adalah Allah menjadi wali bagi mereka, dan mereka pasti memperoleh perwalian Allah. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا

Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman.” (QS al-Baqarah: 257)

Di antaranya adalah Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk meneguhkan mereka:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا

(Ingatlah) ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS al-Anfal: 12)

Di antaranya adalah mereka memperoleh derajat-derajat di sisi Rabb mereka, ampunan, dan rezeki yang mulia.

Di antaranya adalah kemuliaan:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS al-Munafiqun: 8)

Di antaranya adalah kebersamaan Allah dengan orang-orang yang beriman:

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman.” (QS al-Anfal: 19)

Di antaranya adalah ketinggian derajat di dunia dan akhirat:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11)

Di antaranya adalah Allah memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, memberikan kepada mereka cahaya yang dengannya mereka berjalan, serta memberikan ampunan atas dosa-dosa mereka.

Di antaranya adalah rasa cinta yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan bagi mereka, yaitu bahwa Dia mencintai mereka dan menjadikan mereka dicintai oleh para malaikat-Nya, para nabi-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Di antaranya adalah keamanan mereka dari rasa takut pada hari ketika rasa takut menjadi sangat dahsyat:

فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Maka barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS al-An’am: 48)

Di antaranya adalah bahwa mereka merupakan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu orang-orang yang kita diperintahkan untuk memohon kepada-Nya agar Dia memberi kita petunjuk menuju jalan mereka setiap hari dan malam sebanyak tujuh belas kali. (Hal itu karena Surah al-Fatihah dibaca dalam shalat lima waktu, satu kali pada setiap rakaat, sedangkan jumlah rakaatnya adalah tujuh belas rakaat.)

Iman merupakan sarana terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah, mendekatkan diri kepada rahmat-Nya, dan memperoleh pahala-Nya. Iman juga merupakan sarana terbesar untuk memperoleh ampunan dosa, menghilangkan berbagai kesulitan atau meringankannya. Di dunia iman mendatangkan kehidupan yang baik, dimudahkannya seorang hamba menuju kemudahan, dijauhkannya ia dari kesulitan, ketenteraman hati, ketenangan jiwa, kepuasan yang sempurna, baiknya keadaan, dan baiknya keturunan, serta berbagai buah dan pengaruh besar lainnya yang timbul dari iman, yang menunjukkan besarnya keutamaan iman dan agungnya kedudukannya.

Baca juga: ANJURAN UNTUK BERDOA

Baca juga: PERBEDAAN ISLAM DAN IMAN

Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA ALLAH

Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA TAKDIR

Baca juga: MENGINGATKAN MANUSIA TENTANG NIKMAT AGAMA

(Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Akidah