LARANGAN MEMINTA-MINTA

LARANGAN MEMINTA-MINTA

Di antara sifat buruk yang dijauhi oleh syariat adalah meminta-minta kepada manusia. Yang dimaksud dengan meminta-minta adalah berinisiatif meminta harta dan segala sesuatu tanpa kebutuhan dan tuntutan yang mendesak kepada orang lain. Meminta-minta mengandung kehinaan kepada selain Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang kaya, karena (mereka) memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Mahamengatahui.”  (QS al-Baqarah: 273)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: “Mereka tidak memelas dalam meminta dan tidak memaksa orang lain dengan sesuatu yang tidak mereka butuhkan. Orang yang meminta-minta padahal ia memiliki sesuatu yang bisa mencukupi dirinya sehingga tidak perlu meminta-minta, maka berarti ia telah meminta secara memaksa.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ. وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ بِهِ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ، وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

Bukanlah disebut miskin orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia dan (kebutuhannya) bisa diatasi dengan satu atau dua suap makanan atau satu dua butir kurma. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, dan keadaannya tidak diketahui oleh orang lain yang (apabila diketahui), orang lain akan bersedekah kepadanya, dan tidak meminta-minta kepada manusia.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا. فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk kekayaan, sesungguhnya ia telah meminta bara api. Sama saja, apakah ia memperoleh sedikit atau banyak.” (HR Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak sekerat daging pun di wajahnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hamid al-Gozali rahimahullah berkata, “Pada dasarnya meminta-minta adalah haram, namun meminta-minta diperbolehkan apabila ada tuntutan atau kebutuhan yang mendesak. Meminta-minta diharamkan karena mengandung unsur mengeluh kepada selain Allah Ta’ala. Di dalamnya terkandung makna meremehkan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Pada meminta-minta terkandung makna bahwa peminta-minta menghinakan diri kepada selain Allah Ta’ala. Orang seperti ini biasanya tidak terlepas dari hinaan orang yang diminta. Orang yang diminta terkadang memberinya karena malu atau riya’. Tentu saja ini haram bagi orang yang mengambilnya.”

Baca juga: ORANG YANG MULIA DAN ORANG YANG HINA

Baca juga: CELAAN TERHADAP AMBISI UNTUK MERAIH JABATAN

Baca juga: MEMINTA-MINTA YANG DIPERBOLEHKAN

(Dr Amin bin ‘Abdullah asy-Syaqawi)

Serba-Serbi