Kubur bisa menjadi taman di antara taman-taman Surga atau lubang di antara lubang-lubang Neraka. Penghuni kubur ada yang mendapatkan kenikmatan dan ada pula yang mendapatkan azab.
Orang-orang yang taat kepada Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya akan didatangi di kubur mereka kenikmatan Surga, keharumannya, dan kesejukannya. Adapun orang-orang yang dimurkai oleh Allah Yang Mahaperkasa dan menjadi tempat kemurkaan-Nya akan didatangi panasnya api Neraka dan hembusan racunnya. Maka pilihlah sendiri negeri mana yang akan kamu datangi!
Allah Ta’ala berfirman:
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Dan azab yang sangat buruk menimpa kaum Fir’aun, yaitu Neraka. Mereka diperlihatkan kepadanya pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya Kiamat, dikatakan: ‘Masukkanlah kaum Fir’aun ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS al-Mu’min: 45-46)
Keluarga Fir’aun diperlihatkan kepada Neraka di alam barzakh pada pagi dan petang. Azab di alam barzakh menimpa roh, namun terkadang roh berhubungan dengan jasad sehingga azab itu menimpa jasad dan roh sekaligus.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa azab dapat menimpa jasad adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mayit,
وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ أَضْلَاعُهُ
“Dan kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling berhimpitan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Syekh al-Albani berkata, “Shahih.”)
Azab dan nikmat kubur, ujian di dalamnya, dikembalikannya roh ke dalam jasad, pertanyaan dua malaikat, terdengarnya suara sandal yang pergi meninggalkan kubur, disempitkannya kubur bagi orang kafir, serta diluaskannya kubur orang mukmin sejauh pandangan matanya (Lihat Sunan Abi Dawud, dan hadis tersebut dishahihkan oleh Syekh al-Albani), semuanya adalah perkara ghaib yang Allah sembunyikan dari kita. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikat terjadinya semua itu. Alam ghaib tidak bisa diqiyaskan dengan alam yang tampak (alam syahadah). Akan tetapi, kita mengimaninya dan membenarkan seluruh berita yang datang tentangnya. Akal tidak memiliki ruang untuk menjangkau hakikat alam ghaib.
Dalam hadis Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu terdapat penjelasan bahwa umat ini akan diuji dan diberi cobaan di dalam kubur mereka. Seandainya bukan karena kekhawatiran manusia tidak lagi mau menguburkan satu sama lain, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berdoa kepada Allah agar kita dapat mendengar azab kubur sebagaimana yang beliau dengar.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ
“Sesungguhnya umat ini diuji di dalam kuburnya. Kalaulah bukan karena kalian nanti tidak saling menguburkan, sungguh aku akan memohon kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur yang aku dengar.”
Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu bersabda,
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab Neraka.”
Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari azab Neraka.”
Beliau bersabda lagi,
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.”
Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari azab kubur…” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Dalam perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar berlindung dari azab kubur di dalam shalat mereka, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa azab kubur benar-benar nyata dan pasti terjadi.
Dari Aisyah binti Abu Bakar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Apabila salah seorang dari kalian telah selesai dari tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara: dari azab jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan al-Masih ad-Dajjal.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz hadis ini adalah riwayat Muslim)
Perhatikanlah hadis al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan manusia di dalam kubur mereka. Ia berkata:
Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengiringi jenazah seorang laki-laki dari kaum Anshar. Kami pun sampai di kuburan sementara liang lahadnya belum selesai dibuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu duduk dan kami pun duduk mengelilingi beliau seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Di tangan beliau ada sebatang kayu yang beliau gunakan untuk menggores tanah. Kemudian beliau mengangkat kepala lalu bersabda,
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، وَكَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ فِي الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ. قَالَ: فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا، فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ. قَالَ: فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ – يَعْنِي بِهَا – عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ، فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ، وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى. قَالَ: فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رُوحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur,” dua atau tiga kali.
Kemudian beliau bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba mukmin ketika akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah-wajah putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari kain kafan Surga dan wewangian dari wewangian Surga. Mereka duduk darinya sejauh pandangan mata.
Kemudian datang Malaikat Maut ‘alaihis salam hingga duduk di dekat kepalanya lalu berkata, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.’
Maka roh itu keluar mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut bejana. Malaikat Maut pun mengambilnya. Ketika telah mengambilnya, para malaikat itu tidak membiarkannya berada di tangannya walau sekejap mata sampai mereka mengambilnya lalu meletakkannya di dalam kain kafan dan wewangian tersebut. Keluarlah dari roh itu aroma yang paling harum seperti harumnya minyak kasturi yang pernah ada di muka bumi.
Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, ‘Roh siapakah yang baik ini?’
Mereka menjawab, ‘Fulan bin fulan,’ dengan nama terbaik yang dahulu dipakai untuk memanggilnya di dunia.
Hingga mereka sampai ke langit dunia lalu meminta agar dibukakan pintu untuknya, maka dibukakanlah. Para malaikat yang berada di setiap langit mengantarkannya ke langit berikutnya sampai tiba di langit ketujuh. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
‘Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi, karena dari bumi Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan darinya Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi.’
Kemudian rohnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datang dua malaikat dan mendudukkannya. Keduanya berkata, ‘Siapa Rabb-mu?’
Ia menjawab, ‘Rabbku adalah Allah.’
Keduanya bertanya, ‘Apa agamamu?’
Ia menjawab, ‘Agamaku adalah Islam.’
Keduanya bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepada kalian ini?’
Ia menjawab, ‘Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Keduanya bertanya, ‘Apa ilmumu tentang itu?’
Ia menjawab, ‘Aku membaca Kitab Allah, lalu aku beriman dan membenarkannya.’
Kemudian terdengar seruan dari langit: “Hamba-Ku benar. Maka hamparkanlah baginya hamparan dari Surga, pakaikanlah baginya pakaian dari Surga, dan bukakanlah baginya pintu menuju Surga.”
Maka datanglah kepadanya kesejukan dan keharuman Surga, serta dilapangkan kuburnya sejauh pandangan mata.
Lalu datang kepadanya seorang laki-laki dengan wajah tampan, pakaian indah, dan bau yang harum. Ia berkata, ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.’
Ia berkata, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.’
Orang itu berkata, ‘Aku adalah amal salehmu.’
Maka ia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, segerakanlah Hari Kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.’”
Beliau melanjutkan,
وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ الْمُسُوحُ، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ. قَالَ: فَتَفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ﴿لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ﴾، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ﴾، فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ، فَأَفْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا، وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ، وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
“Dan sesungguhnya seorang hamba kafir ketika akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat dengan wajah hitam. Mereka membawa kain kasar dari Neraka. Mereka duduk darinya sejauh pandangan mata.
Kemudian datang Malaikat Maut hingga duduk di dekat kepalanya lalu berkata, ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.’
Maka roh itu tercerai-berai di dalam jasadnya, lalu dicabut sebagaimana besi berduri dicabut dari bulu wol yang basah.
Malaikat Maut pun mengambilnya. Ketika telah mengambilnya, para malaikat tidak membiarkannya di tangannya walau sekejap mata sampai mereka meletakkannya di kain kasar tersebut. Keluarlah darinya bau paling busuk seperti bangkai paling busuk yang ada di muka bumi.
Kemudian mereka membawanya naik. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, ‘Roh siapakah yang buruk ini?’
Mereka menjawab, ‘Fulan bin fulan,’ dengan nama terburuk yang dahulu dipakai memanggilnya di dunia.
Hingga mereka sampai ke langit dunia lalu meminta agar dibukakan pintu untuknya, namun tidak dibukakan.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:
لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Surga sampai unta masuk ke lubang jarum.”
“Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah catatannya di Sijjin, di bumi paling bawah.’
Lalu rohnya dilemparkan dengan keras.”
Kemudian beliau membaca ayat:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
“Kemudian rohnya dikembalikan ke jasadnya. Datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya dan berkata, ‘Siapa Rabb-mu?’
Ia menjawab, ‘Hah… hah… aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Apa agamamu?’
Ia menjawab, ‘Hah… hah… aku tidak tahu.’
Keduanya bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepada kalian itu?’
Ia menjawab, ‘Hah… hah… aku tidak tahu.’
Lalu terdengar seruan dari langit: “Dia berdusta. Maka hamparkanlah baginya hamparan dari Neraka dan bukakanlah baginya pintu menuju Neraka.”
Maka datang kepadanya panas dan racun Neraka, serta kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling berhimpitan.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki dengan wajah buruk, pakaian buruk, dan bau busuk. Ia berkata, ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang menyusahkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.,
Ia berkata, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa keburukan.’
Orang itu berkata, ‘Aku adalah amal burukmu.’
Maka ia berkata, ‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, dan lafaz hadis ini adalah riwayat Ahmad.
Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami, rahmatilah kami ketika di atas bumi, di bawah bumi, dan pada hari ketika kami dihadapkan kepada-Mu.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kami Muhammad, beserta keluarga beliau. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Baca juga: KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIHAPUS KARENANYA
Baca juga: KEMATIAN – TIGA PERTANYAAN DI ALAM KUBUR
Baca juga: KEMATIAN – NIKMAT DAN AZAB KUBUR
(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

