ZAKAT FITRAH

ZAKAT FITRAH

Hukum Zakat Fitrah

Hukum zakat fitrah adalah wajib. Hal itu berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah (kepada umat manusia pada bulan Ramadan).” (HR al-Bukhari dan Muslim) Juga berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah. (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Beberapa ulama menyatakan bahwa zakat fitrah telah dihapus. Hal itu berdasarkan hadis dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah fitrah sebelum turun perintah mengeluarkan zakat. Setelah perintah zakat turun, beliau tidak lagi menyuruh dan tidak juga melarang kami mengeluarkan sedekah fitrah. Tetapi kami tetap melakukannya.”

Pernyataan di atas ditanggapi oleh al-Hafizh rahimahullah bahwa di dalam sanad hadis tersebut terdapat seorang perawi yang majhul. Kalaupun hadis itu sahih, maka tidak ada dalil yang menunjukkan adanya nasakh (penghapusan) karena keberadaan perintah yang pertama sudah cukup. Turunnya suatu kewajiban tidak mengharuskan gugurnya kewajiban lainnya.

Di dalam kitab Ma’alimus Sunan, al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Ini tidak menunjukkan gugurnya kewajiban, sebab tambahan jenis ibadah tidak mengharuskan penghapusan hukum aslinya. Hanya saja, zakat-zakat itu dalam hal harta, sedangkan zakat fitrah dalam hal jiwa.”

Kepada Siapa Zakat Fitrah Diwajibkan?

Zakat fitrah diwajibkan kepada anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka, dan budak dari kalangan kaum muslimin. Hal itu berdasarkan hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma masak atau satu sha’ gandum kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mewajibkan zakat fitrah kepada budak kafir, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Tidak ada kewajiban zakat pada seorang budak, kecuali zakat fitrah.” (HR Muslim)

Hadis ini bersifat umum, sedangkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bersifat khusus. Sebagaimana diketahui bahwa yang khusus menjadi pemutus bagi yang umum.

Sebagian ulama lainnya berkata, “Zakat fitrah tidak diwajibkan kecuali kepada orang yang berpuasa.” Hal itu berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan, kata-kata kotor, sekaligus untuk memberi makan orang-orang miskin.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Di dalam kitab Ma’alimus Sunan, al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Zakat fitrah wajib bagi setiap orang yang berpuasa, baik orang kaya yang memiliki kekayaan maupun orang fakir yang mengeluarkannya dari persediaan makanannya. Jika hukum wajibnya karena penyucian, maka setiap orang yang berpuasa membutuhkannya. Oleh karena itu, jika mereka telah tergabung dalam ‘illat (alasan)nya, berarti mereka telah bergabung dalam hukum wajibnya.”

al-Hafizh rahimahullah menanggapi, “Penyebutan penyucian diperuntukkan bagi sesuatu yang bersifat mayoritas, sehingga ia wajib pula atas orang yang tidak berdosa, seperti orang yang merealisasikan kesalihan atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum tenggelamnya matahari.”

Ada juga yang mewajibkan zakat fitrah pada janin yang masih dalam kandungan. Tetapi kami tidak menemukan dalil mengenai hal itu. Janin tidak bisa disebut anak kecil, baik menurut bahasa maupun tradisi.

Jenis Makanan yang Dikeluarkan untuk Zakat Fitrah

Zakat fitrah yang dikeluarkan berupa satu sha’ (± 2,5 liter) gandum, satu sha’ kurma, satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis). Hal itu berdasarkan hadis dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu: “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis).” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Juga berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ سَلَتٍ

Zakat fitrah diwajibkan satu sha’ gandum sya’ir, satu sha’ tamr (kurma), atau satu sha’ salt.” (HR Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim)

Terjadi perbedaan penafsiran kata ath-tha’am (makanan) yang disebutkan di dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri di atas. Ada yang berpendapat bahwa ath-tha’am adalah hinthah (biji gandum). Ada juga yang berpendapat lain. Yang lebih menenteramkan hati adalah bahwa kata ini bersifat umum yang mencakup semua makanan yang ditakar, seperti gandum dan jenis makanan lain yang disebutkan di atas, termasuk tepung. Semua itu pernah dilakukan pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat di bulan Ramadan (fitrah) satu sha’ makanan kepada anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan budak. Barangsiapa mengeluarkan salt, maka zakatnya diterima.” Aku kira dia berkata: “Barangsiapa memberikan tepung, maka zakatnya diterima. Barangsiapa mengeluarkan sawiq (jenis tepung), maka zakatnya diterima.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan sanad sahih)

Masih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Zakat Ramadan (zakat fitrah) adalah satu sha’ makanan. Barangsiapa membayar zakat berupa gandum burr, zakatnya diterima. Barangsiapa mengeluarkan gandum sya’ir, maka zakatnya diterima. Barangsiapa mengeluarkan kurma, maka zakatnya diterima. Barangsiapa mengeluarkan salt, maka zakatnya diterima. Barangsiapa mengeluarkan anggur kering (kismis), maka zakatnya diterima.” Aku kira dia berkata, “Barangsiapa mengeluarkan tepung, maka zakatnya diterima.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan sanad sahih)

