PENGARUH DOSA TERHADAP IMAN DAN CARA MENGHINDARINYA

PENGARUH DOSA TERHADAP IMAN DAN CARA MENGHINDARINYA

Makna Peniadaan Iman bagi Pelaku Maksiat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang peminum khamar meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Dan tidaklah seseorang merampas sesuatu yang berharga sehingga orang-orang mengarahkan pandangan mereka kepadanya ketika ia merampasnya dalam keadaan beriman.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2475 dan redaksi hadis ini adalah redaksinya, serta Muslim no. 57)

Hadis ini termasuk kumpulan hadis tentang keimanan yang agung, yang menjelaskan kedudukan iman yang tinggi, pentingnya seorang muslim menjaga keimanannya, serta melindunginya dari segala sesuatu yang dapat menodai, melemahkan, atau merusaknya.

Yang dimaksud dengan peniadaan iman dalam hadis ini adalah peniadaan kesempurnaan iman yang wajib dari orang yang melakukan kemaksiatan tersebut. Artinya, ia tidak melakukan kemaksiatan itu dalam keadaan memiliki iman yang sempurna. Terjerumusnya seseorang ke dalam kemaksiatan tersebut disebabkan oleh lemahnya kecintaannya kepada Allah di dalam hatinya.

Dua Tingkatan Kecintaan kepada Allah

al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Kecintaan kepada Allah Ta’ala terbagi menjadi dua tingkatan:

Tingkatan pertama: Kecintaan yang wajib. Yaitu kecintaan yang mengharuskan seorang hamba mencintai apa yang dicintai Allah berupa perkara-perkara yang wajib dan membenci apa yang dibenci-Nya berupa perkara-perkara yang diharamkan. Sesungguhnya kecintaan yang sempurna mengharuskan seseorang untuk sejalan dengan pihak yang dicintainya dalam mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya, khususnya dalam perkara-perkara yang dicintai dan dibenci oleh pihak yang dicintai itu untuk dirinya sendiri. Dengan demikian, kecintaan tidak akan terwujud dengan benar tanpa melakukan apa yang dicintai oleh pihak yang dicintainya sebagai wujud kecintaan kepadanya, serta membenci apa yang dibenci oleh pihak yang dicintainya sebagai wujud kecintaan kepadanya.

Sebagian ulama mendendangkan syair:

“Engkau bermaksiat kepada Allah, padahal engkau mengaku mencintai-Nya.

Sungguh, ini merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan akal sehat.

Seandainya cintamu benar-benar tulus, niscaya engkau akan menaati-Nya.

Sebab, orang yang mencintai akan menaati siapa yang dicintainya.”

Apabila seorang hamba meninggalkan sebagian kewajiban atau melakukan sebagian perbuatan yang diharamkan, berarti kecintaannya kepada Rabb-nya belum sempurna. Oleh karena itu, ia wajib segera bertobat dan bersungguh-sungguh menyempurnakan kecintaan yang menjadi kewajibannya, dengan melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauhi seluruh perkara yang diharamkan.

Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang peminum khamar meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Dan tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.”

Sesungguhnya iman yang sempurna mengharuskan seseorang mencintai apa yang dicintai Allah Ta’ala dan membenci apa yang dibenci-Nya, serta beramal sesuai dengan tuntutan tersebut. Ia tidak akan melakukan sesuatu pun yang diharamkan atau meninggalkan sesuatu pun yang diwajibkan, kecuali apabila ia lebih mengutamakan hawa nafsunya yang bertentangan dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala yang dituntut oleh keimanannya.

Tingkatan Kedua: Kecintaan yang merupakan derajat orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin), yaitu kecintaan kepada Allah Ta’ala yang memenuhi hati seseorang, sehingga mendorongnya untuk mencintai amalan-amalan sunah, bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, membenci perkara-perkara yang makruh dan menjauhinya, serta ridha terhadap ketetapan Allah yang menyakitkan dan takdir-Nya yang tidak disukai oleh jiwa.”

Dalam doa yang diriwayatkan terdapat lafaz:

أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ الْعَمَلِ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ

“Aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada amalan yang dapat mengantarkanku kepada kecintaan-Mu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22162 dan at-Tirmidzi no. 3235. Redaksi hadis ini adalah redaksi at-Tirmidzi)

Doa ini mencakup seluruh kebaikan. Sebab, perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba atas dasar pilihan dan kehendaknya sesungguhnya bersumber dari kecintaan dan keinginannya. Apabila kecintaan kepada Allah telah tertanam kuat dalam hati seorang hamba, maka kecintaan itu akan menggerakkan anggota tubuhnya. Gerakan anggota tubuh tersebut akan sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah. Dengan demikian, ia akan mencintai seluruh amal dan perkataan yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Ia pun akan melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran.

Menjaga Keimanan dengan Menjauhi Larangan Allah

Kemudian, seseorang harus menjauhi larangan-larangan tersebut demi menjaga agamanya dan menyucikannya dari segala sesuatu yang dapat menodai dan mencemarkannya. Sebab, agama terkadang berada dalam keadaan bersih dan suci, terkadang kotor dan tercemar, terkadang digambarkan memiliki kekuatan dan kesempurnaan, terkadang pula digambarkan lemah dan kurang, serta pada waktu lain digambarkan sempurna. Oleh karena itu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Iman itu suci. Apabila seseorang berzina, iman akan meninggalkannya. Namun, apabila ia mencela dirinya sendiri dan kembali (bertobat), iman pun akan kembali kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Abdullah bin al-Imam Ahmad dalam as-Sunnah no. 753 dan al-Khallal dalam as-Sunnah no. 1259)

Yahya bin Mu’adz berkata, “Islam itu suci, maka janganlah engkau mengotorinya dengan dosa-dosamu.” (Disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam ath-Tha’if al-Ma’arif, hlm. 327)

Terjerumus ke dalam dosa-dosa tersebut merupakan penyimpangan dari jalan yang lurus, yang Allah Ta’ala perintahkan agar manusia tetap istiqamah di atasnya. Allah juga melarang manusia melampaui batas-batas-Nya. Barang siapa melakukan sesuatu yang diharamkan, berarti ia telah melanggar batas-batas tersebut dan merusak pelindungnya.

Dari an-Nawwas bin Sam’an al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَعْرِجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Allah membuat sebuah perumpamaan tentang jalan yang lurus. Di kedua sisi jalan tersebut terdapat dua dinding. Pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka, sedangkan pada pintu-pintu tersebut terdapat tirai-tirai yang terjulur. Di pintu masuk jalan tersebut terdapat seorang penyeru yang berkata, ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan janganlah menyimpang!’ Ada pula seorang penyeru yang menyeru dari atas jalan tersebut. Apabila seseorang hendak membuka salah satu pintu itu, penyeru tersebut berkata, ‘Celakalah engkau! Janganlah membukanya! Sebab, jika engkau membukanya, niscaya engkau akan memasukinya.’ Jalan tersebut adalah Islam, kedua dinding itu adalah batas-batas yang ditetapkan Allah, sedangkan pintu-pintu yang terbuka adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Adapun penyeru yang berada di pintu masuk jalan tersebut adalah Kitab Allah, sedangkan penyeru yang berada di atas jalan tersebut adalah nasihat dari Allah yang terdapat di dalam hati setiap Muslim.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 17634 dan disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3887)

Yang dimaksud dengan nasihat (al-wa’izh) adalah hujah-hujah Allah yang mencegah seseorang terjerumus ke dalam perkara-perkara yang diharamkan, dengan menanamkannya dalam jiwa, serta berupa pandangan hati dan pengetahuan yang Allah tempatkan di dalam hatinya. Semua itu merupakan larangan Allah yang tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, seorang muslim sepatutnya menghadirkan dalam hatinya ilmu dan petunjuk al-Qur’an dan sunah yang dapat menjaga keselamatannya serta menyelamatkannya dari penyimpangan terhadap jalan Allah yang lurus.

Akibat Kemaksiatan di Dunia dan Akhirat

Barang siapa di dunia menyimpang dari sikap istiqamah di atas jalan yang lurus, lalu membuka pintu-pintu perkara yang diharamkan yang terdapat pada dinding-dinding di sisi kanan dan kiri jalan tersebut, kemudian memasukinya, baik berupa perkara yang diharamkan karena syahwat maupun karena syubhat, maka pada Hari Kiamat ia akan disambar oleh kait-kait yang berada di atas jembatan (shirath) yang terbentang di atas Neraka Jahanam, dari sisi kanan dan kirinya, sesuai dengan pintu-pintu perkara haram yang telah dibukanya dan dimasukinya ketika di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ يُضْرَبُ الْجِسْرُ عَلَى جَهَنَّمَ، وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ، وَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

“Kemudian, jembatan (shirath) dibentangkan di atas Neraka Jahanam, dan syafaat pun diizinkan. Mereka berkata, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!’”

Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah jembatan itu?”

