KEUTAMAAN DZIKIR KEPADA ALLAH DAN BACAAN DZIKIR HARIAN

KEUTAMAAN DZIKIR KEPADA ALLAH DAN BACAAN DZIKIR HARIAN

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dzikir sebagai tanaman bagi taman-taman Surga dan sebagai penumbuh bagi pohon Islam dan iman. Kita bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Pemilik keutamaan, kemurahan, dan karunia, yang telah menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran dengan melakukan berbagai ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia yang paling teguh dalam berdzikir dan yang paling mendalam keimanannya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Amma ba’du:

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, perbanyaklah mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah bahwa mengingat Allah Ta’ala merupakan sebab hidupnya hati dan mendekatkan diri kepada Yang Mahamengetahui segala yang ghaib. Sedangkan lalai dari mengingat-Nya merupakan kebinasaan dan kerugian, dan akibatnya adalah matinya hati, kerugian, dan kehancuran.

Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram dan dada menjadi lapang. Dengan mengingat Allah, berbagai kesusahan menjadi sirna dan berbagai urusan menjadi mudah. Dengan mengingat Allah, apa yang diinginkan dapat diperoleh dan berbagai keburukan menjadi lenyap. Maka perbanyaklah —semoga Allah merahmati kalian— mengingat Maula kalian. Hendaklah dzikir kalian dilakukan dengan lisan dan hati agar tempat tinggal kalian menjadi baik.

Ketahuilah bahwa Surga itu tanahnya baik, airnya tawar, dan sesungguhnya ia merupakan tanah lapang, sedangkan tanaman-tanamannya adalah:

سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Mahabesar.” (HR at-Tirmidzi no. 3462)

Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh ar-Rahman:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahaagung.” (HR al-Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Sungguh, aku mengucapkan, ‘Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Mahabesar,’ lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang disinari oleh matahari.” (HR Muslim no. 2695)

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟

“Tidakkah aku tunjukkan kepadamu suatu perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan Surga? Ucapkanlah,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

‘Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’” (HR al-Bukhari no. 6409 dan Muslim no. 2704)

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي كُلِّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟

“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu memperoleh seribu kebaikan setiap hari?”

Seseorang bertanya kepada beliau, “Bagaimana ia memperoleh seribu kebaikan?”

Beliau bersabda,

يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَتُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ وَتُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ

“Ia bertasbih seratus kali, maka dituliskan baginya seribu kebaikan dan dihapus darinya seribu kesalahan.” (HR Muslim no. 2698)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ، وَوُقِيتَ، وَهُدِيتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ

“Barang siapa ketika keluar dari rumahnya mengucapkan,

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

‘Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,’ maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau telah dicukupi, dilindungi, dan diberi petunjuk,’ dan setan pun menjauh darinya.” (HR Abu Dawud no. 5095, at-Tirmidzi no. 3426, dan an-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 89)

Apabila seseorang memasuki rumahnya, lalu ia mengingat Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata —yakni kepada bala tentaranya, “Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Apabila ia masuk tetapi tidak mengingat Allah ketika masuk, setan berkata, “Kalian mendapatkan tempat bermalam.” Apabila ia tidak mengingat Allah ketika makan, setan berkata, “Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR Muslim no. 2018)

Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri,” maka dibukakan baginya delapan pintu Surga. Ia dapat masuk melalui pintu mana saja yang ia kehendaki. (HR Muslim no. 234)

Barang siapa bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan sebagai penyempurna seratus ia mengucapkan,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,” niscaya dosa-dosanya diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan. (HR Muslim no. 597)

Barang siapa ketika pagi atau sore mengucapkan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

“Ya Allah, sesungguhnya pada pagi ini aku mempersaksikan kepada-Mu, dan aku mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu.” Allah membebaskan seperempat dirinya dari Neraka. Jika ia mengucapkannya dua kali, Allah membebaskan separuh dirinya dari Neraka. Jika ia mengucapkannya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempat dirinya. Jika ia mengucapkannya empat kali, Allah membebaskannya dari Neraka. (HR al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 1201, Abu Dawud no. 5069 dan 5078, at-Tirmidzi no. 3501, dan an-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 9)

Barang siapa ketika pagi mengucapkan,

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

“Ya Allah, nikmat apa pun yang aku peroleh pada pagi hari ini, maka itu berasal dari-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur,” maka sungguh ia telah menunaikan rasa syukur pada harinya. Barang siapa mengucapkan hal yang semisal itu ketika sore hari, maka sungguh ia telah menunaikan rasa syukur pada malam harinya. (HR Abu Dawud no. 5073)

 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS al-Ahzab: 41–42)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Baca juga: KEUTAMAAN DZIKIR

Baca juga: MENGINGAT KEMATIAN

Baca juga: PERINTAH UNTUK MENGINGAT KEMATIAN

Baca juga: ANJURAN MENGINGAT DAN MENJAGA AL-QUR’AN

Baca juga: TIDAK MENYENTUH AL-QUR’AN KECUALI ORANG YANG SUCI

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Khotbah