Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan!” Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR Muslim)
al-Mutanatthi’un adalah orang-orang yang berlebih-lebihan, yang bersikap keras dan ekstrem pada perkara yang bukan tempatnya untuk bersikap keras.
PENJELASAN
Penulis rahimahullah dalam riwayat yang dia nukil dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Kebinasaan adalah lawan dari keberlangsungan, maksudnya mereka binasa dan merugi. Adapun al-mutanatthi’un adalah orang-orang yang bersikap keras dalam urusan agama maupun dunia mereka. Oleh karena itu, dalam hadis lain disebutkan,
لَا تُشَدِّدُوا فَيُشَدِّدَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ
“Janganlah kalian bersikap keras (berlebih-lebihan), maka Allah akan bersikap keras terhadap kalian.” (HR Abu Dawud, Abu Ya’la, dan al-Dhiya’ al-Maqdisi, serta dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar)
Perhatikanlah kisah Bani Israil ketika mereka membunuh seseorang. Mereka saling menuduh dan berselisih dalam kasus itu, hingga hampir saja terjadi fitnah di antara mereka. Maka Musa ‘alaihissalam berkata kepada mereka,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi betina.” (QS al-Baqarah: 67) Maksudnya, kemudian ambillah sebagian dari sapi itu dan pukulkanlah kepada orang yang terbunuh, maka ia akan memberitahu kalian siapa yang telah membunuhnya.
Mereka berkata kepadanya, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai olok-olokan?” Maksudnya, engkau menyuruh kami menyembelih seekor sapi betina lalu memukulkan sebagian darinya ke mayat itu, kemudian mayat itu akan memberitahu kami siapa yang membunuhnya?
Seandainya mereka menyerah dan menerima perintah Allah, lalu menyembelih sapi betina apa saja, tentu mereka akan mendapatkan maksud mereka. Namun, mereka justru mempersulit diri sehingga binasa.
Mereka berkata, “Berdoalah kepada Rabb-mu untuk menjelaskan kepada kami sapi apakah itu?” Lalu berkata lagi, “Berdoalah kepada Rabb-mu agar menjelaskan kepada kami apa warnanya?” Kemudian berkata lagi, “Berdoalah kepada Rabb-mu agar menjelaskan kepada kami bagaimana sifatnya dan apa pekerjaannya?”
Setelah mereka dipersulit, akhirnya mereka pun menyembelihnya, dan itu pun hampir saja mereka tidak melakukannya.
Demikian pula, termasuk bentuk berlebih-lebihan dalam ibadah adalah ketika seseorang memberatkan dirinya dalam shalat, puasa, atau ibadah lainnya yang sebenarnya telah Allah mudahkan baginya. Sebab, apabila ia memberatkan dirinya dalam hal yang Allah mudahkan, maka ia akan binasa.
Termasuk juga dalam hal ini adalah apa yang dilakukan sebagian orang sakit, terutama di bulan Ramadhan, ketika Allah telah membolehkannya berbuka, sementara ia sakit dan membutuhkan makan serta minum. Namun, ia tetap memberatkan dirinya dengan terus berpuasa. Maka dalam kondisi seperti ini, kita katakan bahwa hadis “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan” berlaku atas dirinya.
Termasuk juga dalam hal ini adalah apa yang dilakukan sebagian pelajar yang bersungguh-sungguh dalam bab tauhid. Ketika mereka menjumpai ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat-sifat Rabb ‘Azza wa Jalla, mereka mulai mengutak-atiknya, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak dibebani dengannya serta tidak ditempuh oleh salaf umat ini, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun imam-imam petunjuk setelah mereka. Maka kamu dapati seseorang menggali hal-hal yang bukan termasuk perkara yang dibebankan kepadanya, hanya sebagai bentuk berlebih-lebihan dan kesombongan dalam berbicara. Kepada mereka kami katakan, “Jika apa yang mencukupi para sahabat radhiyallahu ‘anhum mencukupi bagi kalian, maka berhentilah (cukupkan diri dengan itu). Namun jika itu tidak mencukupi bagi kalian, maka semoga Allah tidak melapangkan bagi kalian. Yakinlah bahwa kalian pasti akan terjerumus dalam kesulitan, kesempitan, dan kegelisahan.”
Contohnya, sebagian orang berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki jari-jari,” sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati-hati bani Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, bagaikan satu hati, yang Dia bolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” (HR Muslim)
Lalu datang orang yang berlebih-lebihan. Mereka mulai mencari-cari dengan bertanya, “Jari-jari itu berapa jumlahnya? Apakah mereka memiliki ruas? Berapa ruasnya?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang semisal itu.
Demikian pula misalnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ
“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Lalu seseorang berkata, “Bagaimana cara Dia turun? Bagaimana Dia turun pada sepertiga malam, sedangkan sepertiga malam berputar di seluruh bumi? Itu berarti Dia selalu turun.” Dan ucapan-ucapan semisal itu adalah ucapan yang mereka tidak diberi pahala atasnya, tidak dipuji karenanya, bahkan mereka lebih dekat kepada dosa daripada keselamatan, dan lebih dekat kepada celaan daripada pujian.
Perkara-perkara seperti ini, yang dibebankan kepada manusia untuk ditinggalkan padahal ia termasuk perkara ghaib, tidak pernah ditanyakan oleh orang-orang yang lebih baik darinya dan lebih bersemangat dalam mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka, wajib baginya menahan diri dari membahasnya dan berkata, “Kami dengar dan kami taati, kami membenarkan dan kami beriman.” Adapun mencari-cari hal-hal yang merupakan perkara ghaib, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk sikap berlebih-lebihan (tanattu’).
Termasuk juga dalam hal ini adalah apa yang dilakukan sebagian pelajar, yaitu memasukkan berbagai kemungkinan akal ke dalam dalil-dalil lafaz. Maka kamu dapati dia berkata, “Ini mungkin begini, mungkin begitu,” hingga akhirnya faedah dari nash hilang, dan nash itu seluruhnya menjadi goyah sehingga tidak dapat diambil manfaat darinya.
Ini adalah kesalahan.
Peganglah makna zahir dari nash-nash, dan tinggalkanlah berbagai kemungkinan akal. Sebab, jika kita membuka peluang bagi kemungkinan-kemungkinan akal terhadap dalil-dalil lafaz dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya tidak akan tersisa satu hadis pun atau satu ayat pun yang bisa dijadikan dalil. Semuanya akan bisa diperdebatkan. Padahal, hal-hal akal itu bisa jadi hanyalah ilusi dan bisikan dari setan yang dilemparkan ke dalam hati manusia, hingga mengguncang akidah dan imannya. Wal’iyadzu billlah.
Termasuk juga adalah apa yang dilakukan sebagian orang yang berlebih-lebihan dalam wudhu. Misalnya, kamu dapati ia berwudhu tiga kali, empat kali, lima kali, tujuh kali, atau bahkan lebih, padahal ia tidak memiliki kebutuhan untuk itu dan dalam keadaan sehat.
Disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dahulu ketika berwudhu, tanah di bawahnya tidak terdapat selain hanya titik-titik air, karena sedikitnya air yang beliau gunakan. Sementara sebagian orang justru berlebih-lebihan dalam menggunakan air, maka Allah pun menyulitkannya. Apabila ia mengikuti was-was ini, maka berwudhu empat, lima, enam kali, atau bahkan lebih pun tidak akan mencukupinya. Ia terus mengikuti bisikan setan hingga keluar dari batas kewajaran, sampai-sampai orang akan berkata, “Adakah orang berakal yang berperilaku seperti ini?”
Demikian pula dalam mandi janabah, ada orang yang bersusah payah dengan kesusahan yang besar ketika mandi, misalnya dengan memasukkan air ke dalam telinganya dan ke dalam lubang hidungnya. Semua ini termasuk dalam sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Maka setiap orang yang memberatkan dirinya dalam perkara yang sebenarnya Allah telah memberi kelapangan padanya termasuk dalam hadis ini.
Allah-lah yang memberi taufik.
Baca juga: BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Baca juga: LARANGAN MAKAN SECARA BERLEBIH-LEBIHAN
Baca juga: ALLAH MENGHARAMKAN KEZALIMAN DI ANTARA MANUSIA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

