KEMATIAN – PERJALANAN ROH PASCA KEMATIAN

KEMATIAN – PERJALANAN ROH PASCA KEMATIAN

Perjalanan roh terbagi menjadi dua, yaitu roh orang mukmin serta roh orang kafir dan orang fasik.

1️⃣ Orang Mukmin

Ketika seorang mukmin akan terputus dari kehidupan dunia dan akan menghadapi kehidupan akhirat, para malaikat berwajah putih turun kepadanya dari langit. Wajah mereka seperti matahari. Hingga mereka duduk di sekitarnya sejauh mata memandang. Bersama mereka kain kafan dari Surga dan minyak wangi dari Surga. Kemudian Malaikat Maut datang dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah!” Maka roh itu mengalir keluar seperti mengalirnya tetesan air dari kantung air. Seluruh malaikat yang berada di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit berselawat kepadanya. Pintu-pintu langit dibukakan untuknya. Tidak satu penjaga pintu langit pun melainkan mereka berdoa kepada Allah agar roh itu dinaikkan melalui pintunya.

Ketika Malaikat Maut telah mengambil roh itu, dia tidak membiarkannya di tangannya barang sekejap pun hingga para malaikat mengambilnya dan meletakkannya di atas kafan dengan minyak wangi itu. Maka keluar darinya aroma harum seharum aroma yang paling harum yang pernah ditemukan di muka bumi.

Roh itu dibawa naik. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka ditanya, “Roh siapakah yang baik ini?” Mereka menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan nama terbaik yang dia pernah dipanggil di dunia. Hingga mereka tiba di langit dunia. Mereka meminta agar pintu langit dibuka, maka pintu langit pun dibuka untuk mereka. Di setiap langit ia diiringi oleh para malaikat di dekatnya menuju langit berikutnya hingga berakhir di langit ketujuh.

Allah Ta’ala berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku ini di Illiyyin! Kembalikanlah dia ke bumi (tanah) karena dari tanah mereka Kuciptakan, ke sana mereka akan Kukembalikan, dan dari sana mereka akan Kubangkitkan.” Maka roh itu dikembalikan ke jasadnya.

Sesungguhnya ia mendengar suara gerakan sandal teman-temannya. Ketika mereka telah meninggalkannya, dua malaikat datang dan mendudukkannya seraya bertanya, “Siapa rabbmu?” Dia menjawab, “Rabbku adalah Allah.” Mereka bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Agamaku adalah Islam.” Mereka bertanya, “Siapa orang ini yang diutus kepada kalian?” Dia menjawab, “Dia adalah utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian mereka bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Dia menjawab, “Aku membaca Kitab Allah, mengimani dan membenarkannya.” Mereka membentaknya dan bertanya lagi, “Siapa rabbmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” Itulah akhir fitnah yang ditimpakan kepada seorang mukmin, yakni saat Allah berfiman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS Ibrahim: 27). Maka ia tetap menjawab, “Rabbku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kemudian penyeru dari langit menyeru, “Hamba-Ku benar! Bentangkanlah baginya hamparan dari Surga, pakaikanlah dia pakaian dari Surga, dan bukakanlah baginya pintu menuju Surga.” Maka datang kepadanya aroma dan wewangian Surga. Kuburnya diperluas sejauh mata memandang.

Seorang pria berwajah tampan, berpakaian bagus dan beraroma harum datang kepadanya dan berkata, “Bergembiralah dengan apa-apa yang menyenangkanmu! Ini adalah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.”

Orang mukmin itu berkata, “Kamu juga. Semoga Allah memberimu kabar gembira. Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.”

Orang berwajah tampan itu menjawab, “Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, kamu adalah orang yang selalu bersegera dalam ketaatan kepada Allah dan lambat dalam kemaksiatan kepada Allah sehingga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Ketika ia melihat apa yang terdapat di Surga, ia berkata, “Wahai Rabb-ku, segerakanlah Hari Kiamat agar aku dapat bertemu kembali dengan keluarga dan hartaku.”

Dikatakanlah kepadanya, “Tenanglah!”

2️⃣ Orang Kafir dan Orang Fasik

Seorang kafir (orang fasik) ketika akan terputus dari kehidupan dunia dan akan menghadapi kehidupan akhirat, para malaikat berwajah hitam, kasar lagi kejam turun kepadanya dari langit dengan membawa kain kasar hingga mereka duduk di sekitarnya sejauh mata memandang. Kemudian Malaikat Maut datang dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah!” Maka roh itu tersebar ke seluruh jasadnya. Malaikat Maut mencabutnya bagaikan mencabut tusuk panggang daging yang banyak cabangnya dari kain wol yang basah sehingga urat dan sarafnya terputus. Rohnya dicabut dengan disertai peluh. Lalu Malaikat maut mengambilnya. Seluruh malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak satu penjaga pintu pun melainkan mereka berdoa kepada Allah agar roh itu tidak dinaikkan melalui pintunya.

Apabila Malaikat Maut telah mengambil roh itu, dia tidak membiarkannya di tangannya barang sekejap pun hingga para malaikat mengambilnya dan meletakkannya di atas kain kasar. Maka keluar darinya bau busuk sebau bangkai yang paling busuk yang pernah ditemukan di muka bumi.

Kemudian roh itu dibawa naik. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka ditanya, “Roh siapakah yang busuk ini?” Mereka menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan nama terburuk yang dia pernah dipanggil di dunia. Hingga mereka tiba di langit dunia. Mereka meminta agar pintu langit dibuka, namun pintu langit tidak dibuka untuknya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku ini di Sijjin di lapis bumi yang paling rendah. Kembalikanlah dia ke bumi (tanah) karena dari tanah mereka Kuciptakan, kepadanya mereka akan Kukembalikan, dan darinya mereka akan Kubangkitkan.” Maka roh itu dilempar dengan keras hingga menimpa jasadnya.

Sesungguhnya dia mendengar suara gerakan sandal teman-temannya. Ketika mereka meninggalkannya, dua malaikat datang dan mendudukkannya seraya bertanya, “Siapa rabbmu?” Dia menjawab, “Hah…hah…Aku tidak tahu.” Mereka bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Hah…hah…Aku tidak tahu.” Mereka bertanya, “Siapa laki-laki ini yang diutus kepada kalian?” Dia menjawab, “Hah…hah…Aku tidak tahu.” Mereka berkata, “Kamu tidak tahu dan tidak pula membaca.”

Kemudian penyeru dari langit menyeru, “Dia bohong! Bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, pakaikanlah dia pakaian dari Neraka, dan bukakanlah baginya pintu menuju Neraka.” Kemudian datang kepadanya panas dan racun Neraka. Kuburnya dipersempit untuknya hingga tulang rusuknya berantakan.

Seorang pria berwajah buruk, berpakaian jelek, dan berbau busuk datang kepadanya dan berkata, “Bergembiralah dengan apa-apa yang menyengsarakanmu! Ini adalah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.”

Orang kafir (orang fasik) itu berkata, “Kamu juga. Semoga Allah memberimu kabar gembira dengan keburukan. Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.”

Orang berwajah buruk itu menjawab, “Aku adalah amal burukmu. Kamu selalu lambat dalam ketaatan kepada Allah dan bersegera dalam bermaksiat kepada Allah sehingga Allah membalasmu dengan keburukan.”

Kemudian ia didatangi oleh seorang yang buta, tuli dan bisu yang membawa palu yang sekiranya dipukulkan ke atas gunung, niscaya gunung itu hancur menjadi debu. Orang itu memukulnya hingga ia menjadi debu, lalu Allah mengembalikannya seperti semula dan orang itu memukulnya kembali. Ia pun menjerit dengan jeritan yang didengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia.

Dia berkata, “Ya Rabbku, janganlah tegakkan Kiamat, janganlah tegakkan Kiamat.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Hakim)

Baca sebelumnya: KEMATIAN – NIKMAT DAN AZAB KUBUR

Baca sesudahnya: KEMATIAN – DERITA DI ALAM KUBUR

Akidah