TIGA WAKTU YANG TIDAK TEPAT UNTUK BERKUNJUNG

TIGA WAKTU YANG TIDAK TEPAT UNTUK BERKUNJUNG

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلٰثَ مَرّٰتٍۗ مِنْ قَبْلِ صَلٰوةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِّنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْۢ بَعْدِ صَلٰوةِ الْعِشَاۤءِ

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kalian meminta izin kepada kalian pada tiga kali (kesempatan) yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya.” (QS an-Nur: 58)

Allah mengarahkan kaum mukminin agar menahan para pembantu dan anak-anak yang belum balig untuk tidak masuk ke kediaman mereka pada tiga waktu aurat: sebelum salat Subuh, tengah  hari, dan setelah salat Isya. Alasan pelarangan tersebut adalah bahwa waktu-waktu itu adalah waktu-waktu yang biasanya digunakan untuk beristirahat, tidur, atau mendatangi istri. Seseorang dilarang masuk pada ketiga waktu itu kecuali dengan izin pemilik rumah.

Berkunjung di tiga waktu itu tidak diragukan lagi dapat mengganggu ketenangan pemilik rumah dan mengeruhkan suasana, kecuali jika diundang untuk menghadiri acara walimah, makan siang, atau makan malam.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Jarang sekali Rasulullah mendatangi suatu rumah di waktu pagi dan petang dalam satu hari kecuali rumah Abu Bakr. Dan ketika beliau telah diperbolehkan untuk keluar menuju Madinah (hijrah), tidaklah ada sesuatu yang mengagetkan kami selain beliau mendatangi kami di waktu Zuhur. Lalu Abu Bakr memberitahukan kami, ‘Tidaklah Nabi mendatangi kita pada waktu tersebut melainkan karena sesuatu yang penting telah terjadi.’” (HR al-Bukhari, Ahmad, dan Abu Dawud)

Dalam riwayat lain, Aisyah berkata, “Aku tidak menyadari kedua orang tuaku melainkan keduanya telah memeluk agama ini. Tidaklah berlalu atas keduanya suatu hari melainkan datang kepada kami Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam di kedua tepi siang: pagi dan sore. Ketika kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakr di siang hari, seseorang berkata, ‘Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada saat yang tidak biasa beliau datang padanya.’ Abu Bakr berkata, ‘Tidaklah beliau datang pada saat seperti ini kecuali untuk suatu urusan (yang sangat penting).’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي بِالْخُرُوجِ

Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku untuk keluar (berhijrah).’” (HR al-Bukhari)

Yang menjadi dalil dari hadis ini adalah kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu yang bukan merupakan waktu berkunjung, yakni waktu tidur siang. Keheranannya Abu Bakr atas kedatangan Nabi pada waktu ini menunjukkan bahwa waktu ini bukanlah waktu yang tepat untuk berkunjung.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Di dalamnya disebutkan, “Ia berkata, ‘Jika sampai kepadaku sebuah hadis dari seseorang, aku akan mendatangi orang itu walaupun ia tengah tidur siang. Aku menjadikan jubahku sebagai alas kepala ketika aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Angin pun menghembuskan debu ke wajahku.’” (HR ad-Darimi)

Yang menjadi dalil dari atsar ini adalah bahwa karena bersemangat menuntut ilmu dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, Ibnu Abbas lebih memilih untuk menunggu keluarnya orang yang hendak ia temui untuk diambil ilmunya. Ia menunggu orang itu keluar karena ia datang di waktu tidur siang atau di waktu orang-orang beristirahat.

Baca juga: BATASAN MENJAMU DAN MEMULIAKAN TAMU

Baca juga: DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

Baca juga: TIDAK MENJADI IMAM SALAT BAGI TUAN RUMAH

(Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub)

Adab