PERANG HAMRA’ AL-ASAD: KEBERANIAN KAUM MUSLIMIN SETELAH PERANG UHUD

PERANG HAMRA’ AL-ASAD: KEBERANIAN KAUM MUSLIMIN SETELAH PERANG UHUD

Kaum musyrikin kembali berpikir untuk menyerang kaum muslimin sekali lagi agar dapat menghabisi mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hal itu, beliau menyeru orang-orang di antara mereka untuk berangkat menghadapi musuh mereka.

Beliau bersabda,

لَا يَخْرُجُ مَعَنَا إِلَّا مَنْ شَهِدَ الْقِتَالَ

“Janganlah keluar bersama kami kecuali orang yang telah mengikuti peperangan.”

Kaum muslimin pun memenuhi seruan beliau meskipun mereka mengalami luka yang parah dan rasa takut. Mereka berkata, “Kami mendengar dan kami taat.” Beliau mengizinkan Jabir bin Abdullah untuk ikut berjalan bersama beliau karena Jabir tidak mengikuti Perang Uhud, sebab ayahnya telah meninggalkannya untuk menjaga saudara-saudara perempuannya. Mereka terus berjalan hingga mencapai Hamra’ al-Asad, sebuah tempat yang berjarak delapan mil dari Madinah, di sebelah kiri jalan menuju Dzul Hulaifah.

Ketika Abu Sufyan bin Harb sampai di ar-Rauha’, ia ditemui oleh Ma’bad al-Khuza’i yang hendak menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Sufyan menanyakan kepadanya tentang keadaan Rasulullah, sedangkan ia tidak mengetahui keislaman Ma’bad. Ma’bad pun memberitahukan kepadanya tentang keluarnya kaum muslimin menuju Hamra’ al-Asad dan menasihati mereka agar kembali ke Makkah.

Allah Ta’ala berfirman mengenai peperangan ini:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ

“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul setelah mereka ditimpa luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dan bertakwa terdapat pahala yang besar.” (QS Ali ‘Imran: 172)

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Hamra’ al-Asad, mereka memerintahkan Mu’awiyah bin al-Mughirah, kakek Abdul Malik bin Marwan dari pihak ibunya, dan Abu ‘Azzah al-Jumahi —yang sebelumnya telah dibebaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tebusan di antara para tawanan Perang Badar— untuk menghadap beliau.

Abu ‘Azzah berkata, “Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ لَا تَمْسَحُ عَارِضَيْكَ بِمَكَّةَ بَعْدَهَا وَتَقُولُ: خَدَعْتُ مُحَمَّدًا مَرَّتَيْنِ

“Demi Allah, setelah ini engkau tidak akan mengusap kedua sisi wajahmu di Makkah seraya berkata, ‘Aku telah memperdaya Muhammad dua kali.’”

Kemudian az-Zubair memenggal lehernya atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai Abu ‘Azzah,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يُلْدَغُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya seorang mukmin tidak akan disengat dari satu lubang yang sama dua kali.”

Kemudian beliau memerintahkan ‘Ashim bin Tsabit, lalu ia memenggal lehernya.

Peperangan ini terjadi pada tanggal delapan bulan Syawal, tiga puluh dua bulan setelah hijrah. Ada pula yang mengatakan selain itu, karena Ibnu Ishaq berkata, “Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syawal.”

Baca sebelumnya: KEMULIAAN PARA SYUHADA UHUD DAN KESAKSIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah