ORANG MATI DIIKUTI OLEH TIGA HAL

ORANG MATI DIIKUTI OLEH TIGA HAL

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Tiga hal mengikuti orang mati, dua kembali dan satu tetap bersamanya: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, dan amalnya  tetap bersamanya.” (Muttafaq ‘alaih)

 al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah dalam risalahnya yang sangat baik menjelaskan hadis ini:

Penjelasan hadis ini adalah bahwa anak Adam ketika di dunia memiliki keluarga yang ia bergaul dengannya. Ia juga memiliki harta yang menopang hidupnya. Kedua sahabat ini selalu menyertainya dalam hidupnya. Akan tetapi, suatu saat ia harus berpisah dengan mereka. Oleh karena itu, orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan keluarga dan hartanya sarana untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dan menafkahkannya di jalan-Nya. Dia mengambil harta sebatas kebutuhan yang dapat menyampaikan dirinya ke akhirat dan menikahi istri salehah yang dapat menyokong keimanannya. Sedangkan orang yang menyibukkan diri dengan harta dan keluarga yang melalaikannya dari mengingat Allah Ta’ala adalah orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta’ala, tentang orang Arab badui:

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا

Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.” (QS al-Fath: 11)

Juga firman  Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anakanak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itu adalah orang-orang yang merugi.” (QS al-Munafiqun: 9)

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ جِبْرِيْلُ، فَقَالَ: يَامُحَمَّد، عِشْ مَاشِئْتَ، فَإِنَّكَ مَيِّتَ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَاشِئْتَ، فَإِنَّكَ مَجْزِى بِهِ، ثُمَّ قَالَ: شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَام اللَّيِلِ وَعِزُّهُ اِسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Jibril datang kepadaku dan berkata, Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu, (tetapi ingatlah bahwa) sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapa pun yang engkau kehendaki, (tetapi ingatlah bahwa) sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah sekehendakmu, (tetapi ingatlah bahwa) sesungguhnya engkau pasti akan mendapat balasannya.’ Kemudian dia berkata, Wahai Muhammad, kemuliaan seorang mukmin adalah saat salat malam, dan kehormatannya adalah karena ia tidak tergantung pada orang lain.’” (HR al-Hakim)

Apabila seseorang mati dan meninggalkan dunia, dia tidak mendapatkan manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali doa dan permohonan ampun mereka bagi dirinya, amal-amal mereka yang mendatangkan manfaat bagi dirinya yang telah dijelaskan oleh syariat, dan apa-apa yang dikeluarkan dari hartanya untuk kebutuhan dirinya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS al-Asyu’ara: 88-89)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ

Dan kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada mulanya. Dan kalian meninggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepada kalian.” (QS al-An’am: 94)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim)

Adapun sahabat pertama, yaitu keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun kepadanya setelah kematiannya kecuali mereka yang berdoa dan memintakan ampun baginya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Terkadang keluarga tidak melakukan hal-hal tersebut. Malah orang lain melakukannya sehingga orang lain lebih memberikan manfaat baginya daripada keluarganya, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh seorang yang saleh, “Keluargamu sibuk membagi-bagikan warisan yang engkau tinggalkan, sementara orang lain sedih dengan kematianmu dan berdoa untukmu di saat dirimu berada di lubang dalam tanah. Siapakah sesungguhnya keluarga dan siapakah musuhmu?” Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian.” (QS al-Tagabun: 14)

Adapun sahabat kedua, yaitu harta tidak mengiringinya dan tidak masuk ke dalam kubur. Kembalinya harta adalah sebagai kiasan bahwa harta tidak menemaninya di dalam kubur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لَلنَّاسِ

Dan apakah kamu, wahai anak Adam, memiliki hartamu selain apa yang kamu makan lalu kamu habiskan, atau yang kamu pakai lalu kamu usangkan, atau yang kamu sedekahkan lalu kamu membawanya pergi? Dan apa-apa selain itu, dia akan pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟

Siapakah di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih disukai daripada harta sendiri?

Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak seorang pun dari kami melainkan ia lebih menyukai harta sendiri.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

Sesungguhnya harta sendiri adalah harta yang disedekahkan, sedangkan harta ahli warisnya adalah harta yang disimpan.” (HR al-Bukhari)

Seorang hamba tidak akan mengambil manfaat apapun dari hartanya selain apa yang diinfakkan di jalan Allah Ta’ala. Harta yang dimakan dan dipakainya bukan miliknya (secara hakiki) dan tidak ada dosa atasnya kecuali yang disertai niat karena Allah Ta’ala. Dengan harta itu dia diberikan pahala secara mutlak.

Seorang raja berkata kepada Abu Hazim, seorang yang zuhud, “Kenapa kita membenci kematian?” Abu Hazim menjawab, “Karena engkau mengagungkan dunia. Engkau mengaggap bahwa apa yang engkau miliki adalah apa yang ada di hadapanmu sehingga engkau benci meninggalkannya. Seandainya engkau menyerahkannya untuk akhiratmu, tentu engkau akan senang segera bertemu dengannya (di akhirat).”

Allah Ta’ala berfirman:

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran: 92)

Setiap kali Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menyukai sesuatu dari hartanya, ia segera membelanjakannya di jalan Allah Ta’ala. Suatu hari ia mengendarai seekor unta miliknya. Ia merasa sangat menyukai unta itu. Ia pun segera turun dari unta itu dan menginfakkannya di jalan Allah Ta’ala.

Adapun sahabat ketiga, yaitu amal mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan menemaninya di sana. Amal itu akan bersamanya saat dia dibangkitkan menghadap Rabb alam semesta. Amal itu akan menyertainya saat ia dikumpulkan di padang Mahsyar, di berbagai situasi sulit di Hari Kiamat, saat meniti Shirat, dan saat ditimbang. Dengan amal itu pula seseorang akan ditentukan tempatnya, apakah di Surga atau di Neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS Fushilat: 46)

Allah Ta’ala berfirman:

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Barangsiapa kafir, maka dia sendiri yang menanggung (akibat) kekafirannya itu. Dan barangsiapa beramal saleh, maka mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan ) untuk diri mereka sendiri.” (QS al-Rum: 44)

Sebagian ulama salaf menafsirkan ayat ini, “Mereka mempersiapkan diri dengan kebutuhan di dalam kubur mereka. Maka amal saleh merupakan persiapan di dalam kubur bagi orang yang mengerjakannya. Di dalam kubur seorang hamba tidak memiliki apapun yang pernah dinikmatinya di dunia seperti kasur yang empuk, bantal, dan ranjang. Setiap hamba akan tidur dengan ranjang amal, apakah amal baik atau amal buruk. Orang yang berakal adalah orang yang memperindah rumah yang akan dia tinggali dalam jangka waktu yang lama, meskipun harus menghancurkan rumah yang akan segera dia tinggalkan. Dengan begitu, dia sama sekali tidak merugi, bahkan menjadi orang yang beruntung.

Ulama salaf yang lain berkata, “Berbuatlah untuk duniamu sekadar lamanya kamu menetap di dunia. Berbuatlah untuk akhiratmu sebanyak lamanya kamu akan tinggal di akhirat.”

al-Hasan berkata, “Seorang laki-laki mengiringi janazah saudaranya. Saat jenazah diturunkan ke liang lahat, ia berkata, ‘Aku tidak melihat sesuatu pun dari dunia yang menyertaimu selain tiga lembar kain. Demi Allah, aku meninggalkan di rumahku harta yang melimpah. Demi Allah, seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang ke rumah, niscaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku.”

al-Hasan berkata, “Laki-laki itupun kembali ke rumahnya dan menyedekahkannya. Dan ternyata orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz.”

Baca juga: SENGSARA ATAU BAHAGIAKAH BAYI YANG MENINGGAL?

Baca juga: MENGHADIAHKAN AMAL SALEH KEPADA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Baca juga: TAKZIAH (BELASUNGKAWA) YANG MASYRU’ DAN YANG DILARANG

(Dr Amin bin ‘Abdullah asy-Syaqawi)

Kelembutan Hati