EKSPEDISI KE AL-KUDR, KEISLAMAN UMAIR BIN WAHAB, DAN KEMATIAN ABU AFAK

EKSPEDISI KE AL-KUDR, KEISLAMAN UMAIR BIN WAHAB, DAN KEMATIAN ABU AFAK

Ekspidisi Militer ke al-Kudr

Pasca Perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kabar bahwa di sebuah sumur bernama al-Kudr —milik Bani Sulaim— telah berkumpul sepasukan gabungan dari Bani Sulaim dan Bani Ghathafan yang berencana memerangi kaum muslimin.

Setelah tujuh malam menetap di Madinah pasca Perang Badar, tepatnya pada bulan Syawwal tahun kedua hijrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju sumur al-Kudr. Namun, sesampainya di sana, pasukan yang diberitakan itu tidak dijumpai. Beliau dan para sahabat kemudian menetap di tempat tersebut selama tiga hari sebelum memutuskan untuk kembali ke Madinah.

Keislaman Umair bin Wahab: Dari Niat Membunuh Nabi menjadi Pejuang Dakwah di Makkah

Suatu ketika, Umair bin Wahab dan Shafwan bin Umayyah tengah berbincang tentang kekalahan kaum musyrikin dalam Perang Badar. Putra Umair, yang bernama Wahab, termasuk di antara para tawanan perang, sedangkan ayah dan saudara Shafwan tewas dalam pertempuran itu.

Dalam percakapan tersebut, Umair berkata dengan suara pelan bahwa seandainya bukan karena utang yang membebaninya serta keluarga yang ia khawatirkan akan menderita bila ia tinggalkan, niscaya ia akan berangkat ke Madinah untuk membunuh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mendengar hal itu, Shafwan segera melihat peluang. Ia berjanji akan melunasi seluruh utang Umair dan menanggung keluarganya jika Umair berhasil membunuh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bahkan jika sesuatu yang buruk menimpanya. Shafwan pun berjanji akan merahasiakan rencana itu. Umair menyetujui perjanjian tersebut.

Setibanya di Madinah, Umair terlihat oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Umar segera mencurigai niat kedatangannya dan membawa Umair menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terjadilah percakapan antara keduanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Umair untuk berkata jujur tentang tujuan kedatangannya. Umair berdalih bahwa ia datang hanya untuk menebus anaknya. Namun, ketika ia terus bersikeras mempertahankan alasannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan isi percakapannya dengan Shafwan di Makkah —padahal beliau tidak berada di sana.

Mendengar itu, Umair sangat terkejut. Ia sadar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah. Seketika itu pula ia menyatakan keislamannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat agar mengajarkan agama kepada Umair dan membebaskan tawanan yang hendak ia tebus.

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Umair kembali ke Makkah untuk berdakwah menyeru manusia kepada Islam, dengan semangat yang sama seperti ketika dahulu ia mengajak kepada kekufuran. Melalui dakwah Umair, banyak penduduk Makkah akhirnya memeluk Islam.

Kematian Abu Afak: Hukuman bagi Si Penyair Penghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kemunafikan Abu Afak semakin nyata. Ia berasal dari Bani ‘Amru bin ‘Auf. Puncaknya terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hukuman mati terhadap al-Harits bin Suwaid bin Shamit. Menanggapi hal itu, Abu Afak menulis sebuah syair yang berisi cemoohan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang akan membereskan orang keji itu untukku?” Maka Salim bin Umair berangkat untuk melaksanakan perintah itu dan berhasil membunuhnya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Syawwal, dua puluh bulan setelah hijrah.

Baca sebelumnya: KISAH UMAIR BIN ADI MEMBALAS PENGHINAAN ASMA’ BINTI MARWAN

Baca setelahnya: PERANG DENGAN BANI QAINUQA’: AWAL RETAKNYA PERJANJIAN DENGAN KAUM YAHUDI

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah