Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, dan Dia lebih dekat kepadanya daripada urat leher, yaitu ketika dua malaikat pencatat menerima amal, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lainnya di sebelah kiri. Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.
Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia yang paling mulia. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Amma ba’du:
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwa tidak seorang pun di antara kalian melainkan Allah telah menugaskan dua malaikat kepadanya, salah satunya di sebelah kanan dan yang kedua di sebelah kiri. Salah satunya diperintahkan untuk mencatat kebaikan-kebaikan, sedangkan yang kedua diperintahkan untuk mencatat keburukan-keburukan.
Tidaklah kalian mengucapkan suatu perkataan dan tidak pula mengerjakan suatu perbuatan melainkan semuanya dicatat atas kalian dan dihitung atas kalian dengan perhitungan yang tidak meninggalkan sesuatu yang kecil maupun yang besar, baik kalian mengucapkannya secara terang-terangan maupun secara rahasia, dan baik kalian melakukan suatu perbuatan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Semua itu dicatat atas kalian dan diperhitungkan.
Kemudian kalian akan diberitahukan tentang apa yang telah kalian kerjakan pada Hari Kiamat, dan setiap manusia akan diberikan kitab catatan amalnya. Lalu dikatakan,
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”
Maka beruntunglah seorang hamba yang kitab catatan amalnya dipenuhi dengan kebaikan dan amal saleh, dan celakalah seorang hamba yang kitab catatan amalnya dihitamkan dengan keburukan dan amal buruk.
Wahai manusia, kita semua beriman terhadap hal itu, in sya Allah. Kita beriman bahwa apa pun yang telah kita lakukan, berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya tertulis dan terhitung, baik kecil maupun besar. Akan tetapi, banyak di antara kita melakukan perbuatan dengan begitu saja, seakan-akan perbuatan itu tidak dicatat atas mereka. Mereka mengucapkan perkataan yang buruk tanpa memedulikannya. Mereka melaknat orang yang tidak berhak mendapatkan laknat. Engkau dapati salah seorang dari mereka melaknat saudaranya sesama muslim. Bahkan terkadang ia melaknat saudara kandungnya dari ayah dan ibunya. Terkadang pula ia melaknat anaknya, ibunya, atau ayahnya. Ini merupakan puncak kebodohan dan kedunguan.
Sungguh telah sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُفَعَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada Hari Kiamat.” (HR Muslim no. 2598)
Dalam hadis dari beliau, beliau bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ، فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا، ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ، فَإِنْ كَانَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا
“Sesungguhnya apabila seorang hamba melaknat sesuatu, laknat itu naik ke langit, lalu pintu-pintu langit ditutup terhadapnya. Kemudian laknat itu turun ke bumi, lalu pintu-pintu bumi ditutup terhadapnya. Kemudian ia bergerak ke kanan dan ke kiri. Jika tidak menemukan jalan, ia kembali kepada orang yang dilaknat. Jika orang itu memang pantas menerimanya, maka laknat itu mengenainya. Jika tidak, laknat itu kembali kepada orang yang mengucapkannya.” (HR Abu Dawud no. 4905)
Engkau dapati salah seorang manusia mencaci saudaranya ketika bertengkar dengan cacian yang buruk. Bisa jadi ia bersikap adil terhadapnya dalam cacian tersebut, dan bisa jadi ia tidak bersikap adil terhadapnya.
Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْمُتَسَابَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ مِنْهُمَا حَتَّى يَعْتَدِيَ الْمَظْلُومُ
“Dua orang yang saling mencaci, apa yang mereka berdua ucapkan dosanya ditanggung oleh orang yang memulai di antara keduanya, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.” (HR Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 423 dan Muslim no. 2587)
Maksudnya, dosa dua orang yang saling mencaci ditanggung oleh orang yang pertama kali memulai cacian, kecuali apabila orang yang dizalimi melampaui batas.
Engkau dapati sebagian orang membicarakan saudaranya dengan sesuatu yang tidak disukainya ketika saudaranya itu tidak hadir. Ia mencacinya ketika tidak berada di hadapannya. Ini adalah ghibah yang telah tersebar di kalangan banyak orang dan mereka menganggapnya remeh, padahal ghibah termasuk dosa besar. Allah telah menyerupakan orang yang menggunjing seseorang dengan orang yang memakan dagingnya dalam keadaan telah mati.
Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya, tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya barang siapa mencari-cari aib mereka, Allah akan mencari-cari aibnya. Barang siapa Allah mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan mempermalukannya di dalam rumahnya.” (HR Ahmad 4/420 dan Abu Dawud no. 4880)
Dalam hadis lain:
يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Dia akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya.”
Wahai manusia, betapa banyak orang seperti ini pada zaman sekarang. Betapa banyak orang yang mencari-cari aib manusia dan menelusuri kesalahan-kesalahan mereka. Apabila mereka melihat suatu kekeliruan dari seseorang, mereka bergembira dengannya dan menyebarkannya. Apabila mereka melihat kelurusan dan suatu kebanggaan, mereka menyembunyikannya dan menafsirkannya bukan sebagaimana mestinya. Mereka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya, tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka.
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan hisablah diri kalian atas apa yang kalian ucapkan dan apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu dan akan dihisab karenanya. Allah mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui apa yang ada di dalam dada.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Sesungguhnya bagi kalian ada para malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al-Infithar: 9–12)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: MUKMIN YANG KUAT
Baca juga: RUKUN ISLAM: SYAHADAT
Baca juga: MENGINGAT NIKMAT ISLAM
Baca juga: KESABARAN MENGHADAPI PEMIMPIN ZALIM DAN UJIAN ZAMAN
Baca juga: HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

