JAGALAH ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU

JAGALAH ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda kepadaku,

يَا غُلاَمُ، إنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ، يَحْفَظْكَ. احْفَظِ اللهَ، تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. إِذَا سَأَلْتَ، فَاسْأَلِ الله. وإِذَا اسْتَعَنْتَ، فَاسْتَعِنْ باللهِ. وَاعْلَمْ، أنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبهُ اللهُ لَكَ. وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحفُ

Wahai anak muda, aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat menimpakan bahaya kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR at-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” Lihat Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi karya Syekh al-Albani)

Dan dalam riwayat selain dari at-Tirmidzi,

احْفَظِ اللهَ، تَجِدْهُ أَمَامَكَ. تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ. وَاعْلَمْ، أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَاعْلَمْ، أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di saat sempit. Ketahuilah bahwa apa yang ditakdirkan meleset darimu tidak akan pernah mengenaimu, dan apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (HR Ahmad, Hakim dan lain-lain)

PENJELASAN

Perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Aku berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” maksudnya adalah sedang berkendara bersamanya.

Perkataannya, “Lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai anak muda… Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.’”

Beliau memanggilnya dengan “Wahai anak muda,” karena Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma saat itu masih kecil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika Ibnu Abbas mendekati usia baligh, yakni antara usia lima belas hingga enam belas tahun atau kurang.

Pada saat itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma sedang berkendara di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepadanya seruan berikut, “Wahai anak muda, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.”

Jagalah Allah, Niscaya Allah akan Menjagamu

“Jagalah Allah” adalah sebuah kalimat yang agung. Menjaga Allah berarti menjaga syariat dan agama-Nya, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hal ini juga mencakup mempelajari agama dan syariat-Nya. Segala bentuk ibadah yang kamu lakukan, interaksi yang kamu jalani, serta doa yang kamu panjatkan kepada Allah, semuanya termasuk dalam menjaga Allah. Sebab, semua itu merupakan bagian dari penjagaan terhadap syariat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan siapa pun untuk menjaganya. Namun, yang dimaksud di sini adalah menjaga agama dan syariat-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS Muhammad: 7)

Bukan berarti kalian menolong Dzat Allah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahakaya dari segala sesuatu dan tidak membutuhkan siapa pun. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam ayat lain:

ذٰلِكَ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ

Demikianlah, apabila Allah menghendaki, Dia dapat membinasakan mereka.” (QS Muhammad: 4)

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعْجِزَهُۥ مِن شَىْءٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ

Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi.” (QS Fathir: 44)

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu” adalah kalimat yang menunjukkan bahwa setiap kali seseorang menjaga agama Allah, Allah akan menjaga dirinya, hartanya, keluarganya, serta agamanya. Yang paling utama dari semua itu adalah bahwa Allah akan menjaga agamanya, yaitu dengan melindunginya dari penyimpangan dan kesesatan. Setiap kali seseorang mendapatkan petunjuk, Allah akan menambah petunjuk baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS Muhammad: 17)

Setiap kali seseorang tersesat — wal ‘iyadzu billah — ia akan semakin bertambah kesesatannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan tertoreh di hatinya satu noktah hitam. Jika dia berhenti (dari kesalahan tersebut), memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. at-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan sahih.”)

Jika ia melakukan dosa yang kedua, maka akan ditambahkan lagi noktah hitam kedua, ketiga, dan keempat hingga hatinya menjadi tertutup.

Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kita semua.

Maka, maksud dari ‘penjagaan Allah’ adalah bahwa Allah akan menjaga agamamu, tubuhmu, hartamu, dan keluargamu. Namun, yang paling utama adalah penjagaan terhadap agama.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjaga kita dan kalian dalam agama ini.

Jagalah Allah, Niscaya Engkau akan mendapati-Nya di Hadapanmu

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” Dalam lafaz yang lain, “Engkau akan mendapati-Nya di depanmu.”

Jagalah Allah dengan menjaga syariat-Nya, yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, kamu akan mendapati Allah berada di hadapanmu. Ungkapan “di hadapanmu” dan “di depanmu” memiliki makna yang sama, yaitu bahwa kamu akan merasakan kehadiran Allah yang membimbingmu kepada setiap kebaikan dan melindungimu dari setiap keburukan. Hal itu terutama jika kamu menjaga Allah dengan senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya.

