Zuhud adalah sikap mengalihkan kesenangan dari sesuatu yang rendah kepada sesuatu yang lebih baik. Sikap ini dilandasi oleh pengetahuan bahwa perkara yang ditinggalkan bersifat hina, sedangkan perkara yang dipilih bersifat mulia.
Barangsiapa memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah kekal, dan bahwa akhirat lebih baik serta lebih abadi daripada dunia—sebagaimana permata lebih berharga dan lebih tahan lama dibandingkan salju —maka dunia baginya tak ubahnya sebongkah salju di bawah terik matahari: perlahan meleleh hingga lenyap. Adapun akhirat, ia laksana permata berharga —tidak meleleh dan tidak habis.
Semakin kuat keyakinan akan perbedaan antara dunia dan akhirat, semakin besar pula dorongan untuk menukar dunia dengan akhirat. Allah Ta‘ala memuji sikap zuhud terhadap dunia dan mencela cinta dunia, tidak hanya di satu tempat dalam al-Qur’an, tetapi di banyak tempat.
Allah Ta’ala berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS al-A’la: 16-17)
Allah Ta’ala berfirman:
وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ
“Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit)” (QS ar-Ra’d: 26)
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS al-Ankabut: 64)
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَ
“Sekali-kali tidak demikian. Bahkan kalian (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS al-Qiyamah: 20-21)
Allah Ta’ala berfirman:
تُرِيْدُوْنَ عَرَضَ الدُّنْيَاۖ وَاللّٰهُ يُرِيْدُ الْاٰخِرَةَ
“Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).” (QS al-Anfal: 67)
Allah Ta’ala berfirman ketika menceritakan kondisi orang yang beriman dalam keluarga Fir’aun:
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS Ghafir: 39)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan rendahnya nilai dunia dalam sebuah riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar, sementara orang-orang berada di sisi kiri dan kanannya. Mereka mendapati bangkai seekor anak kambing yang telinganya kecil. Beliau pun memegang telinga bangkai itu dan bertanya,
أَيُّكُم يُحِبُّ أنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدرْهَم؟
“Siapa di antara kalian yang suka jika ini menjadi miliknya dengan harga satu dirham?”
Orang-orang menjawab, “Kami sama sekali tidak tertarik untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”
Beliau bertanya lagi,
أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟
“Apakah kalian suka jika ini diberikan cuma-cuma kepada kalian?”
Orang-orang menjawab, “Demi Allah, andaikan hidup pun anak kambing ini cacat karena telinganya kecil. Apalagi mati?”
Orang-orang menjawab, “Demi Allah, seandainya anak kambing ini masih hidup pun, ia tetap cacat karena telinganya kecil, apalagi sudah mati!”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فوَاللهِ، لَلدُّنْيَا أهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini menurut kalian.” (HR Muslim dan Abu Dawud)
al-Mustaurid bin Syaddad radhiyalahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا الدُّنْيَا في الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ في اليَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti seseorang di antara kalian mencelupkan jari (telunjuknya) ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat, dengan apa ia kembali?” (HR Muslim)
Yakni, berapa banyak air yang melekat di jarinya. Begitulah dunia—Nilainya sangat kecil dan jumlahnya pun tak lebih dari air yang melekat di jari.
Sahl bin Sa’d radhiyalahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia sebanding di sisi Allah dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi orang kafir seteguk air pun darinya (dari dunia).” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan tentang fitnah dunia, sebagaimana sabda beliau,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ. فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah terhadap perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari perempuan.” (HR Muslim)
Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ تعالى، وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa saja yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah, dan apa saja yang berkaitan dengannya (zikir kepada Allah), serta orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani)
Yang dimaksud dengan dunia di sini adalah segala sesuatu yang melalaikan dan menjauhkan dari Allah Ta’ala. Demikian penegasan dari Syekh Al-Albani.
Gaya Hidup Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Pada dasarnya, kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi teladan dalam bersikap zuhud terhadap dunia dan menganggap remeh kenikmatan dunia yang ditawarkannya. Jika ada yang beranggapan bahwa sikap tersebut hanya karena beliau hidup dalam kemiskinan, maka jawabannya adalah, “Sesungguhnya Allah memilihkan kondisi yang terbaik dan paling mulia bagi Nabi-Nya, manusia yang paling Dia cintai dan paling mulia di sisi-Nya.” Oleh karena itu, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tetap meneladani kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun setelah itu Allah menaklukkan berbagai negeri dan mengalirkan harta ke Jazirah Arab. Demikian pula ayahnya, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menyebutkan harta yang diperoleh kaum muslimin. Ia berkata, ‘Pada suatu hari aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan lemah karena tidak mendapatkan sebutir pun daqal (kurma yang jelek) untuk sekadar mengganjal perut beliau.’” (HR Muslim dan at-Tirmidzi)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kenyang selama dua hari berturut-turut karena makan roti gandum, hingga beliau wafat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah makan di atas meja hingga beliau wafat, dan tidak pernah makan roti yang lembut hingga beliau wafat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari ‘Urwah bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, wahai keponakanku, sungguh kami melihat hilal, kemudian hilal, lalu hilal lagi—tiga hilal dalam dua bulan—namun api tidak dinyalakan sama sekali di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memasak.”
‘Urwah bertanya, “Wahai bibi, lalu apa yang kalian makan?”
Aisyah menjawab, “Al-Aswadan, kurma, dan air. Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertetangga dengan orang-orang Anshar yang dikaruniai rezeki melimpah. Mereka sering mengirimkan susu hewan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberikannya kepada kami.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menunjukkan kepada kami sepotong pakaian dari bulu yang bermutu rendah dan kain sarung yang kasar. Lalu ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan mengenakan dua pakaian ini.’” (HR Muslim)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Alas tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gunakan untuk tidur hanyalah selembar kulit yang diisi sabut.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Gaya Hidup Para Sahabat
Kondisi para sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang merupakan sebaik-baik dan seutama-utama umat, menunjukkan keutamaan zuhud dan sikap meremehkan dunia.
Diriwayatkan dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat bersama para sahabat, tiba-tiba beberapa orang dari kalangan Ahlush Shuffah terjatuh karena kelaparan. Orang-orang Badui pun menyangka mereka gila.
Setelah shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ، لَأَحْبَبْتُمْ أَنْ تَزْدَادُوا فَاقَةً وَحَاجَةً
“Seandainya kalian mengetahui apa yang ada untuk kalian di sisi Allah, niscaya kalian akan menyukai untuk semakin bertambah dalam kefakiran dan kebutuhan.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Muhammad bin Sirin berkisah, “Kami pernah bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Saat itu ia mengenakan dua kain linen yang sobek di atasnya. Lalu Abu Hurairah membuang ingus ke kain tersebut. Aku pun berkata, ‘Wah, wah, Abu Hurairah membuang ingus di kain linen.’”
Abu Hurairah menjawab, “Sungguh, aku pernah pingsan di antara mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha karena kelaparan. Lalu seseorang datang dan meletakkan kakinya di atas leherku. Ia mengira aku gila, padahal aku hanya lapar.” (HR al-Bukhari dan at-Tirmidzi)
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Umar radhiyallahu ‘anhu, saat itu beliau menjabat sebagai Amirul Mukminin, sedang menambal pakaian yang robek di antara kedua bahunya dengan tiga potong kain alas pelana, yang dijahit sebagian dengan sebagian yang lain.”
Baca juga: SUNGGUH MENAKJUBKAN URUSAN ORANG BERIMAN
Baca juga: ADIL DALAM BERAKTIVITAS
Baca juga: BAHAYA PUJIAN
(Syekh Dr Ahmad Farid)

