PERINGATAN KERAS TERHADAP MENYIA-NYIAKAN SHALAT

PERINGATAN KERAS TERHADAP MENYIA-NYIAKAN SHALAT

Segala puji bagi Allah, Rabb Yang Mahaagung, Mahaluas karunia-Nya, Mahapenyantun, Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, Yang Mahapemurah lagi Mahamulia. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang sangat penyayang dan penuh kasih kepada orang-orang yang beriman.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka di atas jalan yang lurus.

Amma ba’du:

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Janganlah kalian termasuk orang-orang yang difirmankan Allah tentang mereka:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS Maryam: 59)

Mereka menyia-nyiakan shalat dengan mengakhirkannya dari waktu-waktunya, meremehkan shalat Jumat dan shalat berjamaah, tidak takut kepada Rabb mereka, dan tidak waspada terhadap siksa-Nya. Apabila mereka melaksanakan shalat, mereka melakukannya dengan sangat cepat seperti burung gagak mematuk makanan. Tidak ada ketenangan, tidak ada tuma’ninah, dan tidak pula mengharap pahala.

Engkau akan mengira bahwa ketika mereka mulai mengerjakan shalat, seakan-akan mereka sedang dipaksa. Engkau melihat mereka mengabaikan rukun-rukun dan syarat-syarat shalat. Mereka merasa jenuh terhadap seluruh kewajiban shalat dan lalai darinya. Mereka melupakan Allah, maka Allah pun membiarkan mereka.

Mereka menyia-nyiakan kemaslahatan dunia dan agama. Mereka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan. Mereka lebih mengutamakan keinginan diri daripada menunaikan kewajiban. Jika ada keuntungan yang diharapkan, mereka segera mendatanginya, baik beramai-ramai maupun sendirian. Namun, apabila datang perintah Allah, mereka justru bermalas-malasan mengerjakannya. Cukuplah hal itu menjadi sebab kehinaan dan kerugian bagi mereka.

Sungguh celaka orang yang lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Rabb-nya. Betapa meruginya orang yang berpaling dari kebaikan dan mengikuti hawa nafsunya hingga membinasakan dan menjatuhkannya.

Di manakah Islam dan iman seseorang apabila ia merasa aman dengan perbuatannya sendiri? Di manakah rasa takut terhadap suatu hari ketika setiap orang akan mendapati amal yang telah dikerjakannya dan akan menghadapinya? Pada hari itu, orang yang bangkrut ini tidak akan mendapati amalnya yang dapat menyelamatkannya dari azab Rabb-nya dan membebaskannya. Maka pada hari itu, sungguh celaka orang-orang yang menyia-nyiakan shalat, yaitu pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

Adapun orang-orang yang mulia adalah mereka yang memandang shalat sebagai nikmat terbesar dari Allah dan keuntungan yang paling agung. Mereka menyambutnya dengan dada yang lapang, semangat yang tulus, dan amal yang lurus. Mereka tidak pernah meninggalkan shalat Jumat maupun shalat berjamaah, kecuali jika ada uzur yang dibenarkan.

Allah Ta’ala berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ۝ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang. Agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan dan menambahkan kepada mereka karunia-Nya. Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS an-Nur: 37–38)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

Baca juga: HUKUM-HUKUM SHALAT

Baca juga: MENGIKUTI SYARIAT ALLAH

Baca juga: KISAH NABI ADAM – KELUAR DARI SURGA

Baca juga: BINASA KARENA MENURUTI HAWA NAFSU

Baca juga: MENGHINDARI SEBAB-SEBAB PERPECAHAN

(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Khotbah