PENGARUH RIYA’ DALAM IBADAH

PENGARUH RIYA’ DALAM IBADAH

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:

Apakah hukum ibadah yang disertai dengan riya’?

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

Hukum ibadah yang disertai riya’ ada tiga macam:

1️⃣ Pendorong melakukan ibadah tersebut adalah ingin dilihat orang sejak awal

Contohnya adalah orang yang melakukan salat untuk Allah dengan maksud agar orang lain melihatnya sehingga orang lain memujinya atas salatnya. Ibadah seperti ini batal (tidak sah).

2️⃣ Riya’ menyertai ibadah di pertengahannya

Maksudnya, pendorong melakukan ibadah pada awalnya adalah karena Allah Ta’ala, kemudian datang riya’ di tengah ibadah. Ibadah yang disertai riya’ seperti ini tergantung jenis ibadahnya.

🅰️ Permulaan ibadah tidak berkaitan sama sekali dengan akhir ibadah. Maka, permulaan ibadah adalah sah dalam keadaan apapun, sedangkan akhir ibadah adalah batal dan tidak berpahala.

Contoh: Seseorang memiliki 100 riyal. Ia ingin bersedekah dengan uang itu. Lalu ia bersedekah 50 riyal dengan ikhlas. Ketika ingin bersedekah dengan 50 riyal sisanya, timbul riya’. Dalam keadaan demikian 50 riyal yang pertama adalah sedekah sahih yang diterima, sedangkan 50 riyal sisanya adalah sedekah batil karena bercampur dengan riya’.

🅱️ Permulaan ibadah berkaitan dengan akhir ibadah. Ibadah yang disertai riya’ ini tidak terlepas dari dua perkara:

🟢 Ia menolak riya’ dan tidak membiarkannya, bahkan ia berpaling dan membencinya. Pada keadaan seperti ini riya’ tidak berpengaruh sedikitpun pada ibadahnya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ

Sesungguhnya Allah Ta’ala memaafkan dari umatku hal-hal yang dibisikkan jiwanya selama mereka tidak melakukannya atau tidak berbicara (tentangnya).” (HR al-Bukhari dan Muslim)

🟢 Ia membiarkan riya’ itu dan tidak berusaha menolaknya. Pada keadaan seperti ini seluruh ibadahnya batal karena permulaan ibadah berkaitan dengan akhir ibadah.

Contoh: Ia memulai salat dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Kemudian datang riya’ pada rakaat kedua. Maka salatnya batal karena permulaan salat terkait dengan akhir salat.

3️⃣ Riya’ datang selesai ibadah

Riya’ ini tidak mempengaruhi ibadahnya dan tidak membatalkannya karena ia telah selesai beribadah dengan benar. Datangnya riya’ selesai ibadah tidak merusak ibadah tersebut.

Tidak termasuk riya’ apabila ia merasa senang orang-orang mengetahui ibadahnya, karena hal ini datang selesai ibadah. Tidak termasuk riya’ apabila ia merasa senang dengan ketaatan yang dilakukannya, karena hal itu merupakan bukti keimanannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ تَسُرُّهُ حَسَنَتُهُ وَتَسُوءُهُ سَيِّئَتُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Barangsiapa yang kebaikannya membuat dia senang dan keburukannya membuat dia sedih, maka dia adalah orang yang beriman.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan ia berkata, “Hasan sahih garib”, an-Nasai, Ibnu Hibban, al-Hakim dan ia mensahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hal itu. Beliau menjawab,

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

Itulah kabar gembira yang disegerakan bagi orang yang beriman.” (HR Muslim)

Jadi, dikatakan ibadah disertai riya’ apabila riya’ muncul sejak awal ibadah atau di pertengahan ibadah.

Baca juga: MAKNA IKHLAS

Baca juga: RIYA’ DAN SUM’AH

Baca juga: BERIBADAH ADALAH TUGAS UTAMA HIDUP MANUSIA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Serba-Serbi