Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلَا يَبْصُقَنْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ، وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ
“Apabila salah seorang dari kalian sedang shalat, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Karena itu, janganlah ia meludah ke arah depan wajahnya dan jangan pula ke sebelah kanannya, tetapi hendaklah ke sebelah kirinya, di bawah kakinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ
“atau di bawah kakinya.”
PENJELASAN
Penulis rahimahullahu menyebutkan —dalam rangkaian hadis pada bab “Anjuran untuk Khusyuk dalam Shalat” di dalam kitab Bulughul Maram— hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian sedang shalat, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.”
Maksudnya, ia sedang berbicara kepada-Nya. Munajat adalah berbicara atau bercakap-cakap dengan suara yang lirih.
Allah Ta’ala berfirman tentang Musa:
وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا
“Dan Kami memanggilnya dari sebelah kanan Gunung Thur dan Kami mendekatkannya untuk bermunajat.” (QS Maryam: 52)
Maksudnya, Allah Ta’ala memanggilnya, lalu ketika ia telah dekat, Allah bermunajat kepadanya dengan suara yang lirih. Demikian pula orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabb-nya, yakni berbicara kepada-Nya —Subhanahu wa Ta’ala— dengan suara yang lirih. Hal itu karena apabila seseorang masuk ke dalam shalat, maka ia telah masuk menghadap Allah ‘Azza wa Jalla dan berdiri di hadapan-Nya. Ia pun merasakan bahwa dirinya sedang berbicara kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ia mengucapkan,
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ
“Subhanaka Allahumma wa bihamdika” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim), yakni ia berbicara kepada Allah dengan menggunakan huruf kaf khithab.
Telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Ta’ala berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾، قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾، قَالَ اللَّهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾، قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba berkata, ‘al-Hamdu lillahi rabbil-’alamin,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Apabila ia berkata, ‘ar-Rahmanir-rahim,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Apabila ia berkata, ‘Maliki yaumid-din,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’”
Siapakah di antara kita yang benar-benar menghadirkan makna ini ketika shalat? Kebanyakan manusia membaca al-Fatihah sekadar bacaan, tanpa merasakan makna yang agung ini, yaitu bahwa setiap kali ia membaca satu ayat, Allah ‘Azza wa Jalla menjawabnya.
فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾، قَالَ اللَّهُ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ
“Apabila ia berkata, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ —dan ini adalah ayat keempat— Allah berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian.’”
Ibadah adalah untuk Allah, dan permohonan pertolongan adalah meminta pertolongan kepada Allah dalam urusan agamamu dan duniamu.
فَإِذَا قَالَ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Apabila ia berkata, ‘Ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdhubi ‘alaihim wa ladh-dhallin,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Inilah hakikat munajat, yaitu bahwa kamu sedang bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla ketika kamu melaksanakan shalat.
Apabila kamu sedang bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla —sedangkan Dia Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hatimu dan apa yang dibisikkan oleh jiwamu— maka bersungguh-sungguhlah dengan segenap kesungguhan agar hatimu tidak lalai dari munajat ini. Hadirkanlah hatimu dalam shalatmu dan hayatilah apa yang kamu ucapkan serta apa yang kamu lakukan berupa bacaan al-Qur’an, dzikir, dan doa, agar shalatmu menjadi sebaik-baiknya. Yakinlah bahwa apabila kamu membiasakan dirimu dengan hal ini, maka hal itu akan menjadi mudah bagimu.
Banyak dari kita, ketika masuk ke dalam shalat, pikirannya melayang tenggelam dalam lintasan dan bisikan hingga keluar dari shalat tanpa mengetahui apa yang telah ia kerjakan. Namun apabila seseorang melatih dirinya untuk menghadirkan hati dan menghayati amal, maka hal itu akan terasa ringan dan mudah baginya. Ia pun akan mulai —setiap kali masuk ke dalam shalat— merasakan bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Rabb-nya, sehingga hatinya tidak lalai dari shalatnya.
Kemudian, seandainya kamu bermunajat kepada seorang raja di antara raja-raja dunia, atau seorang presiden di antara para pemimpin dunia, bukankah kamu akan merasakan kewibawaan, pengagungan, dan bahwa kamu sedang berada pada kedudukan yang tinggi dan mulia? Maka di sini kamu sedang berbicara kepada Raja segala raja, Allah ‘Azza wa Jalla, Pencipta langit dan bumi. Karena itu, kamu wajib bersikap penuh adab dan pengagungan kepada-Nya.
Termasuk adab terhadap Allah ketika kamu bermunajat kepada-Nya dalam shalat adalah tidak meludah ke arah depanmu dan tidak pula ke sebelah kananmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka janganlah ia meludah ke arah depan wajahnya dan jangan pula ke sebelah kanannya.”
Meludah (al-buzaq) telah dikenal, yaitu ludah yang kental berupa dahak atau semisalnya. Janganlah kamu meludah ke arah depan wajahmu ketika sedang shalat. Jika kamu melakukan hal itu, maka kamu berdosa, karena perbuatan tersebut merupakan adab yang buruk terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab Allah berada di hadapan wajahmu. Dia berada di langit di atas ‘Arsy. Kita tidak mengatakan bahwa Dia berada di suatu tempat tertentu atau di dalam masjid tempat kamu berada, akan tetapi Dia berada di atas ‘Arsy-Nya —Mahatinggi dan Mahamulia— dan Dia di hadapan wajahmu.
Allah Ta’ala berfirman:
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
“Ke mana pun kalian menghadap, di sanalah Wajah Allah.” (QS al-Baqarah: 115)
Maka apabila kamu meludah di hadapanmu sementara kamu sedang berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat, itu tanpa ragu merupakan adab yang sangat buruk terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَلَا يَبْصُقنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ
“Maka janganlah ia meludah ke arah depan wajahnya, karena sesungguhnya Allah berada di hadapan wajahnya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Seandainya kamu berada di hadapan seorang manusia —seorang amir, menteri, penguasa, atau tokoh besar— niscaya kamu tidak akan berani meludah di hadapannya, karena itu termasuk bentuk penghinaan yang paling besar terhadapnya. Maka bagaimana lagi jika kamu berada di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla?
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di dinding masjid pada arah kiblat (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim), beliau mencopot (memberhentikan) imam yang meludah tersebut, karena ia telah berbuat buruk dalam adab terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga tidak layak menjadi imam bagi kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang meludah di hadapan wajahnya dalam shalat adalah berdosa, dan wajib disingkirkan dari jabatan imam apabila ia memang menjadi imam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan jangan pula ke sebelah kanannya.” Mengapa tidak ke sebelah kanannya? Karena di sebelah kanannya terdapat malaikat, dan karena sisi kanan lebih mulia daripada sisi kiri.
Apabila seseorang tidak meludah ke arah depan wajahnya, maka tidak tersisa baginya kecuali ke kanan atau ke kiri. Dan telah diketahui bahwa sisi kiri lebih pantas untuk tempat meludah daripada sisi kanan, karena sisi kanan lebih mulia dan didahulukan untuk segala perkara yang mengandung kemuliaan.
Lalu, apa yang harus dilakukan apabila dahak datang kepadanya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan tetapi ke sebelah kirinya.” Ini berlaku apabila ia tidak berada di dalam masjid. Maka ia meludah ke sebelah kirinya, meskipun dengan menoleh, dan hal itu tidak mengapa, karena menoleh tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan.
Sabda beliau, “Atau di bawah kakinya,” maksudnya ia meludah di bawah kakinya apabila ia tidak menoleh, lalu menginjaknya hingga hilang.
Jika ada yang bertanya, “Jika ia berada di dalam masjid, apa yang harus ia lakukan?”
Maka kami katakan: Jika ia membawa sapu tangan, maka hendaklah ia meludah ke sapu tangan tersebut. Jika tidak membawa sapu tangan, maka ke pakaiannya —baik ke ghutrah-nya, bajunya, atau misylah-nya— lalu ia menggosok sebagian dengan sebagian yang lain hingga ludah tersebut hilang. Dengan demikian, ia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Intinya: Jangan sekali-kali ia meludah ke arah depan wajahnya, tidak pula ke sebelah kanannya, tidak ke sebelah kirinya, dan tidak pula di bawah kakinya (jika berada di dalam masjid).
Dengan demikian, dua arah terlarang dalam setiap keadaan, yaitu ke arah depan wajah dan ke arah kanan. Seseorang tidak boleh meludah ke dua arah tersebut, baik di dalam masjid maupun di luar masjid. Dua arah terlarang khusus apabila berada di dalam masjid, yaitu ke arah kiri dan di bawah kaki. Lalu apa yang tersisa? —sebagaimana dikatakan para ulama— yaitu meludah ke pakaiannya, kemudian menggosokkan sebagian dengan sebagian yang lain hingga hilang bekas dahak tersebut.
Faedah Hadis
Di antara faedah hadis ini adalah:
1️⃣ Bahwa dahak adalah suci. Seandainya ia najis, tentu tidak sah meludahkannya di bawah kaki, sebab hal itu akan mengotorinya. Namun karena dahak adalah suci, maka hal tersebut tidak menimbulkan masalah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah berada di hadapan wajahnya.”
2️⃣ Di dalamnya terdapat dalil tentang keluasan Allah ‘Azza wa Jalla, karena Allah Mahaluas lagi Mahamengetahui, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan milik Allah-lah timur dan barat. Ke mana pun kalian menghadap, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Mahamengetahui.” (QS al-Baqarah: 115)
Maka Dia —Subhanahu— meliputi segala sesuatu, Mahatinggi lagi Mahamulia. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di bumi. Bahkan Allah Ta’ala berada di langit, beristiwa di atas ‘Arsy-Nya. Barang siapa mengatakan bahwa Allah berada di bumi, maka ia telah murtad dari Islam dan kafir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena ia telah mendustakan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ kaum muslimin, serta merendahkan Rabb semesta alam ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala tidak diliputi oleh suatu tempat, dan tidak mungkin tempat-tempat berada di dalam-Nya. Bahkan Dia —Subhanahu wa Ta’ala— berada di atas segala sesuatu. Barang siapa mengatakan bahwa Allah berada di bumi, maka sungguh ia telah kafir dan murtad dari agama Islam. Wajib baginya untuk bertobat kepada Allah dan beriman bahwa Allah Ta’ala berada di atas segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ
“Dan Dia Mahaperkasa di atas hamba-hamba-Nya.” (QS al-An’am: 18),
dan firman-Nya:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“(Allah) Yang Mahapengasih beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS Thaha: 5),
yaitu tinggi di atas ‘Arsy dengan ketinggian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. ‘Arsy berada di atas segala sesuatu, di atas seluruh makhluk, karena Allah Ta’ala beristiwa di atasnya. Maka Allah berada di atas seluruh makhluk, Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, dan meskipun demikian, Dia berada di hadapan wajah orang yang sedang shalat.
Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah berada di hadapan orang yang shalat, sementara Dia berada di atas?”
Maka kami jawab: Orang yang melontarkan keberatan seperti ini berarti belum mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan dan belum mengenal keagungan Allah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Mahakuasa untuk berada di atas segala sesuatu dan sekaligus berada di hadapan wajah orang yang shalat.
Selain itu, berada di hadapan sesuatu tidak menafikan bahwa ia berada di tempat yang tinggi. Kita ambil contoh —misalnya— ketika kita menghadap matahari saat terbenam. Di mana matahari itu? Ia berada di hadapan wajah kita, padahal ia berada tinggi di langit. Ini pada makhluk. Adapun Sang Pencipta, maka wajib bagimu apabila Allah mengabarkan tentang diri-Nya dengan suatu sifat, kamu mengatakan, (آمَنَّا وَصَدَّقْنَا) “Kami beriman dan membenarkannya,” dan tidak mengatakan selain itu. Janganlah kamu berkata, “Bagaimana?” atau “Mengapa?” Sebab kamu memiliki keterbatasan. Kamu tidak mampu memahami segala sesuatu dan tidak mampu meliputi segala sesuatu. Bahkan roh yang ada dalam dirimu pun kamu tidak mampu memahaminya. Allah Ta’ala berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Rabb-ku.’” (QS al-Isra’: 85)
Roh yang berada di dalam tubuh kita, yang dengannya kita hidup, dan apabila ia berpisah dari tubuh kita maka kita binasa, namun demikian kita tidak mengetahui hakikatnya. Bahkan kita tidak mengetahui sifat-sifat roh kecuali sebatas apa yang datang dalam al-Kitab dan as-Sunnah saja. Ini menunjukkan bahwa manusia itu terbatas.
Oleh karena itu, ketika mereka bertanya, “Apakah itu roh?” Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Rabb-ku.” (QS al-Isra’: 85) Seakan-akan Allah menegurmu dengan mengatakan: “Engkau bertanya tentang roh, seolah-olah tidak tersisa lagi bagimu ilmu selain tentang roh sehingga engkau menanyakannya.” Padahal, kalian tidak diberi ilmu melainkan sedikit.
Demikian pula dengan sifat-sifat Rabb ‘Azza wa Jalla. Jangan sekali-kali kamu menghadirkan ke dalam hatimu —atau menyampaikannya kepada orang lain— pertanyaan, “Mengapa?” dan “Bagaimana?” Tinggalkanlah hal-hal tersebut. Jika kamu melakukannya, maka kamu telah berbuat bid’ah. Setiap apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, maka kewajiban seorang mukmin adalah berkata, (سَمِعْنَا وَآمَنَّا وَصَدَّقْنَا) “Kami mendengar, kami beriman, dan kami membenarkan.” Sebab sesungguhnya kita tidak mampu meliputi Allah ‘Azza wa Jalla dengan ilmu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan mereka tidak meliputi-Nya dengan ilmu.” (QS Thaha: 110)
Baca juga: IKHLAS DALAM BERAMAL DAN MENAFKAHKAN HARTA
Baca juga: HUKUM-HUKUM SHALAT
Baca juga: NIAT SEBAGAI DASAR DITERIMANYA AMAL
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