Beliau bersabda,

دَحْضٌ مَزِلَّةٌ، فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ، تَكُونُ بِنَجْدٍ، فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا: السَّعْدَانُ، فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ، وَكَالْبَرْقِ، وَكَالرِّيحِ، وَكَالطَّيْرِ، وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ، وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Jembatan itu licin dan menggelincirkan. Di atasnya terdapat pengait-pengait, kait-kait besi, dan duri-duri seperti tumbuhan berduri yang terdapat di Najd, yang memiliki duri kecil dan disebut as-Sa’dan. Orang-orang mukmin akan melewatinya secepat kedipan mata, kilat, angin, burung, serta kuda dan unta tunggangan yang paling cepat. Di antara mereka ada yang selamat tanpa terluka, ada yang terluka tetapi berhasil melewatinya, dan ada pula yang terjatuh ke dalam Neraka Jahanam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6573 dan Muslim no. 183. Redaksi hadis ini adalah redaksi Muslim)

Sebab-Sebab yang Membantu Seseorang Menjauhi Dosa

Barang siapa telah dibelenggu oleh dosa-dosanya, dibinasakan oleh kesalahan-kesalahan dan kemaksiatannya, serta terhalang dari istiqamah di atas jalan Allah yang lurus, maka ia wajib mencari sebab-sebab tertentu yang dapat membebaskannya dari dosa-dosa tersebut dan menyelamatkannya darinya.

Di antara sarana terbesar yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah rasa malu kepada Allah. Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasinya, bahwa Allah Mahamendengar dan Mahamelihat, serta bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya ia akan merasa malu apabila Allah melihatnya sedang melakukan sesuatu yang dilarang-Nya.

Di antara sarana yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah memenuhi hati dengan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang memang sudah seharusnya memenuhi hati setiap hamba. Sesungguhnya kecintaan ini merupakan salah satu penghalang terbesar dan terkuat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan dosa. Sebab, orang yang mencintai akan menaati siapa yang dicintainya.

Di antara sarana yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah memperkuat rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menghidupkan rasa takut tersebut di dalam hati. Hal itu dilakukan dengan mengenal Allah dan mengagungkan-Nya dalam hati, serta menyadari betapa beratnya hukuman dan ancaman-Nya, adanya negeri tempat pembalasan-Nya, dan berbagai macam azab yang telah Allah sediakan di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ

“Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia.” (QS Thaha: 81)

Hendaklah seorang hamba berhati-hati agar tidak melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah kepadanya, serta sebab-sebab yang mengundang hukuman dan kemarahan-Nya.

Di antara perkara yang dapat membantu seorang hamba terbebas dari dosa adalah mengenali nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah Ta’ala senantiasa datang silih berganti kepada seorang hamba dan terus tercurah kepadanya setiap waktu. Tidak pantas bagi seorang hamba yang senantiasa menerima nikmat-nikmat Allah untuk membalasnya dengan perbuatan dosa yang dapat mendatangkan kemurkaan Sang Pemberi Nikmat dan menyebabkan hilangnya nikmat-nikmat tersebut.

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah memikirkan akibat-akibat buruk dari perbuatan dosa, dampaknya yang sangat merugikan, serta berbagai mudarat yang ditimbulkannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah memikirkan hilangnya kebaikan dunia dan akhirat akibat kemaksiatan. Cukuplah sebagai kerugian akibat kemaksiatan bahwa seseorang kehilangan keimanan, yang nilainya lebih berharga daripada kebaikan dunia meskipun dilipatgandakan berkali-kali.

Bagaimana mungkin seseorang menjual keimanannya demi syahwat yang kenikmatannya akan lenyap, sedangkan akibat buruknya tetap ada setelah kenikmatan syahwat itu berlalu? Syahwat akan hilang, tetapi akibat buruknya tetap ada.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah meriwayatkan hadis:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman.”

Ia berkata, “Sesungguhnya iman dicabut darinya. Namun, apabila ia bertobat, Allah akan menerima tobatnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad no. 9007)

al-Hasan berkata, “Iman menjauh darinya selama ia berada dalam keadaan demikian. Namun, apabila ia kembali (bertobat), iman pun akan kembali kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Abdullah bin al-Imam Ahmad dalam as-Sunnah no. 756 dan al-Khallal dalam as-Sunnah no. 756)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat —sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya —(Shahih al-Bukhari no. 1386) Para pezina berada di dalam tungku api karena mereka telah menanggalkan pakaian keimanan, sehingga cahaya syahwat yang dahulu berada di dalam hati mereka kembali menjadi api yang tampak nyata dan membakar mereka di Neraka.

