HEMAT DALAM KEADAAN FAKIR DAN KAYA

HEMAT DALAM KEADAAN FAKIR DAN KAYA

Hemat dalam keadaan fakir dan kaya termasuk di antara sifat-sifat orang yang dimuliakan dari kalangan hamba Allah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan ketika menyifati mereka:

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

Dan (termasuk hamba-hamba Rabb Yang Mahapengasih adalah) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta) mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir; di antara keduanya secara wajar.” (QS al-Furqan: 67)

Yaitu, mereka bukanlah orang-orang yang suka tabdzir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga menghamburkannya melebihi kebutuhan. Mereka juga bukan orang-orang yang pelit terhadap keluarga sehingga melalaikan hak-hak keluarganya dan tidak memberi kecukupan kepada keluarganya. Sebaliknya, mereka selalu berbuat baik dan berlaku adil. Dan sebaik-baik perkara adalah perkara yang berada di tengah-tengah; tidak tabdzir dan tidak pelit, “Di antara keduanya secara wajar.” (QS al-Furqan: 67) Hal itu mereka lakukan demi menerapkan adab Allah Ta’ala dan mengagungkan perintah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah). Nanti engkau menjadi tercela dan menyesal.” (QS al-Isra’: 29)

Seorang muslim adalah orang yang hemat, baik dalam keadaan fakir maupun kaya. Ia bukanlah orang yang bebas membelanjakan hartanya sehingga dia membelanjakannya sekehendaknya. Seorang muslim dalam membelanjakan hartanya berada pada pertengahan, yaitu antara israf (berlebih-lebihan) dan taqtir (pelit). Israf merupakan perusak jiwa, harta, dan masyarakat, sementara taqtir menyimpan harta hingga tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya, tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Harta adalah sarana sosial untuk mewujudkan pelayanan sosial, sedangkan israf dan taqtir dapat menimbulkan kesenjangan sosial dan ekonomi. Menahan harta dapat menimbulkan banyak krisis, demikian juga menghamburkannya tanpa perhitungan. Krisis tersebut dapat melebihi kerusakan hati dan akhlak. Agama Islam mengatur aspek kehidupan dengan dimulai dari pribadi masing-masing, lalu dia menjadikan keadilan sebagai karakter di antara karakter-karakter iman. “Di antara keduanya secara wajar.” (QS al-Furqan: 67)

Baca juga: SEDEKAH YANG PALING BESAR PAHALANYA

(Dr Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi)

Adab