ORANG YANG MULIA DAN ORANG YANG HINA

ORANG YANG MULIA DAN ORANG YANG HINA

Dari Abu al-Abbas Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang laki-laki melintas di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya kepada sahabat yang berada di sampingnya,

مَا رَأيُكَ في هَذَا؟

Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?

Sahabat itu menjawab, “Dia termasuk orang yang mulia (dihormati). Demi Allah, jika ia meminang, ia pasti diterima. Jika ia meminta tolong, ia pasti ditolong.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam.

Selanjutnya melintas orang yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada sahabatnya,

مَا رَأيُكَ في هَذَا؟

Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?

Sahabat itu menjawab, “Ya Rasulullah, orang itu termasuk muslim yang fakir. Jika ia meminang, ia pasti ditolak. Jika ia minta tolong, ia pasti tidak ditolong. Jika ia berkata, ia pasti tidak didengar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأرْضِ مِثْلَ هَذَا

Orang ini lebih baik daripada seisi bumi yang seperti itu.” (Muttafaq alaih)

PENJELASAN

Seorang laki-laki melintas di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya kepada sahabat yang berada di sampingnya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?

Sahabat itu menjawab, “Dia termasuk orang yang mulia (dihormati). Demi Allah, jika ia meminang, ia pasti diterima. Jika ia meminta tolong, ia pasti ditolong.”

Setelah itu, melintas pula orang yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada sahabatnya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?

Sahabat itu menjawab, “Ya Rasulullah, orang itu termasuk muslim yang fakir. Jika ia meminang, ia pasti ditolak. Jika ia minta tolong, ia pasti tidak ditolong. Jika ia berkata, ia pasti tidak didengar.”

Orang yang pertama melintas adalah pemuka suatu kaum yang dihormati. Dia memegang keputusan. Jika meminang, ia pasti diterima. Jika berbicara, ia pasti didengar. Sedangkan orang yang kedua adalah orang yang lemah dan fakir. Jika meminang, ia pasti ditolak. Jika meminta pertolongan, ia pasti tidak ditolong. Jika ia berbicara, ia pasti tidak didengar.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang ini lebih baik daripada seisi bumi yang seperti itu.” Yakni, dia lebih baik di sisi Allah Ta’ala daripada seisi bumi dibandingkan orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan di tengah kaumnya.

Allah tidak melihat kemuliaan, kedudukan, keturunan, kekayaan, penampilan (rupa), pakaian, kendaraan, atau tempat tinggal. Allah hanya melihat hati dan amal. Jika hati seseorang baik, yaitu hubungannya dengan Allah baik, selalu kembali kepada-Nya, selalu ingat dan takut kepada-Nya, melakukan apa-apa yang diridai-Nya, maka ia adalah orang yang sangat mulia di sisi Allah. Ia adalah orang yang sangat layak di sisi-Nya. Ia adalah orang yang jika bersumpah dengan nama Allah, ia pasti diterima.

Dari hadis ini dapat dipetik faedah yang sangat besar, yaitu bahwa orang yang kedudukannya tinggi di dunia mungkin saja tidak bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang kedudukannya rendah di masyarakat bisa jadi kedudukannya sangat mulia di sisi Allah.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Allah menjadikan kita orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi di sisi Allah bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Baca juga: ORANG YANG PALING MULIA ADALAH ORANG YANG PALING BERTAKWA

Baca juga: PANJANG UMUR DAN BAIK AMAL

Baca juga: ZUHUD TERHADAP DUNIA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati