SYARAT-SYARAT IBADAH YANG BENAR

SYARAT-SYARAT IBADAH YANG BENAR

Segala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam yang telah menyempurnakan agama-Nya, menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita, meridai Islam sebagai agama kita, dan memerintahkan agar kita berpegang denganya hingga mati.

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran: 102)

Wasiat Ibrahim dan Ya’qub ‘alaihimusssalam kepada anak-anaknya:

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’” (QS al-Baqarah: 132)

Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia agar beribadah kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56)

Di sana terdapat kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Mereka tidak pernah bisa berlepas dari kebutuhan kepada-Nya meski sekejap, sedangkan Dia Ta’ala tidak membutuhkan mereka dan tidak pula membutuhkan ibadah mereka, sebagaimana firman-Nya:

اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ

Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian.” (QS az-Zumar: 7)

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ مُوْسٰٓى اِنْ تَكْفُرُوْٓا اَنْتُمْ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۙفَاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Dan Musa berkata, Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (QS Ibrahim: 8)

Makna Ibadah

Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang disyariatkan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tidak tampak. Ibadah adalah hak Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya dan manfaatnya kembali kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa enggan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia sombong. Barangsiapa beribadah kepada Allah Ta’ala dan beribadah pula kepada selain-Nya, maka ia musyrik. Barangsiapa beribadah kepada Allah Ta’ala saja dengan sesuatu yang tidak disyariatkan, maka ia pelaku bidah. Barangsiapa beribadah kepada Allah Ta’ala saja dengan sesuatu yang disyariatkan, maka ia adalah mukmin yang bertauhid.

Karena hamba sangat membutuhkan ibadah dan tidak mungkin ia dapat mengerti hakekat ibadah sebagaimana yang diinginkan Allah Ta’ala dan yang sesuai dengan agama-Nya, maka Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan hakekat ibadah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah tagut itu.” (QS an-Nahl: 36)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS al-Anbiya’: 25)

Barangsiapa menyimpang dari ibadah yang telah dijelaskan oleh Rasul dan diturunkan tentangnya kitab-kitab dan menyembah Allah Ta’ala menurut seleranya dan selera hawa nafsunya serta hiasan setan manusia dan setan jin, maka dia sungguh telah tersesat dari jalan Allah Ta’ala. Ibadahnya bukan merupakan ibadah kepada Allah Ta’ala, melainkan ibadah kepada hawa nafsunya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS al-Qashash: 50)

Golongan semacam ini banyak terdapat pada manusia, khususnya kaum Nasrani dan kelompok-kelompok sesat dari umat ini. Mereka menjalankan banyak model ibadah untuk diri mereka dengan sesuatu yang menyimpang dari syariat Allah Ta’ala. Hal ini akan jelas dengan menerangkan hakekat ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga jelas bahwa semua yang menyimpang adalah batil. Barangsiapa beranggapan bahwa orang yang melakukanya dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya ia menjauhkanya dari Allah Ta’ala.

Sesungguhnya ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan dibangun di atas prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang kokoh, yang terangkum dalam hal-hal berikut:

1️⃣ Bahwa ibadah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak ada celah bagi akal untuk ikut campur di dalamnya. Yang memiliki otoritas untuk membuat syariat hanyalah Allah Ta’ala atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan kepada Nabi-Nya:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat beserta kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS Huud: 112)

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu). Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS al-Jaatsiyah: 18)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS al-An’aam: 50)

2️⃣ Ibadah harus ikhlas karena Allah Ta’ala, bersih dari noda-noda syirik, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (QS al-Kahfi: 110)

Jika ibadah bercampur dengan kesyirikan, maka kesyirikan itu dapat menghapusnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS al-An’aam: 88)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS az-Zumar: 65)

3️⃣ Yang harus menjadi teladan dan pemberi penjelasan tentang ibadah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu.” (QS al-Ahzab: 21),

dan Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah! Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah!” (QS al-Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ

Barangsiapa melakukan amal yang tidak ada tuntunanya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

Salatlah kalian sebagaimana aku salat!” (HR al-Bukhari dan ad-Darimi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ

Ambilah dariku manasik kalian!” (HR Muslim)

Serta nas-nas lain yang menunjukan kewajiban mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan mencontoh yang lain.

4️⃣ Ibadah memiliki batas waktu dan ukuran yang tidak boleh dilampaui, seperti salat.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya salat adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS an-Nisa’: 103)

Seperti  haji, Allah Ta’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS al-Baqarah: 197)

Seperti puasa, Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS al-Baqarah: 185)

Maka, semua ibadah itu tidak akan sah kecuali dilakukan di waktu-waktunya.

5️⃣ Ibadah harus dibangun di atas kecintaan kepada Allah Ta’ala, menghinakan diri kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗ

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS al-Isra’: 57)

Allah Ta’ala berfirman tentang para nabi-Nya:

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS al-Anbiyaa’: 90)

Firman-Nya:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ

Katakanlah, Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Katakanlah,Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS Ali Imran: 31-32)

Allah Ta’ala menyebutkan ciri-ciri mencintai Allah Ta’ala dan buah-buah yang dihasilkan dari mencintai-Nya. Adapun ciri-cirinya adalah: mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, taat kepada Allah Ta’ala, dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun buahnya adalah mendapatkan cinta Allah Ta’ala, mendapatkan ampunan-Nya dan rahmat dari-Nya.

6️⃣ Bahwa ibadah tidak akan gugur dari seorang mukalaf sejak ia balig berakal hingga wafat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Islam.” (QS Ali Imran: 102),

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS al-Hijr: 99)

Ibadah memilki ragam. Ia adalah sesuatu yang mencakup seluruh yang dicintai dan diridai Allah Ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tidak tampak.

Salat, zakat, puasa dan haji adalah jenis-jenis ibadah yang teragung. Semuanya adalah rukun-rukun Islam. Begitu pula sifat-sifat yang terpuji dan akhlak utama seperti berkata jujur, menunaikan amanat, berbakti kepada orang tua, silaturahmi, menepati janji, nasihat, amar makruf dan nahi mungkar, jihad, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, budak dan hewan, berdoa, berzikir, membaca al-Qur’an, mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertobat, mengikhlaskan (memurnikan) agama untuk-Nya, sabar dalam menyikapi ketentuan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, rida terhadap kada-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, dan takut azab-Nya. Seluruh amal dalam agama masuk dalam kategori ibadah. Ibadah teragung adalah menjalankan segala yang diwajibkan Allah Ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi yang ia riwayatkan dari Rabb Yang Mahamulia dan Mahaagung, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang sepadan dengan menjalankan apa yang Aku wajibkan kepadanya.”

Menjalankan amalan-amalan fardu adalah sebaik-baik amalan, sebagaimana amirul mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Sebaik-baik amal adalah menjalankan apa yang difardukan Allah Ta’ala, warak (menahan diri) dari apa yang Dia haramkan dan mengharap dengan penuh kejujuran apa yang ada di sisi Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan kepada hamba-Nya amalan-amalan fardu melainkan untuk mendekatkan mereka kepada-Nya, mewujudkan untuk mereka keridaan dan rahmat-Nya.

Amalan fardu yang bersifat badaniah yang paling agung dan dapat mendekatkan diri kepada Allah ta’ala adalah salat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Posisi hamba yang paling dekat kepada Rabbnya adalah tatkalah ia bersujud” dan bersabda, “Jika salah seorang dari kalian salat, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Rabbnya.” Akan tetapi, timbangan salat menjadi ringan bagi kebanyakan manusia dewasa ini, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh.” (QS Maryam: 59-60)

Anehnya, sebagian dari mereka sibuk menjalankan amalan-amalan sunah sedangkan salat disia-siakan. Kamu bisa melihat mereka menunaikan haji dan umrah, namun menyia-nyiakan salat. Ada juga dari mereka yang sering bersedekah dan memberi, namun tidak menunaikan zakat yang wajib. Ada juga di antara mereka orang-orang yang baik akhlaknya kepada manusia, namun durhaka kepada kedua orang tua, memutuskan silaturahmi dan buruk perilakunya terhadap istri.

Tidak diragukan lagi bahwa adil terhadap yang dipimpin adalah termasuk fardu-fardu yang wajib, baik yang dipimpin adalah masyarakat umum seperti kepala negara yang memimpin negara maupun orang-orang dalam wilayah khusus seperti laki-laki yang memimpin rumah tangganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian bertanggung jawab terhadap yang dipimpinya.”

Dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan yang Maharahman, dan kedua Tangan-Nya adalah kanan, yaitu orang-orang yang adil dalam kepemimpinanya dan dalam keluarga serta orang-orang yang mereka pimpin.”

Bentuk perhatian kepada keluarga dan anak-anak yang terbaik adalah memerintahkan mereka kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mewajibkan mereka melaksanakan salat, melarang mereka mendengar nyanyian, alat musik, serulung, menonton film porno, dan film-film yang memuat pemikiran-pemikiran yang meracuni, atau yang melalaikan dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dan zikir kepada-Nya. Sebagian orang tua yang tidak dewasa membawa penyakit-penyakit ini ke dalam rumah mereka dan membiarkanya merusak akhlak anak-anak dan istri-istri mereka.

Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang sebenarnya adalah mereka yang memakmurkan rumah-rumah mereka dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mendidik anak-anak  dan istri-istri mereka agar taat kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka, dan orang-orang yang berkata,Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya Jahanam adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS al-Furqan: 64-66)

Sesungguhnya hamba-hamba Allah adalah mereka yang berdoa kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki istri dan keturunan mereka,

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang yang bertakwa.” (QS al-Furqaan: 74)

Sesungguhnya ibadah tidak dibatasi dengan satu definisi yang sempit, namun ia mencakup segala yang Allah Ta’ala syariatkan, baik berupa perkataan, perbuatan maupun niat, karena niat mencakup perkataan lisan, gerakan raga dan maksud hati, bahkan ia mencakup seluruh kehidupan muslim hingga makan, minum dan tidurnya, jika dengan amalan-amalan itu ia berniat untuk memperkuat diri agar mampu melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Bahkan ia mencakup pula hubungan suami-istri, jika ia niatkan untuk menjaga kesucian diri dari yang haram, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan dalam kemaluan salah seorang dari kalian adalah sedekah. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami memenuhi syahwatnya baginya pahala di dalamnya?” Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian, jika ia meletakkanya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia meletakkan pada yang halal, baginya adalah  pahala.”

Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap matahari terbit engkau berbuat adil terhadap dua orang adalah sedekah, engkau membantu orang dalam kendaraannya adalah sedekah, engkau menumpangkannya di atas kendaraan atau mengangkat barangnya di atas kendaraan adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju salat adalah sedekah, menyingkirkan rintangan di jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah, dan beribadahlah kepada-Nya seperti yang Dia perintahkan.

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Hai manusia, sembahlah Rabb yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS al-Baqarah: 21-22)

Baca juga: BERIBADAH ADALAH TUGAS UTAMA HIDUP MANUSIA

Baca juga: NIAT DAN IKHLAS

Baca juga: RAIHLAH RIDA ALLAH, NISCAYA MANUSIA PUN RIDA

(Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)

Fikih