KENAPA MANUSIA BERANI MEMAKAN MAKANAN HARAM?

KENAPA MANUSIA BERANI MEMAKAN MAKANAN HARAM?

Manusia menyibukkan diri dalam mencari harta tanpa peduli kehalalannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Manusia akan mengalami suatu zaman yang seseorang tidak lagi peduli dengan cara mendapatkan harta, apakah dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR al-Bukhari dan an-Nasa-i)

Hal itu karena mereka meremehkan Neraka yang Allah Ta’ala ancamkan kepada orang-orang yang memakan makanan haram. Demi Allah, Neraka sangat tidak pantas diremehkan. Bagaimana mungkin Neraka diremehkan padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“…yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim: 6)

Bagaimana mungkin Neraka diremehkan padahal Allah Ta’ala berfirman:

كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا

Setiap kali nyala api Jahanam akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (QS al-Isra: 97)

Bagaimana mungkin Neraka diremehkan padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

Api kalian ini (di dunia) yang dinyalakan oleh anak Adam hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api Jahanam.”

Para sahabat berkata, “Demi Allah, itu benar-benar sudah cukup (panas untuk menyiksa), wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,

فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا

Sesungguhnya api Jahanam (panasnya) dilebihkan dari api kalian dengan enam puluh sembilan bagian. Setiap bagiannya mempunyai panas seperti panasnya api di dunia.” (HR al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi)

Seandainya manusia benar-benar memerhatikan Neraka Allah Ta’ala, pasti mereka lebih memilih mengganjal perut mereka dengan batu daripada memakan makanan haram. Oleh karena itu, para istri di zaman salaf saleh, apabila suami mereka hendak keluar mencari rezeki, berkata kepadanya, “Bertakwalah kamu kepada Allah Ta’ala. Janganlah kamu pulang dengan membawa rezeki yang haram untuk kami karena kami mampu bersabar menahan lapar di dunia, tetapi tidak mampu bersabar menahan panas api Neraka di Hari Kiamat.”

Baca juga: PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG HALAL DAN BAIK

Baca juga: HIKMAH DIHARAMKANNYA RIBA

(Dr ‘Abdullah Azhim bin Badawi al-Khalafi)

Serba-Serbi