SEBAB LAPANGNYA DADA DAN TENTERAMNYA HATI

SEBAB LAPANGNYA DADA DAN TENTERAMNYA HATI

Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan dada orang-orang yang diberi taufik dengan kelembutan, kebaikan, dan karunia-Nya. Dia menerangi pandangan hati mereka sehingga mereka dapat menyaksikan hikmah syariat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, serta ketetapan ayat-ayat-Nya. Yang paling penting dari semua itu adalah kalimat takwa. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak terhadapnya dan paling layak memilikinya. Mahasuci Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb Yang Mahaagung, Mahaberkah, Mahaluas karunia-Nya lagi Mahamulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan pilihan-pilihan-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, utusan yang paling mulia dan sebaik-baik makhluk-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya pada setiap pagi dan petang sepanjang masa.

Amma ba’du.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat terletak pada baiknya hati dan kelapangannya, hilangnya kegelisahan dan kesedihannya, serta lenyapnya duka dan kesusahannya. Karena itu, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya agar kalian memperoleh tujuan yang agung ini. Perbanyaklah mengingat Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28)

Apabila kalian mengetahui bahwa menghadap kepada Allah dengan penuh keinginan, kecintaan, dan kembali kepada-Nya dalam seluruh keadaan merupakan sebab terbesar bagi lapangnya dada, ketenteraman jiwa, dan tercapainya tujuan-tujuan yang mulia; dan bahwa berpaling dari Allah serta tenggelam dalam syahwat akan menyalakan api di dalam hati berupa kerugian dan penyesalan; dan bahwa berusaha memperoleh ilmu yang bermanfaat dengan niat yang tulus termasuk ketaatan yang paling besar yang dengannya kebodohan dan berbagai persoalan yang sulit dapat disingkirkan; serta bahwa seorang hamba hendaklah bersungguh-sungguh dalam memberikan manfaat kepada sesama makhluk, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, maupun kedudukannya, niscaya Allah akan memperbaiki urusan-urusannya di dunia dan agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan Hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (Hadis sahih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

Barang siapa merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.” (Hadis sahih. Diriwayatkan dari hadis Abu Hurairah dan selainnya)

Barang siapa bersikap sombong terhadap kebenaran atau terhadap makhluk, maka Allah akan merendahkannya. Barang siapa memaafkan, Allah akan memaafkannya. Barang siapa bersikap lapang dan mudah, Allah akan memudahkannya. Barang siapa menelusuri aib-aib kaum muslimin, Allah akan menelusuri aibnya dan mempermalukannya. Barang siapa menjaga diri dari mencari-cari aib manusia, Allah akan menjaga kehormatannya. Barang siapa mendekat kepada Allah, Allah akan mendekat kepadanya. Barang siapa berpaling dari Allah, Allah akan berpaling darinya.

وَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan.”

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Rabb-mu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS Fussilat: 46)

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝١ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝٢ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۝٣ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ۝٤ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۝٥ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝٦ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝٧ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ۝٨ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ۝٩ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝١٠ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salat-salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yaitu yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Mu’minun: 1–11)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

Baca juga: BUKAN FISIK, TAPI HATI: STANDAR KEMULIAAN DI SISI ALLAH

Baca juga: HATI ORANG MUKMIN: LEMBUT, PENUH RASA TAKUT

Baca juga: AL-FATIHAH ADALAH PENYEMBUHAN HATI DAN BADAN

Baca juga: HUKUM MENINGGALKAN RUKUN ISLAM DAN KONSEKUENSINYA

Baca juga: KEMATIAN – TIGA PERTANYAAN DI ALAM KUBUR

(Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Khotbah