AL-FATIHAH ADALAH PENYEMBUHAN HATI DAN BADAN

AL-FATIHAH ADALAH PENYEMBUHAN HATI DAN BADAN

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah di dalam pembahasannya tentang surat al-Fatihah berkata, “al-Fatihah mengandung dua macam penyembuhan, yaitu penyembuhan hati dan penyembuhan badan.”

Penyembuhan Hati

Berkenaan dengan penyembuhan hati, al-Fatihah mencakupnya dengan cakupan yang sangat sempurna. Sesungguhnya hati dan penyakit-penyakitnya berporos pada dua pokok utama, yaitu kerusakan ilmu dan kerusakan tujuan. Keduanya adalah penyebab timbulnya dua macam penyakit yang mematikan, yaitu kesesatan dan kemarahan. Kesesatan adalah buah dari kerusakan ilmu, sedangkan kemarahan adalah buah dari kerusakan tujuan. Kedua macam penyakit ini merupakan pemicu bagi berbagai macam penyakit hati lainnya. Maka petunjuk menuju jalan yang lurus mencakup penyembuhan dari penyakit kesesatan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memohon petunjuk. Beliau mewajibkan setiap hamba dan diri beliau sendiri untuk berdoa memohon petunjuk setiap hari, setiap malam, dan setiap salat. Yang demikian itu karena kebutuhan beliau kepada petunjuk sangat besar. Tidak ada permintaan lain yang dapat menggantikan permintaan ini.

Penyataan permohonan petunjuk dalam al-Fatihah adalah اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan). Permohonan ini dilakukan dengan sepenuh pemahaman, ilmu dan amalan tanpa ditunda-tunda. Pernyataan ini mengandung penyembuhan dari penyakit rusaknya ilmu dan tujuan. Sesungguhnya rusaknya tujuan bergantung kepada (rusaknya) berbagai sasaran dan sarana.

Selanjutnya, hati rentan terhadap dua penyakit yang sangat dahsyat. Jika seorang hamba tidak mampu melakukan pendekatan yang komprehensif terhadap keduanya, maka keduanya pasti akan mencampakkannya kepada kebinasaan. Keduanya itu adalah riya dan sombong. Obat riya adalah denganاِيَّاكَ نَعْبُدُ  (Hanya kepada Engkau kami menyembah), sedangkan obat sombong adalah dengan وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan).

Saya sering mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa اِيَّاكَ نَعْبُدُ  (Hanya kepada Engkau kami menyembah) dapat mencegah riya, dan وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkau kemi memohon pertolongan) dapat mencegah kesombongan.

Jika seseorang disembuhkan dari penyakit riya dengan  اِيَّاكَ نَعْبُدُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah) dan dari penyakit sombong dan ujub dengan وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkau kemi memohon pertolongan), dan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ  (Tunjukilah kami jalan yang lurus), maka dia telah disembuhkan dari segala penyakit, diberikan segala pakaian kesehatan sehingga sempurnalah nikmat yang diberikan kepadanya. Dan dia termasuk orang-orang yang diberi nikmat, dan غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ (bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai), yaitu orang-orang yang rusak tujuannya yang mengetahui yang hak tetapi menyimpang darinya. Mereka juga bukan الضَّاۤلِّيْنَ (orang-orang yang sesat), yaitu orang-orang yang rusak ilmunya yang tidak mengetahui yang hak.

Benar bahwa satu surat mencakup dua penyembuhan tersebut. Hendaklah dengan surat ini seseorang memohon kesembuhan dari berbagai penyakit. Oleh sebab itu, ketika mencakup berbagai macam kesembuhan yang merupakan kesembuhan paling agung di antara dua kesembuhan itu, maka tercapainya kesembuhan yang lebih rendah dari itu merupakan hal yang wajar, sebagaimana yang akan kami jelaskan. Tidak satu pun lebih hebat dalam menyembuhkan hati selain hati memahami perkataan dalam firman Allah Ta’ala dengan pemahaman khusus, dan makna-makna surat itu.

Penyembuhan Badan

Sedangkan cakupannya terhadap penyembuhan badan, akan kami sebutkan sebagian darinya sebagaimana telah dijelaskan dalam sunah.

Dalam kitab sahih dari hadis Abu al-Mutawakkil an-Naji dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa para sahabat melewati sebuah perkampungan orang-orang Arab. Orang-orang Arab itu tidak menghormati para sahabat dan tidak menganggap mereka sebagai tamu. Ketika seorang tokoh di pemukiman itu tersengat binatang, mereka menemui para sahabat dan berkata, “Apakah di antara kalian ada yang bisa merukiah?” atau “Apakah di antara kalian ada yang pandai merukiah?” Para sahabat menjawab, “Ya! Sayangnya kalian semua tidak menghormati kami. Oleh karena itu, kami tidak akan melakukannya hingga kalian membuat jaminan untuk kami.” Maka mereka pun membuat jaminan berupa beberapa ekor kambing. Akhirnya salah seorang sahabat membacakan untuk mereka surat al-Fatihah sehingga orang itu sehat kembali, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Lalu kami katakan, “Jangan ambil jaminan itu hingga kita menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kami pun datang menghadap beliau dan kami sampaikan kepada beliau perkara itu.

Beliau bersabda,

مَا يُدْرِيْكَ أَنَّهُ رُقْيَةٌ؟ كُلُوا وَاضْرِبُوْا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

Bagaimana engkau tahu bahwa (al-Fatihah) itu adalah rukiah? Makanlah kambing itu dan masukkan aku bersama kalian sebagai orang yang mendapatkan bagian!” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mencakup tercapainya kesembuhan orang yang tersengat binatang dengan bacaan surat al-Fatihah. Mungkin kesembuhan itu tidak diperoleh melalui obat lain.

Lebih dari itu, peristiwa itu terjadi di tempat yang tidak menerima kebenaran, baik karena mereka yang tinggal di pemukiman itu bukan kaum muslimin atau mereka adalah warga yang sangat kikir dan hina. Maka bagaimana jika yang dirukiah adalah orang-orang yang menerima kebenaran?

Semoga Allah senantiasa mencurahkan selawat, salam, dan berkah-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh keluarga, dan sahabatnya dengan diiringi salam. Dan segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.

Baca juga: HARAM MELAKUKAN PENGOBATAN DENGAN BENDA-BENDA HARAM

Baca juga: AL-QUR’AN DAN KEUTAMAANNYA

Baca juga: DOA AGAR HATI DIPALINGKAN KEPADA KETAATAN

(Fuad bin Abdul ‘Aziz asy-Syalhub)

Serba-Serbi