Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du:
Di antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah tergesa-gesa.
ar-Raghib berkata, “Tergesa-gesa adalah meminta dan mencari sesuatu sebelum waktunya. Ia termasuk sesuatu yang muncul dari dorongan syahwat. Oleh karena itu, sifat ini tercela pada umumnya di dalam al-Qur’an, hingga dikatakan: tergesa-gesa berasal dari setan.”
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu karena hendak tergesa-gesa dengannya.” (QS al-Qiyamah: 16)
Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an. Beliau berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan adab-adabnya. Oleh karena itu, beliau berpegang teguh pada petunjuk yang penuh berkah ini. Beliau tidak tergesa-gesa, bahkan bersikap tenang dan sabar. Kepada hal inilah beliau membimbing umatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sikap tenang berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la no. 4256. Dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 1795)
Allah juga berfirman:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
“Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki keteguhan hati telah bersabar dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, seolah-olah mereka tidak tinggal kecuali sesaat pada siang hari. Ini adalah suatu penyampaian. Maka tidak ada yang dibinasakan selain kaum yang fasik.” (QS al-Ahqaf: 35)
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan teladan paling sempurna, adalah makhluk yang paling utama dalam menjalankan perintah tersebut.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”
Beliau bersabda,
لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ. قَالَ: فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Sungguh, aku telah mendapatkan perlakuan dari kaummu. Perlakuan yang paling berat yang aku terima dari mereka adalah pada hari Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abd Yalil bin Abd Kulal, tetapi ia tidak memenuhi apa yang aku inginkan. Aku pun pergi dalam keadaan sangat sedih tanpa mengetahui arah, dan aku baru tersadar ketika berada di Qarn ats-Tsa’alib. Aku mengangkat kepalaku, ternyata awan menaungiku. Aku melihat, ternyata Jibril berada di dalamnya. Ia memanggilku dan berkata, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dia telah mengutus kepadamu Malaikat Gunung agar engkau memerintahkannya melakukan apa yang engkau kehendaki terhadap mereka.’ Lalu Malaikat Gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat Gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkanku sesuai keinginanmu. Apa yang engkau kehendaki? Jika engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya’.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1795)
Dua gunung tersebut adalah dua gunung Makkah, yaitu Abu Qubais dan gunung yang berada di hadapannya.
Adapun bersegera melakukan berbagai kebaikan, segera memulainya, dan memanfaatkan kesempatan ketika kesempatan itu datang, maka hal tersebut terpuji dan bukan tercela.
Allah Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran: 133)
Musa ‘alaihis salam berkata,
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ
“Aku bersegera kepada-Mu, wahai Rabb-ku, agar Engkau ridha.” (QS Thaha: 84)
Tergesa-gesa yang tercela adalah memutuskan suatu perkara sebelum berpikir, bermusyawarah, dan beristikharah.
Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang tergesa-gesa berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum mencoba, dan mencela setelah sebelumnya memuji. Penyesalan selalu menyertai orang yang tergesa-gesa, sedangkan keselamatan menjauhinya. Orang-orang Arab dahulu menyebut sifat itu sebagai induk segala penyesalan.”
Seorang penyair berkata:
“Orang yang bersikap tenang terkadang dapat memperoleh sebagian kebutuhannya, sedangkan kesalahan terkadang menyertai orang yang tergesa-gesa.”
Di antara contoh tergesa-gesa yang tercela adalah tergesa-gesa mendoakan keburukan terhadap keluarga, harta, dan anak ketika sedang marah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
“Manusia berdoa untuk keburukan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Manusia memang bersifat tergesa-gesa.” (QS al-Isra’: 11)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءً فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan terhadap diri kalian sendiri, jangan pula terhadap anak-anak kalian, dan jangan pula terhadap harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan dengan suatu waktu dari Allah ketika suatu pemberian dimohon kepada-Nya, lalu Dia mengabulkan doa kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 3009)
Boleh jadi banyak musibah, penyakit, dan rusaknya anak-anak yang kita lihat disebabkan doa keburukan yang dipanjatkan terhadap mereka, sedangkan banyak orang tidak menyadari hal itu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Di antaranya adalah tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, tetapi Dia tidak mengabulkan doaku’.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2735)
Di antaranya adalah tergesa-gesanya sebagian orang yang shalat dalam shalat mereka. Mereka tidak menyempurnakan rukuk dan sujud serta tidak melakukan tumakninah di dalamnya.
Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa seorang laki-laki shalat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
“Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”
Beliau mengatakannya tiga kali setiap kali laki-laki itu kembali.
Kemudian beliau bersabda kepadanya,
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Setelah itu bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian rukuklah hingga engkau tenang dalam keadaan rukuk. Setelah itu bangkitlah hingga engkau berdiri tegak. Kemudian sujudlah hingga engkau tenang dalam keadaan sujud…” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 397)
Dalam realitas kehidupan kita sekarang, kita melihat banyak orang menyesal ketika penyesalan sudah tidak bermanfaat, disebabkan ketergesa-gesaan mereka dalam perkara-perkara yang seharusnya mereka hadapi dengan tenang.
Di antaranya, hanya karena sebab yang sangat kecil seorang laki-laki menceraikan istrinya. Akibatnya, keluarga tercerai-berai, anak-anak tersia-siakan, rumah tangga hancur, dan timbul berbagai kesusahan dan kesedihan yang hanya Allah mengetahui besarnya. Semua itu terjadi karena tergesa-gesa. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Di antaranya adalah tergesa-gesa dalam mengendarai kendaraan. Berbagai kecelakaan mengerikan yang kita dengar, yang menyebabkan hilangnya banyak nyawa, penyakit berbahaya, dan cacat menahun, semuanya terjadi disebabkan ketergesa-gesaan.
Di antaranya pula adalah seseorang menganggap rezekinya datang terlalu lambat, lalu ia tergesa-gesa dan mencarinya melalui jalan-jalan yang haram dan cara-cara yang tidak disyariatkan.
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَىٰ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak satu jiwa pun akan mati hingga menyempurnakan ajalnya dan memperoleh seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki mendorong salah seorang dari kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah Ta’ala tidak dapat diraih kecuali dengan menaati-Nya.” (Hilyatul Auliya’ 10/27. Dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 2085)
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad serta kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.
Baca juga: RUKUN ISLAM: SYAHADAT
Baca juga: HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN
Baca juga: HUKUM MAKAN DENGAN MENGGUNAKAN WADAH KAUM AHLI KITAB
Baca juga: SYAHADAT, KEPEMIMPINAN, DAN KETEGASAN ISLAM: PELAJARAN DARI KHAIBAR
Baca juga: DIANJURKAN MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TARTIL DAN DIBENCI MEMBACANYA TERLALU CEPAT
(Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi)