Sesungguhnya, ketika seseorang memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, Allah akan menjadi penolongnya dengan mencukupinya. Barang siapa yang Allah menjadi penolongnya, maka ia tidak lagi membutuhkan pertolongan dari siapa pun selain Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Wahai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS al-Anfal: 64)

Yakni, cukuplah bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِنْ يُّرِيْدُوْٓا اَنْ يَّخْدَعُوْكَ فَاِنَّ حَسْبَكَ اللّٰهُ

Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu).” (QS al-Anfal: 62)

Maka, jika Allah menjadi penolong seseorang dengan mencukupinya, tidak ada keburukan yang akan menimpanya. Oleh karena itu, beliau bersabda, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu,” atau “Engkau akan mendapati-Nya di depanmu.” Yang dimaksud dengan menjaga-Nya adalah menjaga syariat-Nya, terutama dengan bertawakal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Jika Meminta, maka Mintalah kepada Allah

Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah,” yaitu jangan bergantung kepada siapa pun dari makhluk. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.

Misalnya, seseorang yang miskin dan tidak memiliki harta memohon kepada Allah dengan berkata, “Ya Allah, berilah aku rezeki. Ya Allah, mudahkanlah aku mendapatkan rezeki.” Maka, rezeki akan datang kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebaliknya, jika seseorang meminta kepada manusia, mereka mungkin memberinya atau justru menolaknya. Oleh karena itu, dalam hadis disebutkan:

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

Sungguh, seseorang di antara kalian mengambil talinya, kemudian ia mengumpulkan kayu bakar di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia mendatangi seseorang untuk meminta, yang mungkin memberinya atau menolaknya.” (HR al-Bukhari)

Demikian pula, jika kamu meminta, maka mintalah hanya kepada Allah. Ucapkanlah, “Ya Allah, berilah aku rezeki,” atau “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu,” serta doa-doa serupa yang kamu panjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika Memohon Pertolongan, maka Mohonlah Pertolongan kepada Allah

Sabdanya, “Jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Memohon pertolongan berarti meminta bantuan. Janganlah kamu meminta bantuan kepada manusia kecuali dalam keadaan sangat darurat. Jika pun terpaksa meminta bantuan kepada makhluk, jadikan hal itu sebagai sarana dan sebab, bukan sebagai sandaran utama yang kamu andalkan. Jadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai sandaran utama. Oleh karena itu, jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah kepada Allah.

Dalam dua kalimat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa meminta kepada selain Allah merupakan bentuk kekurangan dalam tauhid. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk membenci kebiasaan meminta kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, baik dalam urusan kecil maupun besar. Janganlah meminta kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan janganlah memohon pertolongan kecuali kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika Dia menghendaki untuk menolongmu, maka Dia akan mempermudah pertolongan tersebut bagimu, baik melalui sebab-sebab yang kamu ketahui maupun melalui sebab-sebab yang tidak kamu ketahui.

Allah mungkin menolongmu melalui sebab-sebab yang tidak kamu ketahui, sehingga Dia menghindarkan darimu keburukan yang tidak seorang pun mampu menahannya. Dia juga mungkin menolongmu melalui tangan seseorang dari makhluk-Nya yang Dia tundukkan dan jadikan patuh hingga orang itu membantumu. Namun, jika Allah menolongmu melalui tangan seseorang, tidak diperbolehkan bagimu untuk melupakan Sang Pemberi sebab, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Seperti yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh saat ini yang terlalu bergantung pada sebab dan lemahnya ketergantungan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mendapatkan pertolongan yang nyata dari negara-negara kafir. Mereka tidak menyadari bahwa orang-orang kafir adalah musuh mereka hingga Hari Kiamat, baik mereka memberikan pertolongan maupun tidak.

Namun, yang memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini merupakan bagian dari pengaturan-Nya Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana disebutkan dalam hadis,

إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Sesungguhnya Allah memperkuat agama ini melalui orang yang fasik.” .” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Maka kita wajib untuk tidak melupakan karunia Allah yang telah menundukkan mereka untuk kita. Kita juga wajib mengingatkan masyarakat umum, jika kita mendengar seseorang bergantung sepenuhnya kepada mereka dan berkata bahwa mereka sepenuhnya telah menolong kita seratus persen, bahwa mereka adalah yang pertama dan terakhir. Kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa pernyataan semacam itu merupakan kekeliruan dalam tauhid. Wallahu a’lam.

