DZIKIR DAN ISTIGHFAR DALAM RUKUK DAN SUJUD

DZIKIR DAN ISTIGHFAR DALAM RUKUK DAN SUJUD

314. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan dalam rukuk dan sujud beliau,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Mahasuci Engkau, ya Allah, Rabb kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)

PENJELASAN

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitabnya Bulughul Maram, ketika menukil dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan, “Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfir li.

Telah tetap dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika diturunkan kepada beliau firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Mahapenerima tobat.” (QS an-Nashr: 1–3)

beliau semakin sering mengucapkan dalam rukuk dan sujudnya, “Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfir li.”

Dzikir dan doa ini sesuai dengan kandungan surah tersebut. Karena itu, seseorang hendaklah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperbanyak dzikir serta doa ini.

Ucapan beliau, “Subhanakallahumma Rabbana wa bihamdika,” maknanya adalah: aku mensucikan-Mu, ya Allah. Maksudnya, aku menyucikan dan membersihkan-Mu dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Mu, baik berupa sifat-sifat kekurangan maupun penyerupaan dengan makhluk.

Allah Ta’ala Mahasuci dari penyerupaan dengan makhluk, sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS asy-Syura: 11)

Firman-Nya:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak seorang pun yang setara dengan-Nya.” (QS al-Ikhlash: 4)

Firman-Nya:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Apakah engkau mengetahui ada seorang pun yang setara dengan-Nya?” (QS Maryam: 65)

Sebab, penyerupaan dengan sesuatu yang memiliki kekurangan adalah kekurangan, sedangkan makhluk adalah serba kurang. Adapun Allah ‘Azza wa Jalla, Dia memiliki kesempurnaan yang mutlak, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat terdapat sifat yang buruk, sedangkan bagi Allah sifat yang paling tinggi. Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nahl: 60)

Segala lafaz yang datang seperti “Subhanaka”, atau “Subhana Rabbiyal A’la”, atau yang semisalnya, maka makna tasbih adalah tanzih (menyucikan), yaitu menyucikan Allah Tabaraka wa Ta’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, baik berupa kekurangan maupun penyerupaan dengan makhluk yang serba kurang.

Ucapan, “Subhanakallahumma wa bihamdika,” maksudnya: aku menyucikan-Mu, ya Allah, dengan disertai pujian kepada-Mu. Huruf ba di sini menunjukkan makna penyertaan. Jadi, aku bertasbih kepada-Mu dalam keadaan memuji-Mu, yakni disertai pujian kepada-Mu. Hal itu karena Allah ‘Azza wa Jalla memiliki dua jenis sifat:

Pertama: Sifat-sifat yang dinafikan dari Allah, dipahami dari ucapanmu: “Subhanakallahumma.”

Kedua: Sifat-sifat kesempurnaan yang ditetapkan bagi-Nya, dipahami dari ucapanmu: “Wa bihamdika.”

Maka Allah disucikan dari segala kekurangan dan dipuji atas segala kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Dengan demikian, kalimat ini mengandung dua perkara sekaligus: penyucian Allah dari kekurangan dan pujian kepada-Nya atas kesempurnaan.

Allah ‘Azza wa Jalla dipuji atas sifat-sifat-Nya yang sempurna dan atas berbagai nikmat-Nya yang terus-menerus dan berkesinambungan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS an-Nahl: 53)

Firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS an-Nahl: 18)

Maka seluruh nikmat Allah, baik yang bersifat agama maupun dunia, yang umum maupun yang khusus, semuanya berasal dari karunia dan kebaikan-Nya. Karena itu Dia berhak mendapatkan segala pujian dan sanjungan.

Ucapan beliau, “Allahummaghfir li.” Ini adalah doa, dan ia sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS an-Nashr: 3)

Makna maghfirah (ampunan) adalah menutupi dosa dan memaafkannya. Jadi, kamu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia menutupi dosamu sehingga tidak diketahui oleh seorang pun, memaafkannya, dan tidak menghukummu karenanya. Apabila Allah mengampuni seseorang, maka ia akan memperoleh kebaikan yang sangat banyak. Sebab, ampunan akan menghapus bekas-bekas dosa.

Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa apabila seseorang memperbanyak istighfar, maka ia akan diberi taufik untuk memperoleh kebenaran. Mereka menyimpulkan hal itu dari firman Allah Ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا ۝ وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar engkau mengadili antara manusia menurut apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat. Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS an-Nisa’: 105–106)

Setelah Allah menjelaskan bahwa Nabi-Nya akan memutuskan perkara di antara manusia, Dia memerintahkannya untuk beristighfar.

Ini menunjukkan —wallahu a’lam — bahwa istighfar termasuk sebab yang membuat hukum dan penilaian menjadi jelas serta benar. Sebab, dengan istighfar diperoleh ampunan atas dosa-dosa dan hilangnya pengaruh dosa dari hati.

Sesungguhnya dosa-dosa —kita memohon kepada Allah agar Dia mengampuni kita dan kalian— apabila telah menutupi hati, maka hati menjadi seperti berkarat. Ia tidak dapat membedakan kebenaran dan tidak mengenalinya. Tidakkah engkau melihat firman Allah Ta’ala:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ۝ كَلَّا

Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, ia berkata, ‘Dongeng-dongeng orang-orang dahulu.’ Sekali-kali tidak!

Maksudnya: bukanlah itu dongeng-dongeng orang-orang dahulu.

بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Bahkan apa yang dahulu mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.” (QS al-Muthaffifin: 13–14)

Karena hati mereka telah tertutupi oleh apa yang dahulu mereka kerjakan, mereka tidak lagi mengenali kebenaran. Bahkan mereka mengira bahwa kebenaran itu adalah kebatilan —wal ‘iyadzu billah.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberi petunjuk kepada kita dan kalian, serta memperbaiki bagi kita dan kalian urusan agama dan dunia kita.

Zahir hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa tersebut ketika rukuk dan sujud. Berdasarkan hal itu, doa ini terkadang dibaca ketika rukuk, meskipun pada asalnya rukuk adalah tempat untuk mengagungkan Rabb. Akan tetapi, doa ini merupakan sunah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga seseorang hendaklah bersemangat untuk mengamalkannya.

Baca juga: RUKUN SHALAT: MEMBACA AL-FATIHAH

Baca juga: TATA CARA SHALAT ORANG YANG SAKIT

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – RUKUK DAN TATA CARANYA

Baca juga: LARANGAN MEMBACA AL-QUR’AN SAAT RUKUK DAN SUJUD

Baca juga: CARA MENGANGKAT TANGAN, RUKUK, SUJUD, DAN TASYAHUD DALAM SHALAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram