ADAB MAKAN DAN MINUM (2)

ADAB MAKAN DAN MINUM (2)

4. Mencuci Kedua Tangan sebelum dan sesudah Makan

Aku tidak menemukan satu pun sunah yang sahih yang marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dapat dijadikan sandaran mengenai mencuci kedua tangan sebelum makan. al-Baihaqi berkata, “Hadis tentang mencuci kedua tangan setelah makan adalah hasan, sedangkan tidak ada hadis yang sahih tentang mencuci kedua tangan sebelum makan.” Akan tetapi, hal itu dianjurkan untuk menghilangkan kotoran atau semisalnya yang mungkin melekat pada kedua tangan dan dapat membahayakan tubuh. Imam Ahmad memiliki dua riwayat dalam masalah ini, yaitu makruh dan dianjurkan.

Imam Malik memberikan perincian. Ia membatasi anjuran mencuci tangan sebelum makan pada keadaan terdapat kotoran. Sikap Ibnu Muflih dalam kitab al-Adab menunjukkan bahwa ia berpendapat dianjurkannya mencuci kedua tangan sebelum makan. Pendapat ini juga dipegang oleh sejumlah ulama.

Dalam masalah ini terdapat keluasan, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Adapun mencuci kedua tangan setelah makan, maka telah diriwayatkan beberapa atsar yang sahih. Di antaranya adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ، فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

Barang siapa tidur sementara pada tangannya masih terdapat bekas lemak makanan, lalu ia tidak mencucinya, kemudian ia tertimpa sesuatu (yang membahayakan), maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 7515, Abu Dawud no. 3852 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani, at-Tirmidzi no. 1860, Ibnu Majah no. 3297, serta ad-Darimi no. 2063)

Dalam Lisanul Arab disebutkan bahwa (الغَمَرُ) adalah bau daging serta lemak atau minyak yang melekat pada tangan setelah makan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan daging pundak kambing, kemudian ia berkumur, mencuci kedua tangannya, lalu melaksanakan shalat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 27486 dan Ibnu Majah no. 493. Dinyatakan sahih oleh al-Albani no. 498)

Dari Aban bin Utsman, bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memakan roti dan daging, kemudian ia berkumur, mencuci kedua tangannya, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu, lalu melaksanakan shalat tanpa berwudhu. (Diriwayatkan oleh Malik no. 53)

Faedah: Sebagian ulama menganjurkan berwudu secara syar’i sebelum makan bagi orang yang sedang junub.

Dalam masalah ini terdapat satu hadis dan satu atsar.

Adapun hadisnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila dalam keadaan junub lalu hendak makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 286, Muslim no. 305 dan lafaz ini milik Muslim, Ahmad no. 24193, an-Nasa’i no. 255, Abu Dawud no. 224, Ibnu Majah no. 584, serta ad-Darimi no. 757)

Dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan makna di atas sekadar wudhu syar’i. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian apabila hendak makan atau minum, beliau mencuci kedua telapak tangannya, lalu makan atau minum jika beliau menghendaki.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Adapun atsarnya, dari Nafi’: “Sesungguhnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma apabila hendak tidur atau makan dalam keadaan junub, ia mencuci wajahnya, kedua tangannya hingga siku, mengusap kepalanya, kemudian makan atau tidur.” (Diriwayatkan oleh Malik no. 111)

Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang menganjurkan berwudhu untuk makan kecuali apabila seseorang dalam keadaan junub.”

Catatan: al-Muhaddits al-Albani berdalil dengan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu. Apabila hendak makan, beliau mencuci kedua tangannya.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i no. 256 dan Ahmad no. 24353)

Ia menjadikan hadis ini sebagai dalil disyariatkannya mencuci kedua tangan sebelum makan secara mutlak. Namun, pemutlakan tersebut perlu ditinjau kembali karena beberapa hal.

Pertama: Hadis tersebut menjelaskan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dalam keadaan junub, baik saat hendak tidur, makan, maupun minum.

Kedua: Sebagian riwayat menggunakan lafaz wudhu, sedangkan sebagian lainnya menggunakan lafaz mencuci kedua tangan untuk menjelaskan bolehnya melakukan salah satu dari kedua perbuatan tersebut.

as-Sindi berkata dalam hasyiahnya mengenai ucapannya, “beliau mencuci kedua tangannya,” yaitu terkadang beliau mencukupkan diri dengan mencuci kedua tangan untuk menjelaskan bolehnya hal itu, dan terkadang beliau berwudhu untuk menyempurnakan keadaan.

Ketiga: Para imam dan ahli hadis seperti Malik, Ahmad, Ibnu Taimiyah, an-Nasa’i rahimahumullah, dan selain mereka —sebagaimana telah kami nukil perkataan mereka— tidak memahami hadis tersebut secara mutlak sebagaimana dipahami oleh al-Allamah al-Albani rahimahullah, padahal mereka juga meriwayatkan hadis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa menurut mereka hadis tersebut dipahami dalam konteks keadaan junub. Dengan demikian, wudhu dan mencuci kedua tangan sebelum makan yang disebutkan dalam hadis ini tetap dibatasi pada keadaan junub.

