SHALAWAT KEPADA NABI DAN KELUARGA MUHAMMAD

SHALAWAT KEPADA NABI DAN KELUARGA MUHAMMAD

335. Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Basyir bin Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, Allah Ta’ala telah memerintahkan kami agar bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah. Lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu?”

Beliau bersabda —setelah terdiam sejenak—,

قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

Ucapkanlah, ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.’ Adapun salam, maka sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 405)

Ibnu Khuzaimah menambahkan dalam riwayatnya: “Lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu apabila kami bershalawat kepadamu di dalam shalat kami?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/351 no. 711)

PENJELASAN

Shalawat kepada Nabi dan Keluarga Muhammad

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Bulughul Maram apa yang diucapkan oleh seseorang setelah tasyahud. Sebelumnya telah dijelaskan kepada kita hadis Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang tata cara tasyahud, yaitu:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ

hingga ucapan beliau:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Termasuk bagian dari tasyahud adalah shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu karena para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu. Lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu apabila kami bershalawat kepadamu dalam shalat kami?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.’

Ini juga termasuk yang mengikuti tasyahud, tetapi pelaksanaannya pada tasyahud akhir. Adapun tasyahud awal, maka tasyahud itu berakhir pada ucapan:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Kemudian setelah itu ia bangkit.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Zadul Ma’ad bahwa termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau meringankan tasyahud awal, sehingga seakan-akan beliau duduk di atas batu yang dipanaskan (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 23648, Abu Dawud no. 844, at-Tirmidzi no. 366, dan an-Nasa’i no. 1163); yakni di atas batu yang membara. Adapun tasyahud akhir, maka beliau memperlama dan mengulang-ulang bacaan di dalamnya.

Ucapan sahabat, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kami agar bershalawat kepadamu,” merujuk pada firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS al-Ahzab: 56)

Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, apakah makna shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Maknanya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu al-’Aliyah rahimahullah, yaitu bahwa shalawat adalah pujian Allah kepada beliau di hadapan para penghuni langit yang tertinggi, yakni di hadapan para malaikat yang didekatkan kepada Allah. Maksudnya, Allah memuji Nabi-Nya dan menyifatinya dengan sifat-sifat yang terpuji serta sanjungan. Inilah makna ucapan:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad.”

Apabila engkau mengucapkan, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad,” maka Allah akan bershalawat kepadamu sebagai balasannya sebanyak sepuluh kali (Diriwayatkan oleh Muslim no. 384). Hal ini merupakan pahala yang sangat besar. Alhamdulillah.

Ucapan beliau,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad.”

Muhammad adalah Rasulullah, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib al-Hasyimi al-Qurasyi.

Yang dimaksud dengan “keluarga Muhammad (Alu Muhammad)” pada tempat ini ditafsirkan sebagai para pengikut beliau di atas agamanya.

Adapun apabila diucapkan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya,” yakni apabila ketiga kelompok tersebut disebutkan sekaligus —keluarga, para sahabat, dan para pengikut— maka yang dimaksud dengan keluarga adalah kaum mukminin dari kalangan kerabat beliau. Yang dimaksud dengan para sahabat adalah orang-orang yang terbukti memiliki persahabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Persahabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditetapkan bagi orang yang pernah melihat beliau dalam keadaan beriman kepada beliau, kemudian meninggal dunia dalam keadaan demikian. Oleh karena itu, siapa saja yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau, lalu meninggal dunia dalam keadaan tersebut, maka ia adalah seorang sahabat, baik masa persahabatannya lama maupun singkat.

Adapun para pengikut beliau, maka mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada sunah beliau dalam akidah, ucapan, dan amalan.

Dengan demikian, “Alu Muhammad (keluarga Muhammad)” apabila disebutkan secara tersendiri, maka yang dimaksud adalah para pengikut beliau di atas agamanya. Setiap orang yang mengikuti beliau di atas agamanya, maka ia termasuk keluarga beliau ‘alaihish shalatu wassalam. Adapun apabila disebutkan, “Alu Muhammad, para sahabat Muhammad, dan para pengikut Muhammad,” maka yang dimaksud dengan Alu Muhammad adalah orang-orang mukmin dari kalangan kerabat beliau.

Tidaklah mengherankan jika suatu lafaz memiliki makna ketika disebutkan secara tersendiri, dan memiliki makna lain ketika digandengkan dengan lafaz yang lain. Banyak lafaz dalam bahasa Arab yang memiliki satu makna apabila berdiri sendiri, dan memiliki makna yang lain apabila disandingkan dengan lafaz selainnya. Semakin suatu lafaz disandingkan dengan lafaz yang lain, semakin sempit maknanya. Sebaliknya, semakin lafaz itu disebutkan secara tersendiri, maka maknanya semakin luas dan semakin mencakup. Yang penting adalah bahwa “Alu Muhammad” di sini disebutkan secara tersendiri, tanpa disertai penyebutan para sahabat maupun para pengikut. Oleh karena itu, maknanya mencakup seluruh pengikut beliau yang mengikuti syariat beliau.

Dalil bahwa alu bermakna para pengikut adalah firman Allah Ta’ala tentang keluarga Fir’aun:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Mereka dinampakkan kepada Neraka pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya Kiamat dikatakan, ‘Masukkanlah keluarga Fir’aun ke dalam azab yang paling keras.’” (QS Ghafir: 46)

Maksudnya adalah para pengikut Fir’aun. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah tentang Fir’aun:

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

Dia berjalan di depan kaumnya pada Hari Kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam Neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat yang dimasuki.” (QS Hud: 98)

Kaumnya adalah para pengikutnya yang mengikuti dirinya dalam kekufuran.

Penyair mengatakan tentang makna ini:

Keluarga Nabi adalah para pengikut agamanya,

baik dari kalangan non-Arab, orang-orang berkulit hitam, maupun orang-orang Arab.

Seandainya keluarga beliau hanya kerabat beliau semata,

niscaya orang yang bershalawat juga akan bershalawat kepada Abu Lahab yang durhaka.

Maksudnya bahwa yang dimaksud dengan alu (keluarga) bukanlah semata-mata kerabat, melainkan para pengikut beliau di atas agamanya.

Ucapan beliau,

كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

Sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim,” maksudnya adalah sebagaimana Engkau telah berkenan melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, maka berkenanlah pula melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Hal ini termasuk bentuk bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan-perbuatan-Nya.

Ucapan beliau,

كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim,” huruf (كَ) pada kalimat ini menunjukkan makna ta’lil (sebab), yang dimaksudkan sebagai bentuk bertawasul kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan sebelumnya kepada Ibrahim, agar Dia juga mengaruniakan nikmat yang serupa kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Dengan demikian, hal ini termasuk bentuk bertawasul dengan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan kebaikan-Nya yang telah Dia berikan sebelumnya, agar Dia berkenan memberikan perbuatan dan kebaikan yang berikutnya.

Huruf (كَ), sebagaimana dapat digunakan untuk menunjukkan makna tasybih (penyerupaan), juga dapat digunakan untuk menunjukkan makna ta’lil (sebab). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ

Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian.” (QS al-Baqarah: 198)

Maksudnya adalah karena Dia telah memberi petunjuk kepada kalian.

Demikian pula dalam firman-Nya:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا

Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian.” (QS al-Baqarah: 151)

Huruf (كَ) sering digunakan untuk menunjukkan makna ta’lil dalam bahasa Arab.

Apabila kita mengatakan bahwa huruf (كَ) pada doa shalawat di sini bermakna ta’lil, yaitu: “Sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim, maka limpahkanlah pula shalawat kepada Muhammad,” maka hilanglah persoalan yang dikemukakan oleh sebagian ulama. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diserupakan dengan shalawat kepada Ibrahim, padahal kaidah dalam bahasa Arab menyatakan bahwa sesuatu yang diserupakan (musyabbah) lebih rendah daripada sesuatu yang menjadi pembandingnya (musyabbah bih)?” Karena itu, kami mengatakan bahwa tidak perlu mengemukakan persoalan tersebut sama sekali. Bahkan, jadikanlah huruf (كَ) itu bermakna ta’lil (sebab), sehingga engkau akan selamat dari persoalan yang dikemukakan tersebut.

Baca juga: ORANG MATI DIIKUTI OLEH TIGA HAL

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – TASYAHUD AWAL

Baca juga: KABAR GEMBIRA BAGI ORANG YANG SABAR

Baca juga: RUKUN ISLAM – MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT

Baca juga: BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram