Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إنَّ الله تَعَالَى يَغَارُ، وَغَيرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيهِ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki rasa cemburu, dan kecemburuan Allah Ta’ala adalah ketika seseorang melakukan apa yang diharamkan oleh-Nya.” (Muttafaq ‘alaih)
PENJELASAN
Penulis rahimahullah menyebutkan dalam riwayat yang dinukil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki rasa cemburu, dan kecemburuan Allah Ta’ala adalah ketika seseorang melakukan apa yang diharamkan oleh-Nya.”
Perkataannya: “محارمه” (larangan-Nya), maksudnya adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Cemburu (al-ghairah) adalah sifat hakiki yang tetap bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, cemburu-Nya tidak serupa dengan cemburu makhluk. Sebaliknya, cemburu Allah jauh lebih agung dan mulia. Dengan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya sejumlah kewajiban, mengharamkan atas mereka berbagai larangan, dan menghalalkan bagi mereka perkara-perkara tertentu.
Apa yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya adalah kebaikan bagi mereka, baik dalam agama maupun dunia mereka, serta bermanfaat untuk masa kini dan masa depan mereka. Sebaliknya, apa yang diharamkan-Nya adalah keburukan yang mendatangkan kerugian dalam agama dan dunia mereka, baik saat ini maupun di masa mendatang. Oleh karena itu, ketika Allah mengharamkan sesuatu atas hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Dia ‘Azza wa Jalla memiliki rasa cemburu jika seseorang melanggar larangan-Nya. Bagaimana mungkin seorang hamba berani melanggar larangan Rabb-nya, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan hal tersebut demi kebaikan mereka sendiri?
Pelanggaran manusia terhadap larangan Allah tidak akan merugikan-Nya sedikit pun, tetapi Allah memiliki rasa cemburu ketika manusia, yang mengetahui Allah Mahabijaksana dan Mahapenyayang, tetap melanggar aturan-Nya.
Allah tidak mengharamkan sesuatu karena sifat kikir, melainkan demi kemaslahatan hamba-Nya. Namun, banyak manusia mendahulukan hawa nafsu sehingga bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terutama dalam perkara-perkara besar seperti zina. – Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan tersebut. – Dalam hal ini, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَحَدٌ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ أَوْ أَمَتَهُ تَزْنِي
“Wahai umat Muhammad, tidak seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah ketika Dia melihat hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR al-Bukhari)
Hal itu karena zina adalah perbuatan keji yang sangat tercela. Zina merupakan jalan yang hina dan buruk, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan zina atas hamba-hamba-Nya, termasuk seluruh jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra: 32)
Maka, ketika seorang hamba berzina – semoga Allah melindungi kita darinya – sesungguhnya Allah memiliki rasa cemburu yang lebih besar dan lebih dahsyat dibandingkan dengan cemburu-Nya terhadap pelanggaran larangan-larangan lainnya.
Demikian pula – bahkan lebih utama dan lebih berat lagi – adalah perbuatan homoseksual, yaitu mendatangi sesama laki-laki. Sesungguhnya, dosa ini lebih besar dan lebih dahsyat dibandingkan zina. Oleh sebab itu, Allah menjadikannya sebagai perbuatan yang lebih keji dibandingkan zina, sebagaimana Nabi Luth berkata kepada kaumnya:
اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ
“Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” (QS. al-A’raaf: 80)
Di sini, Allah menyebut perbuatan homoseksual dengan istilah “al-fahisyah”, menggunakan bentuk ma’rifah (definitif) yang menunjukkan bahwa perbuatan ini adalah kekejian yang paling besar dan sangat tercela. Sementara itu, dalam konteks zina, Allah menggunakan istilah “fahisyah” tanpa alif-lam, menunjukkan bahwa zina adalah salah satu perbuatan keji di antara berbagai kekejian lainnya. Adapun homoseksual (liwath), Allah menjadikannya sebagai bentuk kekejian yang paling besar, melebihi zina. –Kita memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah dari segala perbuatan keji dan melampaui batas.
Demikian pula, perbuatan mencuri, meminum khamr, dan segala bentuk pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan perkara yang menimbulkan rasa cemburu dari-Nya. Namun, tingkat kecemburuan Allah terhadap setiap perbuatan yang diharamkan berbeda-beda, tergantung pada besar kecilnya dosa tersebut dan dampak buruk yang ditimbulkannya. Semakin besar kemaksiatan dan kerusakan yang diakibatkan, semakin besar pula rasa cemburu Allah terhadapnya.
Dalam hadis ini terdapat penetapan sifat cemburu (al-ghairah) bagi Allah Ta’ala. Adapun metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami sifat ini, sebagaimana sifat-sifat lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah menetapkannya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara yang layak bagi-Nya. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah memiliki rasa cemburu, tetapi cemburu-Nya tidak seperti cemburu makhluk. Allah juga merasa senang, tetapi senang-Nya tidak seperti senang makhluk.” Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagungan-Nya. Sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS asy-Syura: 11)
Dan Allah-lah yang memberikan taufik.
Baca juga: KEDUDUKAN KHAUF (RASA TAKUT)
Baca juga: ZINA DAN AKIBATNYA
Baca juga: FAEDAH TAUHID
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