Adapun hadis-hadis yang menafikan keberadaan hinthah atau bahwa Mu’awiyah berpendapat agar mengeluarkan dua mud samra’ Syam (Syria) dan dianggap setara dengan satu sha’, maka hal itu harus dipahami disebabkan minimnya jenis makanan tersebut dan melimpahnya jenis makanan lain, selain keberadaannya yang sering menjadi makanan mereka. Makna tersebut diperkuat oleh ungkapan Abu Sa’id, “Makanan kami dahulu adalah gandum sya’ir, anggur kering (kismis), keju (aqith), dan kurma.” (HR al-Bukhari)

Tali perbedaan mengenai hal di atas diputus oleh hadis-hadis sahih lagi jelas yang memberikan penjelasan berikutnya tentang ukuran zakat fitrah yang harus dikeluarkan, tentang keberadaan hinthah, dan tentang apakah dua mud hinthah setara dengan satu sha’. Hal itu disampaikan agar kaum muslimin mengetahui ukuran yang telah ditetapkan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baiknya. Selain itu bahwa pendapat Mu’awiyah bukan ijtihad yang menjadi pendapatnya, melainkan berdasarkan hadis marfu’ (dihubungkan sampai kepada Rasulullah).

Ukuran Zakat Fitrah

Hendaklah seorang muslim mengeluarkan satu sha’ makanan dari jenis makanan yang telah disebutkan di atas. Terjadi perbedaan pendapat mengenai hinthah. Ada yang mengatakan setengah sha’, dan ini adalah pendapat yang rajih (kuat) dan sahih. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَدُّوا صَاعًا مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَنْ كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ وَ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ

Keluarkanlah satu sha’ gandum burr atau gandum qamh untuk dua kepala atau satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum sya’ir untuk setiap orang merdeka, budak, anak kecil, maupun orang dewasa.” (HR Ahmad)

Ukuran sha’ yang diakui adalah sha’ penduduk Madinah. Hal itu berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ، وَالْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ

Timbangan (yang menjadi standar) adalah timbangan penduduk Makkah, sedangkan takaran (yang menjadi standar) adalah takaran penduduk Madinah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i dan al-Baihaqi dengan sanad sahih)

Untuk Siapa Zakat Fitrah Dikeluarkan?

Seorang muslim boleh mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan siapa saja yang menjadi tanggungannya, baik anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka, atau budak. Hal itu berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengerluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan budak, yang termasuk ke dalam tanggungan kalian.” (HR ad-Daraquthni dan al-Baihaqi)

Pihak-Pihak yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Zakat fitrah hanya diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang miskin, berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan, kata-kata kotor, sekaligus untuk memberi makan orang-orang miskin.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Inilah yang dipilih oleh Syikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, dan juga muridnya, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’ad.

Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah diberikan kepada delapan ashnaf. Ini jelas pendapat yang tidak berdalil, dan pendapat ini disanggah oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya di atas. Silakan dirujuk karena ini sangat penting.

Di antara yang disunahkan adalah adanya panitia pengumpul dan penyalur zakat fitrah. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menugaskan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahuku agar aku menjaga zakat Ramadan (fitrah).” (HR al-Bukhari)

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah membayar zakat fitrah kepada orang-orang yang mau mengumpulkannya, yaitu para amil yang ditunjuk oleh imam (pemimpin) untuk mengumpulkannya. Itu terjadi sehari atau dua hari sebelum hari raya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah melalui jalan Abdul Warits dari Ayyub, aku bertanya, “Kapan Ibnu Umar menyerahkan satu sha’?” Dia menjawab, “Jika amil (petugas zakat) telah duduk (melaksanakan tugasnya).” Kutanyakan lagi, “Kapan amil melaksanakan tugasnya?” Dia menjawab, “Satu atau dua hari sebelum Idul Fitri.”

Zakat fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat menunaikan salat Id, tidak boleh ditunda setelah salat atau mendahulukannya, kecuali satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. Hal itu sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berdasarkan kaidah, perawi hadis lebih mengetahui makna riwayatnya. Jika penyerahan zakat fitrah dilakukan setelah salat, maka itu hanya merupakan sedekah biasa. Hal itu sesuai dengan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Barangsiapa menunaikannya sebelum salat, maka itu termasuk zakat yang diterima. Barangsiapa menunaikannya setelah salat, maka itu termasuk salah satu dari sedekah biasa.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Hikmah Zakat Fitrah

Zakat fitrah diwajibkan oleh Rabb Pembuat syariat (Allah) Yang Mahabijaksana sebagai penyuci bagi orang-orang yang berpuasa dari kesia-siaan, kata-kata kotor, sekaligus sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin, yang dapat memberi kecukupan kepada mereka pada hari yang penuh kegembiraan itu. Hal itu sesuai dengan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma terdahulu.

Baca juga: ZAKAT DAN SYARAT-SYARATNYA

Baca juga: AKIBAT MENOLAK MEMBAYAR ZAKAT

Baca juga: LAILATUL QADAR

Baca juga: CARA MEMBAYAR FIDYAH

(Syekh Ali bin Hasan bin al-Halabi dan Syekh Salim bin Ied al-Hilali)

Fikih