DEMONSTRASI DALAM PANDANGAN ISLAM

DEMONSTRASI DALAM PANDANGAN ISLAM

Baru-baru ini penduduk Indonesia dirundung kegundahan, yaitu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang berakibat melonjaknya harga bahan pokok dan lainnya. Sebagian masyarakat dan aktivis pelajar tidak menerima keputusan pemerintah tersebut. Mereka menyikapinya dengan mengerahkan massa dan merapatkan barisan dalam rangka demonstrasi (unjuk rasa) dan menggembor-gemborkan kejelekan pemerintah di atas mimbar. Ujung-ujungnya, terjadi tindak anarkis, kekerasan, dan perusakan. Ini adalah sekelumit fenomena yang dapat kita rekam di tengah-tengah masyarakat.

Ketahuilah wahai saudaraku, tindakan-tindakan tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan melainkan justru memperuncing dan memperumit masalah. Ini termasuk penyakit jiwa. Jika ia melihat sesuatu yang tidak selaras dengan kehendaknya dan tidak disepakati oleh hawa nafsunya, maka muncul dalam jiwanya keluh kesah. Memang hal itu merupakan sifat bawaan manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS al-Ma’arij: 19-21)

Apakah Demonstrasi Termasuk Jalan Dakwah?

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan untuk menentang pemerintah dapat dianggap sebagai suatu jalan dakwah? Apakah orang yang mati karenanya dapat dianggap syahid fi sabilillah?”

Beliau menjawab, “Demonstrasi yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan bukan jalan keluar. Bahkan aku beranggapan bahwa hal itu termasuk sebab-sebab musibah, kejelekan, kebencian manusia, dan permusuhan antar manusia yang tidak sesuai dengan kebenaran. Adapun cara-cara yang disyariatkan adalah menulis surat, memberi nasihat, dan berdakwah kepada kebaikan dengan jalan yang telah ditetapkan dalam syariat yang caranya tentu saja telah dijelaskan oleh ahli ilmu, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang yang mengikuti beliau dalam kebaikan, yakni dengan menulis surat dan berhadapan langsung dengan pemerintah untuk memberikan nasihat tanpa menyebar-luaskan perbuatan mereka di atas mimbar sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Hanya Allah Ta’ala yang dapat menolong.”

Demonstrasi bukan Jalan Keluar dari Masalah

Tidak tersembunyi lagi bahwa mafsadat (kerusakan) yang diakibatkan oleh demonstrasi sangat besar. Demonstrasi bukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh rakyat terhadap pemerintah. Jika ingin menasihati pemerintah, bukan seperti itu caranya, melainkan menasihatinya secara syari’ dan ittiba’ kepada salafush shalih, yaitu menasihati secara sembunyi-sembunyi (tidak di depan publik), bukan dengan demonstrasi, bukan dengan mengerahkan masa sambil membawa spanduk-spanduk bertuliskan kritik terhadap pemerintah. Wal ‘iyadzu billah.

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menjadi bahan renungan dalam masalah ini,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ

Barangsiapa hendak menasihati penguasa pada suatu masalah, janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, melainkan hendaklah ia pegang tangannya (penguasa) dan menyendiri dengannya. Jika dia (penguasa) menerima, maka hal itu bagus. Jika tidak, maka ia telah menunaikan kewajiban memberikan nasihat.” (HR Ahmad. Disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Komentar Ulama tentang Dampak Buruk Demonstrasi

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya. Di dalamnya terdapat kericuhan, kekacau-balauan, keributan, dan gangguan keamanan, sehingga hal itu dilarang. Di samping itu, terdapat pemecahan kaca, pintu dan selainnya. Begitu pula terjadi ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) serta mengakibatkan kerusakan, kemungkaran dan yang semisalnya.”

Syekh al-Allamah Ahmad bin Yahya Muhammad an-Najmi rahimahullah tatkala mengomentari sebuah kelompok dakwah yang menyimpang dari syariat berkata, “Tanzhim (organisasi) berupa gerakan pengerahan masa dan demonstrasi (unjuk rasa), Islam tidak mengenal tindakan semacam ini dan tidak pula mengakuinya. Ini merupakan perkara yang baru. Bahkan demonstrasi adalah perbuatan orang-orang kafir yang telah ditiru oleh kebanyakan kaum kita (umat Islam). Lantas, apakah setiap kali orang-orang kafir melakukan sesuatu kita harus menyetujuinya? Sesungguhnya Islam tidak akan menang jika diraih dengan cara pengerahan massa dan unjuk rasa. Islam akan menang dengan jihad yang dibangun di atas akidah yang benar dan jalan yang di tempuh oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya para rasul dan pengikut mereka telah mendapatkan berbagai macam cobaan, tetapi mereka tidak diperintah melainkan agar bersabar.”