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah menjaga kemuliaan jiwa, menyucikannya, mengangkat derajatnya, dan meninggikannya. Tidak pantas bagi orang yang memiliki jiwa mulia membiarkan dirinya ternodai, direndahkan, dan dikotori oleh berbagai macam dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

“Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman.” (QS al-Hujurat: 11)

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah menyadari pendeknya angan-angan. Hendaklah seorang hamba senantiasa menyadari bahwa masa tinggalnya di dunia ini tidak akan lama, sebab akhirat semakin dekat, sedangkan dunia akan segera berlalu. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada tidak memanjangkan angan-angannya. Sebaliknya, tidak ada yang lebih membahayakan dirinya daripada menunda-nunda amal dan memanjangkan angan-angan.

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah menjauhi sikap berlebih-lebihan, baik dalam makanan, minuman, pakaian, maupun perkara lainnya. Sebab, terlalu banyak melakukan hal-hal tersebut dapat menyebabkan hati menjadi sakit dan menghalangi seseorang untuk mencapai tujuannya.

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah melawan bisikan-bisikan jiwa yang buruk. Sebab, kemaksiatan pada mulanya berupa bisikan yang terlintas dalam jiwa. Kemudian, bisikan tersebut berkembang menjadi pemikiran, lalu berubah menjadi angan-angan. Selanjutnya, angan-angan itu berubah menjadi keinginan yang menggerakkan hati, kemudian menjadi kehendak yang buruk. Setelah itu, kehendak tersebut berkembang menjadi tekad yang disertai niat untuk melakukannya. Oleh karena itu, yang terbaik bagi seseorang adalah menghentikan bisikan-bisikan buruk tersebut sejak awal kemunculannya. Apabila ia meremehkannya hingga terjerumus ke dalam kemaksiatan, perbuatan itu akan terasa semakin mudah baginya. Ia pun akan mengulanginya berkali-kali hingga akhirnya kemaksiatan tersebut menjadi sifat yang melekat dan kebiasaan yang menetap pada dirinya.

Imam Ahmad rahimahullah memberikan perumpamaan tentang keadaan seorang hamba yang bergelimang dosa dengan seseorang yang sedang berjalan di tanah yang berlumpur dan becek. Orang tersebut berjalan dengan hati-hati, tetapi kemudian kakinya tergelincir dan masuk ke dalam lumpur. Setelah itu, ia terus berjalan tanpa lagi berhati-hati.

Imam Ahmad berkata kepada para sahabatnya, “Demikianlah keadaan seorang hamba. Ia senantiasa berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Namun, apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, ia pun terus melakukannya tanpa lagi berhati-hati.”

Di antara perkara yang dapat membantu seseorang terbebas dari dosa adalah memperbarui keimanan di dalam hati. Sebab, keimanan perlu senantiasa diperbarui.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman di dalam diri salah seorang di antara kalian benar-benar dapat menjadi usang sebagaimana pakaian menjadi usang. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui keimanan di dalam hati kalian.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 14668 dan al-Hakim (5). Hadis ini disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1590)

Apabila keimanan di dalam hati telah diperbarui, jiwa akan menjauh dari ketergantungannya kepada dosa dan kecenderungannya untuk melakukan kemaksiatan. Keimanan tersebut akan mendorong jiwa untuk melakukan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah dan memperoleh rahmat-Nya, Mahasuci Dia.

Semua perkara yang telah disebutkan di atas merupakan sarana dan sebab yang dapat membantu seorang hamba terbebas dari dosa dan selamat darinya. Namun, semua itu tidaklah cukup jika dilakukan secara terpisah. Sebaliknya, seorang hamba harus berusaha menggunakan berbagai sebab tersebut secara maksimal, disertai dengan memohon pertolongan dan bimbingan dari Allah.

Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbaiki caranya dalam memohon kepada Allah, serta memperbanyak permohonan yang mendesak kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya.

Di antara doa agung yang diriwayatkan adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu Surga dan segala perkataan atau perbuatan yang dapat mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari Neraka dan segala perkataan atau perbuatan yang dapat mendekatkan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 1483 dan Ibnu Majah no. 3846. Hadis ini disahihkan oleh al-Albani)

Baca juga: CINTA KEPADA ALLAH

Baca juga: CINTA KEPADA RASULULLAH

Baca juga: CINTA ALLAH AZZA WA JALLA

Baca juga: CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

Baca juga: AGAR DICINTAI ALLAH DAN MANUSIA

(Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Akidah