KEISTIMEWAAN TAUHID SEBAGAI PENEBUS DOSA

KEISTIMEWAAN TAUHID SEBAGAI PENEBUS DOSA

Tauhid berperan sebagai penghapus dosa. Semakin kuat seorang hamba menerapkan tauhid, semakin besar kesempatannya masuk Surga, sesuai dengan besar amalnya. Oleh karena itu, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan ayat surat al-An’am:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-An’am: 82)

Yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah kesyirikan, sebagaimana ditegaskan pada hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu para sahabat takut terhadap ayat ini. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak pernah menzalimi diri sendiri?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‏ إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ، أَلاَ تَسْمَعُونَ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ: ‏{‏إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ‏}

Kezaliman di sini bukanlah kezaliman yang kalian maksud. Kezaliman di sini adalah kesyirikan. Bukankah kalian pernah mendengar ucapan seorang hamba yang saleh (Luqman), ‘Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang amat besar. (QS Luqman: 13)?” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Firman-Nya: “Orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, maka merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka pulalah yang mendapat petunjuk.”

Artinya, balasan bagi orang yang beriman, yaitu orang yang yang bertauhid dan tidak mencampur-adukkan keimanan dengan kezaliman atau tidak mencampur-adukkan tauhid dengan kesyirikan adalah mendapatkan keamanan dan petunjuk yang sempurna. Setiap kali tauhidnya berkurang akibat melakukan sebagian kezaliman yang berupa kesyirikan, maka berkurang pula rasa aman dan petunjuk dari-Nya sebesar kezaliman yang ia lakukan.

Dari Ubadah bin as-Shamit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ممَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَل

Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, Isa adalah hamba dan rasul-Nya sekaligus kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam serta roh daripada-Nya (roh dari roh-roh yang Dia ciptakan), juga (bersaksi) bahwa Surga benar-benar ada dan Neraka benar-benar ada, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga, apapun amalannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “apapun amalannya.” Maksudnya, walaupun ia sedikit beramal, berdosa dan bermaksiat. Ini salah satu keutamaan tauhid yang akan diperoleh oleh orang yang merealisasikannya.

Dari Itban bin Malik bin Amr bin al-Ajlan al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah (Tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah) karena mengharapkan Wajah Allah atas Neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Bila seseorang mengucapkan kalimat tauhid dengan mengharapkan Wajah Allah (ikhlas) dan ia memenuhi segala persyaratan dan konsekuensinya, maka Allah Ta’ala akan memberinya karunia dan segala janji Allah untuknya. Di antara karunia itu adalah ia diharamkan atas api Neraka. Sudah barang tentu ini merupakan keistimewaan yang sangat besar dari tauhid. Akan tetapi, keistimewaan tauhid ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertauhid dan menjauhi lawannya, yaitu syirik, walaupun ia memiliki sebagian dosa dan maksiat dan meninggal sebelum sempat bertobat. Orang bertauhid semacam ini terserah kepada kehendak Allah. Bila Allah menghendaki untuk mengazabnya, maka ia akan diazab. Bila masa azab telah berlalu, maka Allah akan mengharamkannya api Neraka. Sebagaimana bila Allah menghendaki untuk mengampuninya, maka ia pun diampuni. Sejak sedia kala ia diharamkan atas api Neraka.

Dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ، قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: يَا رَبِّ، كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْن هَذَا، قَالَ: يَا مُوسَى، لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامَرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ، مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Nabi Musa berdoa, ‘Ya Rabb-ku, ajarkanlah aku suatu ucapan untuk aku jadikan sebagai bacaan zikir dan doaku kepada-Mu!’ Allah pun berfirman kepadanya, ‘Ucapkanlah wahai Musa, ‘laa ilaaha illallah.’ Nabi Musa kembali berdoa, ‘Ya Rabb-ku, semua hamba-Mu mengucapkan bacaan ini!’ Allah pun kembali berfirman, ‘Wahai Musa, andaikan langit yang tujuh tingkat beserta seluruh penghuninya selain Aku dan bumi yang tujuh lapis diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan ‘laa ilaaha illallah’ diletakkan di daun timbangan yang lain, niscaya ‘laa ilaaha illallah’ lebih berat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim dan ia menyatakan hadis ini sahih)

Hadis ini menunjukkan keistimewaan tauhid. Seandainya dosa seseorang seberat tujuh langit beserta penghuninya yang terdiri dari para malaikat dan lainnya dan tujuh bumi ditimbang, niscaya ‘laa ilaaha illallah’ lebih berat dibanding dengan dosa-dosa tersebut. Keutamaan tauhid inilah yang disebutkan dalam hadis bithaqah (kartu) dan hadis dari Anas.

Ini adalah keistimewaan kalimat tauhid yang sangat besar. Keistimewaan ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang telah menancapkan kalimat tauhid dengan kuat di dalam hatinya. Ia mengucapkannya dengan ikhlas dan memercayai setiap kandungannya. Ia meyakini maknanya, tanpa sedikitpun ragu, mencintai setiap yang dimaksud oleh kalimat ini. Dengan cara ini, kalimat tauhid begitu kuat memengaruhi dan bercahaya dalam hatinya. Bila demikian adanya, maka kalimat ini akan membakar segala dosa-dosa yang melekat dalam hatinya.

Baca juga: TAUHID, MAKNA DAN JENIS-JENISNYA

Baca juga: FAEDAH TAUHID

Baca juga: BAHAYA MENGABAIKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

(Syekh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh)

Akidah