Wallahu a’lam.

5. Membaca Basmalah pada Awal Makan dan Minum, serta Memuji Allah setelah Selesai Keduanya

Termasuk sunah adalah orang yang makan membaca basmalah sebelum memakan makanannya, dan memuji Allah Ta’ala setelah selesai darinya.

Ibnul Qayyim berkata, “Membaca basmalah pada awal makan dan minum, serta memuji Allah pada akhirnya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memberikan manfaat pada makanan, memudahkannya untuk dicerna, dan menolak mudaratnya. Imam Ahmad berkata, ‘Apabila suatu makanan memiliki empat perkara, maka telah sempurnalah makanan itu: apabila nama Allah disebut pada awalnya, Allah dipuji pada akhirnya, banyak tangan yang makan darinya, dan makanan tersebut berasal dari yang halal.’”

Faedah membaca basmalah sebelum makan adalah menghalangi setan untuk ikut serta dalam makanan dan memperoleh bagian darinya.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila kami menghadiri suatu hidangan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tidak meletakkan tangan kami hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya dengan meletakkan tangan beliau. Pada suatu ketika kami menghadiri jamuan makan bersama beliau. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan seakan-akan ada yang mendorongnya. Ia hendak meletakkan tangannya ke dalam makanan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian datang seorang Arab Badui seakan-akan ada yang mendorongnya, lalu beliau memegang tangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ، وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا، فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا، فَجَاءَ بِهَذَا الْأَعْرَابِيِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ، فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِي يَدِي مَعَ يَدِهَا۔

Sesungguhnya setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya. Setan datang bersama anak perempuan ini untuk menghalalkan makanan itu melalui dirinya, lalu aku memegang tangannya. Kemudian setan datang bersama orang Arab Badui ini untuk menghalalkannya melalui dirinya, lalu aku memegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan berada dalam genggamanku bersama tangan keduanya.’” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2017, Ahmad no. 22738, dan Abu Dawud no. 3766)

Lafaz basmalah yang dibaca oleh orang yang makan adalah (بِسْمِ اللَّهِ) “Dengan nama Allah”.

Dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ketika aku masih kecil dan berada dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bergerak ke sana kemari di dalam piring. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.’

Sejak itu, begitulah cara makanku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5376 dan lafaz ini miliknya, Muslim no. 2022, Ahmad no. 15895, Abu Dawud no. 3777, Ibnu Majah no. 3267, Malik no. 1738, serta ad-Darimi no. 2045)

an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar memilih pendapat bahwa yang lebih utama adalah mengucapkan (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) “Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang”. Apabila seseorang hanya mengucapkan (بِسْمِ اللَّهِ) “Dengan nama Allah,” maka hal itu telah mencukupi dan sunah telah terlaksana.

Ibnu Hajar membantah pendapat tersebut dengan mengatakan, “Aku tidak menemukan dalil khusus yang menunjukkan keutamaan sebagaimana yang ia klaim.”

Aku berkata, kebanyakan nash datang dengan lafaz (سَمِّ اللَّهَ) “Sebutlah nama Allah,” atau lafaz yang semakna dengannya, tanpa tambahan (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). Bahkan terdapat penegasan lafaz basmalah dalam riwayat ath-Thabarani tanpa tambahan (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), dari hadis Amr bin Abi Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلَامُ، إِذَا أَكَلْتَ فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak kecil, apabila engkau makan maka ucapkanlah, ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir. al-Albani memasukkannya dalam as-Silsilah ash-Shahihah dan berkata, “Sanad hadis ini sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim.”)

Apabila orang yang makan lupa membaca basmalah sebelum makan, kemudian ia teringat di tengah-tengah makan, maka hendaklah ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

atau

بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya.”

Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah Ta’ala pada awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)’” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3767 dan lafaz ini miliknya serta dinyatakan sahih oleh al-Albani, Ahmad no. 25558, at-Tirmidzi no. 1858, Ibnu Majah no. 3264, dan ad-Darimi no. 2020)

Adapun memuji Allah Ta’ala setelah selesai makan atau minum, maka di dalamnya terdapat keutamaan yang agung yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah benar-benar meridhai seorang hamba yang memakan suatu makanan lalu ia memuji-Nya karenanya, atau meminum suatu minuman lalu ia memuji-Nya karenanya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2734, Ahmad no. 11562, dan at-Tirmidzi no. 1816)

Lafaz-lafaz pujian yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah selesai makan dan minum beragam. Di antaranya adalah:

Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Dia tidak membutuhkan pemberian makan, tidak ditinggalkan, dan tidak mungkin dapat ditinggalkan, wahai Rabb kami.”

Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ

Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kami dan memberi kami minum. Dia tidak membutuhkan pemberian, dan nikmat-Nya tidak diingkari.”

