MENGIKUTI SYARIAT ALLAH

MENGIKUTI SYARIAT ALLAH

Dari Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR al-Bukhari dalam kitab Qurratul Ainaini)

PENJELASAN

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu tergolong sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, sebab ia dapat menulis. Inilah yang membuat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu iri kepadanya. Abu Hurairah berkata, “Aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih banyak meriwayatkan hadis Rasulullah melebihiku selain Abdullah bin Amr, karena ia dapat menulis, sementara aku tidak.” (HR al-Bukhari)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak beriman salah seorang dari kalian…” Maksudnya iman yang sempurna.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…hingga hawa nafsunya…” Yaitu arah dan tujuannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…mengikuti apa yang aku bawa.” Yaitu syariat.

Intisari Hadis

1️⃣ Peringatan bagi siapa pun agar tidak mengedepankan logika sebagai sumber hukum, atau lebih memprioritaskan tradisi di atas syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal tersebut menafikan keimanan.

Tanya: Kenapa kalian mengartikannya dengan menafikan kesempurnaan iman?

Jawab: Kami mengartikan demikian karena mengedepankan keinginan syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin terjadi dalam setiap masalah. Seseorang mungkin saja mengarahkan keinginannya sesuai syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hal, namun dalam hal-hal tertentu tidak. Karena itu, sabda ini diartikan menafikan kesempurnaan iman. Namun, ada yang mengatakan bahwa jika keinginan seseorang tidak mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh masalah agama, maka ia murtad.

2️⃣ Wajib atas seseorang mencari dalil terlebih dahulu sebelum memutuskan hukum; bukan menghukumi terlebih dahulu, baru mencari dalil. Artinya, jika kamu ingin menetapkan hukum dalam masalah akidah atau perbuatan manusia, maka carilah dalil terlebih dalulu, setelah itu barulah kamu tentukan hukumnya. Jika kamu terlebih dahulu menentukan hukum, setelah itu mencari dalil, artinya kamu menjadikan syariat mengikuti keinginanmu. Kamu menjadikan akal sebagai rujukan pokok, sementara al-Qur’an dan as-Sunah sebagai cabang.

Inilah yang membuat sebagian ulama yang mengagung-agungkan mazhab -semoga Allah merahmati dan memaafkan mereka- menempatkan dalil-dalil sebagai pengikut pandangan mazhab mereka, selanjutnya berusaha menundukkan nas-nas agar sejalan dengan pandangan mazhab dengan cara-cara yang kurang etis. Ini termasuk musibah yang menimpa sebagian ulama. Seharusnya hawa nafsumu mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3️⃣ Hawa nafsu terbagi menjadi terpuji dan tercela. Namun pada prinsipnya, jika hawa nafsu disebutkan secara mutlak, maka maksudnya adalah hawa nafsu yang tercela, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika Allah Ta’ala menyebut ‘mengikuti hawa nafsu’, maka hal itu merupakan suatu celaan. Namun hadis ini menunjukkan bahwa hawa nafsu terbagi menjadi dua. Pertama: Hawa nafsu yang terpuji, yaitu hawa nafsu yang mengikuti syariat Nabi; Kedua: Hawa nafsu yang tercela, yaitu hawa nafsu yang menyalahi syariat Nabi. Jika disebut secara mutlak, maka hawa nafsu diartikan sebagai hawa nafsu yang tercela. Oleh karena itu, ada yang bilang, hudd (petunjuk) adalah kebalikan dari hawd (hawa nafsu).

4️⃣ Wajib menjadikan syariat sebagai sumber hukum dalam segala hal, berdasarkan sabda Nabi, “Mengikuti apa yang aku bawa.” Nabi menyampaikan syariat yang membawa kebaikan bagi seluruh hamba di akhirat dan di dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS an-Nahl: 89)

Segala urusan agama maupun dunia yang dibutuhkan manusia pasti dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara gamblang yang mudah dimengerti oleh semua orang maupun secara implisit yang hanya diketahui oleh mereka yang ilmunya mendalam.

5️⃣ Iman dapat bertambah dan berkurang, sebagaimana yang diyakini oleh ahli sunah waljamaah.

Baca juga: NAFSU DAN SIFAT-SIFATNYA

Baca juga: PERLUKAN HUKUM SYARIAT DITINJAU-ULANG?

Baca juga: MENOLAK PERKARA BARU DALAM AGAMA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah