KESETIAAN DAN TOLERANSI DALAM PERGAULAN SUAMI ISTRI

KESETIAAN DAN TOLERANSI DALAM PERGAULAN SUAMI ISTRI

Setiap manusia mempunyai pandangan, konsep, kebutuhan dan kecenderungan sendiri. Ia juga mempunyai watak khusus yang adakalanya tidak cocok dengan watak pasangan hidupnya. Ini terjadi pada masalah-masalah materiil maupun moril. Dengan demikian, selayaknya suami atau istri saling setia dan tidak berselisih, saling memberi kemudahan dan tidak menyulitkan. Masing-masing memperlakukan yang lain dengan baik, saling mengalah, tidak mengedepankan hasrat dan keinginan diri sendiri, melapangkan dada dalam menerima kesalahan serta menutup mata terhadap kekurangan.

Suami yang merupakan pemimpin keluarga dituntut untuk bersikap lebih sabar daripada istri. Sebagaimana diketahui bahwa fisik perempuan adalah lembut dan lemah. Ia lebih mengedepankan perasaan daripada akal. Ia juga “tawanan” di tangan suaminya. Ia sangat membutuhkan suaminya, menggantungkan harapan kepadanya, dan memandangnya di dunia ini sebagai pusaka dan modal hidupnya. Maka, mecari-cari kesalahan istri, mengorek-ngorek kekurangannya, menyikapi dirinya secara berlebihan dan tidak berhati-hati dalam meluruskannya akan menyebabkannya patah, dan patahnya itu adalah perceraian.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ. فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ. وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ. فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Sambutlah pesanku agar memperlakukan perempuan dengan baik, sebab perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan (tulang) yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, maka ia tetap bengkok. Maka, sambutlah pesanku agar memperlakukan perempuan dengan baik.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ. فَإِنْ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا، اسْتَمْتَعْتَ بِهَا، وَبِهَا عِوَجٌ. وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا، كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا

Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan ia tidak dapat engkau luruskan dengan cara apapun. Jika engkau hendak bersenang-senang dengannya, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, dan dia tetap saja bengkok. Dan jika engkau berusaha meluruskannya, maka ia akan patah, dan mematahkannya adalah menceraikannya.” (HR Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadis lain bahwa perempuan itu kurang akal dan agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan akal seorang laki-laki yang teguh daripada kalian, wahai para perempuan.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, hadis ini salah dipahami oleh orang-orang yang tidak paham, dan telah ditakwilkan keluar dari pengertian yang sesungguhnya, lalu telah dijadikan dalil bahwa Islam merendahkan kaum perempuan dan memandang sebelah mata kemampuannya, serta mendiskreditkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Alangkah buruk kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Tidaklah mereka mengatakan  melainkan kebohongan belaka.” (QS al-Kahfi: 5)

Berapa banyak kaum perempuan terpedaya dengan kata-kata ini lalu mereka yang tidak paham menentang hadis ini dan tidak berkenan menyebut dan menyitirnya. Mereka tidak memahami bahwa hadis ini dan hadis-hadis sejenis justru merupakan bukti nyata bahwa Islam melindungi kaum perempuan, menjamin hak-haknya dan menjaga mereka dengan penuh kasih sayang, dimana dijelaskan bahwa kebengkokan kaum perempuan adalah naluri dan sifat dasar. Maka, suami harus mendampinginya dan bersabar, tidak membebani istri dengan tugas-tugas yang memberatkan dan di luar kemampuannya.

Selain itu, ia harus memejamkan mata terhadap kesalahan-kesalahan istrinya, menyikapi kekeliruannya dengan sabar, berlapang dada atas perilaku bodoh dan ketidaktahuannya. Sebab, itu semua adalah bagian dari tabiat asli dan nalurinya.

Kelembutan naluri seorang perempuan yang seringkali mengalahkan akalnya adalah kelemahan lain yang ada padanya. Namun, kelemahan ini justru menjadi daya tarik dan pesona yang mereka miliki. Ia menjadi daya tarik bagi suami sekaligus penguat ikatan antara keduanya. Dengan demikian, masing-masing merasa saling membutuhkan. Laki-laki condong pada perempuan karena perempuan adalah bagian darinya dan pelengkap baginya. Demikian pula, perempuan condong pada laki-laki karena laki-laki adalah asal darinya dan menjadi pelengkap baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya. Dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 1)

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perempuan paling cerdas dan paling mulia, paling komitmen pada hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Namun merujuk kata-kata beliau, mereka sesekali mengemukakan argumen. Adakalanya salah seorang di antara mereka meninggalkan beliau dari siang hingga malam.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahnuma, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: Suatu hari aku marah kepada istriku. Itu karena ia memintaku menyampaikan argumen, sedangkan aku menolaknya sehingga ia mempertanyakannya dan berkata, “Mengapa engkau menolak permintaanku agar engkau menyampaikan argumen. Padahal, demi Allah, para istri Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh meminta argumen kepada beliau. Bahkan salah seorang dari mereka pernah meninggalkan beliau dari siang hingga malam.”

Lalu aku bertolak ke rumah Hafshah (binti Umar). Aku bertanya kepadanya, “Apakah kalian pernah meminta argumen kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Ia menjawab, “Ya.”

Aku bertanya lagi, “Apakah seseorang dari kalian pernah meninggalkan beliau dari siang hingga malam?”

Ia menjawab, “Ya, ada.”

Aku berkata: Sungguh tidak beruntung dan merugilah seseorang di antara kalian yang melakukan demikian. Apakah sesorang di antara kalian dapat selamat dari murka Allah dikarenakan murka Rasulnya? Ternyata istriku itu telah meninggal dunia. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan bahwa antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Aisyah radhiyallahu ‘anha terjadi percekcokan sehingga mereka mengadu kepada ayah Aisyah, yaitu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah, “Apakah engkau atau aku yang berbicara?

Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab sambil marah, “Engkau saja, dan katakan yang benar!”

Lalu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menampar putrinya itu hingga mulutnya berdarah. Ia berkata, “Hai musuh dirinya sendiri, tidaklah beliau berkata selain yang benar.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong Abu Bakr dan melindungi Aisyah dari belakang punggungnya seraya berkata kepada Abu Bakr, “Kami mengundangmu bukan untuk ini.” (HR ath-Thabrani)

Dalam Shahih al-Bukhari, selain juga terdapat dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sedang bersama beberapa sahabatnya di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Lalu Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha mengirim satu nampan berisi roti dan daging sebagai hadiah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta tamu beliau. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha melihat kiriman itu, perasaan cemburunya muncul. Ia merebut dan menepis nampan tersebut sehingga makanan di atasnya jatuh berserakan. (HR al-Bukhari)

Bayangkan! Seandainya itu terjadi pada kita, apa yang akan kita lakukan dan apa reaksi kita? Dalam peristiwa ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengucapkan kata-kata keras terhadap Aisyah, tidak pula mencelanya, tidak mengangkat tangan untuk memukulnya, melainkan tidak lebih hanya mengumpulkan makanan itu dan meletakkannya kembali di atas nampan seraya bersabda,

غَارَتْ أُمُّكُمْ

Ibu kalian sedang cemburu.”

Kata-kata demikian beliau ulangi sampai dua kali.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbasa-basi terhadap Aisyah demi Zainab, melainkan mengambil nampan Aisyah yang utuh dan mengirimkannya kepada Zainab sebagai gantinya. Sementara nampan yang pecah tetap berada di rumah Aisyah.

Hal serupa juga terjadi antara Aisyah dengan Ummu Salamah, dengan Hafshah, dan dengan Shafiah radhiyallahu ‘anhuma. Dalam semua kejadian itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan maaf untuk Aisyah dan mengganti dengan nampan utuh sementara yang pecah diberikan kepada Aisyah.

Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangan beliau, tidak pula memukul seorang perempuan, (tidak pula) seorang pelayan, kecuali dalam jihad fi sabilillah. Dan, tidaklah beliau dicaci lalu beliau balas dendam kepada pelakunya kecuali jika kesucian Allah Ta’ala dilanggar. Beliau membalas dendam karena Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Baca juga: ISTRI YANG SALEH ADALAH NIKMAT YANG BESAR

Baca juga: SIKAP SUAMI JIKA MELIHAT PADA ISTRINYA SESUATU YANG TIDAK DISUKAI

Baca juga: MENJAGA RAHASIA HUBUNGAN SUAMI ISTRI

(Dr Abdul Aziz bin Fauzan bin Shalih al-Fauzan)

Adab