Solusi Terbaik dalam Menyikapi Keputusan Pemerintah

Mungkin timbul pertanyaan di benak kita: “Bila pemerintah mempunyai sikap yang tidak selaras dengan kita, tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala atau telah berbuat kezaliman dan lain-lainnya yang bersifat kontradiktif (berlawanan) dengan apa yang kita inginkan, bagaimana sikap kita terhadap pemimpin seperti itu? Bolehkah kita memberontak atau mengerahkan massa untuk berdemonstrasi terhadap mereka?”

Jawabannya: “Sikap terbaik bagi kita adalah bersabar dan tabah. Kita jangan terbawa oleh emosi dan sikap gegabah/serampangan yang kerap kali menjadikan pelakunya tidak dapat mengendalikan diri sehingga terjauhkan dari bimbingan cahaya ilahi dan menyimpang dari rel syar’i serta meniadakan keikhlasan karena menuntut bagian dari dunia untuk pribadi. Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmati kalian- bahwa sekalipun Islam memerintahkan kepada setiap pemimpin untuk berlaku adil, bijaksana dalam memimpin, dan memakmurkan rakyatnya, namun apabila tidak demikian kenyataannya, maka Islam memerintahkan kita untuk tetap mematuhi pemerintah selagi mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kita tidak diperkenankan memberontak demi menghindari timbulnya kerusakan yang lebih besar.

Cobalah kita renungkan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ

Akan muncul setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak akan mendapat petunjuk-Ku dan tidak mengikuti sunah-Ku, dan akan muncul di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika menjumpainya?”

Beliau menjawab,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Dengarkan dan taati pemimpin itu. Walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetap dengarkan dan taatilah.” (HR Muslim)

al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan, “Dua kalimat ini menghimpun kebahagiaan dunia dan akhirat. Wasiat takwa merupakan kunci kebahagiaan akhirat, sedangkan taat kepada pemimpin merupakan kunci kebahagiaan dunia.”

al-Imam al-Mubajjal Ahmad rahimahullah berkata, “Penguasa tidak boleh ditentang karena pedangnya terhunus.”

Jalan menuju Negeri yang Aman dan Tenteram

Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia, negeri yang aman yang jauh dari huru-hara, serta memiliki pemimpin ideal yang mampu mengayomi rakyatnya. Langkah untuk menggapainya adalah dengan meninggalkan segala bentuk kezaliman dan kembali kepada jalan Allah Ta’ala, sebagaimana dinyatakan dalam ayat al-Qur’an:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضًاۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim itu teman bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS al-An’am: 129)

Syekh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila hamba banyak melakukan kezaliman dan dosa, maka Allah Ta’ala akan menjadikan bagi mereka para pemimpin zalim yang mengajak kepada kejelekan. Sebaliknya, apabila mereka baik, saleh dan istikamah dalam ketaatan, maka Allah Ta’ala akan mengangkat bagi mereka para pemimpin yang adil dan baik.”

Jadi, semua yang terjadi di negeri kita tercinta ini merupakan ketetapan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Semestinya kita menyikapinya dengan sabar, tenang, dan tawakal kepada Allah Ta’ala. Itulah yang diwajibkan oleh syariat, bukan menyikapi dengan sibuk mencaci pemerintah, kudeta, emosi, demonstrasi, dan tindakan anarkis yang keluar dari jalur Islam. Namun, hal itu tidak berarti kita harus bersikap pasrah, pesimis, putus asa, dan mengeluh. Kita harus berusaha memperbaiki nasib dan keadaan, serta bersikap optimis. Hanya saja harus tetap berada pada koridor syar’i, sebagai perwujudan firman Allah Ta’ala:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d: 11)

Demikianlah, semoga Allah Ta’ala menjadikan negeri Indonesia negeri yang aman sentosa dan menjadikan pemimpin-pemimpinnya adil kepada rakyatnya, menjauhkan mereka dari perbuatan syirik, bidah, dan maksiat. Itulah yang menjadi harapan kita semua. Allahu ‘alam.

Baca juga: WAJIB MENAATI PEMIMPIN SELAMA BUKAN KEMAKSIATAN

Baca juga: DILARANG GIBAH

Baca juga: SEGERA TINGGALKAN PEKERJAAN BATIL

(Mukhlis Abu Dzar)

Serba-Serbi