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila selesai dari makan beliau mengucapkan,” dan pada kesempatan lain disebutkan, “Apabila meja makannya diangkat, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ

Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kami dan memberi kami minum. Dia tidak membutuhkan pemberian, dan nikmat-Nya tidak diingkari.’

Pada kesempatan lain beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Dia tidak membutuhkan pemberian makan, tidak ditinggalkan, dan tidak mungkin dapat ditinggalkan, wahai Rabb kami.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5459 dan lafaz ini miliknya, Ahmad no. 21664, at-Tirmidzi no. 3456, Abu Dawud no. 3849, Ibnu Majah no. 3284, ad-Darimi no. 2023, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 2828)

Makna (غَيْرَ مُوَدَّعٍ) adalah tidak ditinggalkan dalam meminta kepada-Nya dan tidak ditinggalkan untuk berharap kepada apa yang ada di sisi-Nya. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.” (QS Adh-Dhuha: 3)

Maksud “tidak ditinggalkan” adalah tidak dapat merasa cukup tanpa-Nya. Sebagian ulama membaca lafaz tersebut dengan (غَيْرَ مُوَدِّعٍ), yang berarti “tidak meninggalkan ketaatan kepada Rabbku.” Demikian disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah.

Ketiga:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.”

Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ»، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa memakan suatu makanan lalu mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku,’ maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3458 dan ia berkata, “Hadis hasan gharib,” dan Ibnu Majah no. 3285. Dinyatakan hasan oleh al-Albani no. 3348)

Keempat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, memberi minum, memudahkan makanan itu ditelan, dan menjadikan jalan keluarnya.”

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila makan atau minum, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, memberi minum, memudahkan makanan itu ditelan, dan menjadikan jalan keluarnya.’” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3851. Dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Kelima:

اللَّهُمَّ أَطْعَمْتَ وَأَسْقَيْتَ، وَأَقْنَيْتَ، وَهَدَيْتَ، وَأَحْيَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ

Ya Allah, Engkau telah memberi makan, memberi minum, memberi kecukupan, memberi petunjuk, menghidupkan, maka segala puji hanya bagi-Mu atas apa yang telah Engkau berikan.”

Dari Abdurrahman bin Jubair, bahwa seorang laki-laki yang melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila makanan dihidangkan kepada beliau, beliau mengucapkan: (بِسْمِ اللَّهِ) “Dengan nama Allah.” Kemudian apabila selesai, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعَمْتَ وَأَسْقَيْتَ، وَأَقْنَيْتَ، وَهَدَيْتَ، وَأَحْيَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ.

Ya Allah, Engkau telah memberi makan, memberi minum, memberi kecukupan, memberi petunjuk, menghidupkan, maka segala puji hanya bagi-Mu atas apa yang telah Engkau berikan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/62, 5/375 dan Abu Asy-Syaikh dalam Akhlaq an-Nabi. al-Albani berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah, “Sanadnya sahih. Seluruh perawinya tsiqah dan merupakan perawi Muslim.”)

Faedah 1: Dianjurkan membaca seluruh lafaz pujian yang diriwayatkan setelah selesai makan, sehingga seseorang membaca doa ini pada suatu waktu dan doa yang lain pada waktu yang berbeda. Dengan demikian, ia dapat menjaga seluruh sunah dalam berbagai bentuknya dan memperoleh keberkahan doa-doa tersebut. Di samping itu, hal ini membantu seseorang menghadirkan makna-makna doa tersebut di dalam hatinya ketika sesekali membaca satu lafaz dan pada kesempatan lain membaca lafaz yang berbeda. Sebab, apabila jiwa telah terbiasa dengan satu amalan tertentu —seperti mengulang satu dzikir tertentu— maka semakin sering diulang, biasanya semakin berkurang penghayatan terhadap maknanya karena terlalu sering mengulanginya.

Faedah 2: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَارْزُقْنَا خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَزِدْنَا مِنْهُ، فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ مَا يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إِلَّا اللَّبَنُ

Barang siapa diberi makan oleh Allah suatu makanan, hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada makanan ini dan karuniakanlah kepada kami yang lebih baik darinya.’ Barang siapa diberi minum oleh Allah susu, hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah kepada kami darinya.’ Sesungguhnya aku tidak mengetahui sesuatu yang dapat mencukupi sebagai makanan dan minuman selain susu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3455 dan ia berkata, “Hadis ini hasan,” dan Ibnu Majah no. 3322. Dinyatakan hasan oleh al-Albani no. 3385)

Baca sebelumnya: ADAB MAKAN DAN MINUM (1)

Baca juga: WUDHU YANG SEMPURNA

Baca juga: WAJIB MENCUCI SEMUA ANGGOTA TUBUH DALAM BERWUDHU

Baca juga: LARANGAN SHALAT DI HADAPAN MAKANAN DAN SAAT MENAHAN HAJAT

Baca juga: MEMBACA BASMILLAH SEBELUM MAKAN DAN MINUM, DAN HAMDALAH SESUDAHNYA

(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

Adab Kitabul Adab