Tidak akan Memberi Manfaat atau Mudarat kecuali dengan Sesuatu yang telah Allah Tetapkan

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat menimpakan bahaya kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam kalimat ini bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Maka jika kamu mendapatkan manfaat dari mereka, ketahuilah bahwa itu berasal dari Allah, karena Dia-lah yang telah menetapkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Jika mereka berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat melakukannya.” Namun, beliau berkata, “Mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.”

Manusia, tanpa diragukan lagi, saling memberi manfaat, saling membantu, dan saling menolong. Namun, semua itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk manusia. Oleh karena itu, segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla.  Dia-lah yang menundukkan orang untuk memberimu manfaat, berbuat baik kepadamu, dan menghilangkan kesusahanmu.

Demikian pula sebaliknya, jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.

Keimanan terhadap hal ini mengharuskan seseorang untuk sepenuhnya bergantung kepada Rabb-nya dan bertawakal kepada-Nya, bukan kepada makhluk. Sebab, dia menyadari bahwa jika seluruh makhluk berkumpul untuk mencelakakannya dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya. Saat itu, ia menggantungkan harapannya hanya kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, tanpa peduli kepada makhluk, bahkan jika mereka semua berkumpul melawannya. Oleh karena itulah, kita mendapati generasi salaf umat ini, ketika mereka bergantung dan bertawakal kepada Allah, tipu daya para pendengki dan kedengkian orang-orang yang iri tidak mampu membahayakan mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 120)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” Artinya, apa yang telah Allah tetapkan telah selesai, dan lembaran-lembaran telah kering dari tinta, sehingga tidak ada lagi perubahan. Maka apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu, sebagaimana dalam lafaz lain: “Apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu.”

Kemenangan Bersama Kesabaran

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran.”

Artinya, ketahuilah dengan penuh keyakinan bahwa kemenangan selalu bersama kesabaran. Maka jika kamu bersabar dan melakukan apa yang Allah perintahkan kepadamu dari berbagai sebab yang mendatangkan kemenangan, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menolongmu.

Kesabaran yang dimaksud di sini mencakup kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menjauhi maksiat kepada-Nya, dan kesabaran dalam menerima takdir-Nya yang menyakitkan. Hal ini penting karena musuh dapat menyerang manusia dari berbagai sisi.

Kadang seseorang merasa tidak mampu menghadapi musuhnya, sehingga dia menyerah dan meninggalkan jihad. Ada pula yang memulai jihad, tetapi ketika mendapat gangguan, dia menyerah dan berhenti. Ada juga yang tetap bertahan dalam perjuangan, namun dia merasakan penderitaan dari musuhnya. Semua situasi ini memerlukan kesabaran.

Allah Ta’ala berfirman:

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa.” (QS Ali lmran: 140)

Dan firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَهِنُوْا فِى ابْتِغَاۤءِ الْقَوْمِ ۗ اِنْ تَكُوْنُوْا تَأْلَمُوْنَ فَاِنَّهُمْ يَأْلَمُوْنَ كَمَا تَأْلَمُوْنَ ۚوَتَرْجُوْنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرْجُوْنَ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nisa’: 104)

Maka jika seseorang bersabar, berusaha untuk terus bersabar dan tetap teguh, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongnya.

Kelapangan Bersama Kesusahan

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,  “Ketahuilah bahwa kelapangan bersama kesusahan.”

Setiap kali suatu perkara semakin susah dan sempit, maka kelapangan semakin dekat, karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(-Nya).” (QS an-Naml: 62)

Maka, setiap kali suatu perkara semakin susah, bersabarlah dan tunggulah kelapangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,  “Ketahuilah bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”

Setiap kesulitan pasti diikuti oleh kemudahan. Bahkan, sesungguhnya kesulitan itu dikelilingi oleh dua kemudahan: satu kemudahan yang mendahuluinya dan satu kemudahan yang mengikutinya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS asy-Syarh: 5-6)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”

Hadis ini merupakan wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Seseorang dianjurkan untuk senantiasa mengingat dan berpegang teguh pada wasiat-wasiat yang penuh manfaat ini, yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Allah-lah yang memberikan taufik.

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH

Baca juga: IHSAN

Baca juga: ORANG YANG BERTAKWA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin