KISAH NABI YUSUF – PENGLIHATAN YA’QUB KEMBALI NORMAL

KISAH NABI YUSUF – PENGLIHATAN YA’QUB KEMBALI NORMAL

Nabi Yusuf bertanya kepada mereka tentang ayahnya. Mereka memberitahu Yusuf bahwa penglihatan Ya’qub telah rusak karena menangisi Yusuf.

Setiap penyakit dapat diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ya’qub. Baju yang tercium darinya aroma khas tubuh Yusuf dapat mengobati kesedihan dan kerinduan Ya’qub kepada Yusuf sehingga jiwa Ya’qub kembali tenang. Kebahagiaannya pun kembali datang sampai akhirnya penglihatannya kembali normal. Oleh karena itu, Nabi Yusuf memerintahkan saudara-saudaranya untuk mengantarkan pakaian yang saat itu tengah ia kenakan kepada Ya’qub, “Kembalilah kalian kepada ayah kalian dengan membawa pakaianku ini. Usapkanlah pakaian ini ke kedua matanya. Dengan izin Allah kedua matanya dapat melihat kembali seperti sedia kala.”

Nabi Yusuf juga memerintahkan saudara-saudaranya untuk membawa seluruh keluarganya ke Mesir. Dengan tinggal di Mesir mereka dapat berkumpul kembali setelah sekian lama berpisah dan mendapatkan kebaikan.

Ketika rombongan saudara-saudara Yusuf dalam perjalanan kembali ke negerinya, angin timur berhembus dengan membawa aroma Yusuf. Nabi Ya’qub mencium aroma itu dari jarak perjalanan delapan hari. Ia berkata kepada keluarga yang ada di sekitarnya, “Aku mencium aroma Yusuf. Jika saja kalian tidak menganggapku pikun, tentu kalian membenarkanku, karena aku benar-benar mencium aroma Yusuf.”

Keluarga Ya’qub berkata, dan mereka tidak tahu tentang Yusuf di Mesir, “Demi Allah, engkau masih dalam kekeliruan yang dulu. Engkau terlalu mencintai Yusuf dan tidak dapat melupakannya. Engkau tetap mengira Yusuf masih hidup dan berharap ia kembali kepadamu, padahal ia telah dimakan serigala sejak lama.”

Beberapa waktu kemudian rombongan tiba dengan membawa berita gembira. Mereka mengeluarkan pakaian Yusuf dan menempelkannya ke wajah sang ayah. Tiba-tiba penglihatan Ya’qub berfungsi kembali.

Nabi Ya’qub langsung berkata kepada orang-orang yang hadir, yaitu anak-anaknya dan keluarganya yang menuduhnya pikun, “Sudah kukatakan kepada kalian bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak ketahui. Sebelumnya aku memang berharap dapat berjumpa dengan Yusuf, menunggu kehadirannya agar kegundahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.”

Saudara-saudara Yusuf akhirnya meminta kepada ayahnya untuk memohonkan ampun kepada Allah Ta’ala atas apa yang mereka lakukan terhadap Yusuf dan Bunyamin, serta atas penderitaan yang dialami bapaknya, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun kepada Allah atas dosa-dosa kami di masa lalu. Sesungguhnya kami telah bersalah dalam memperlakukan Yusuf dan saudara kandungnya.”

Nabi Ya’qub memenuhi permintaan mereka dengan berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Rabb-ku atas dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapenyayang bagi hamba-hamba-Nya yang bertobat.”

Dalam satu riwayat dari Ibnu Jarir disebutkan bahwa suatu hari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu datang ke masjid. Ia mendengar seseorang tengah berdoa, “Ya Allah, Engkau telah menyeru kepadaku, lalu aku penuhi. Engkau telah memerintahkan aku, lalu aku menaati. Ini adalah waktu sahur, maka ampunilah aku.”

Ternyata suara itu datang dari rumah Abdullah bin Mas’ud. Umar bertanya tentang masalah itu kepada Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud menjawab,  “Sesungguhnya Nabi Ya’qub menunda memohonkan ampun untuk anak-anaknya hingga waktu sahur, sebagaimana perkataannya, ‘Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Rabbku,’ sedangkan Allah Ta’ala berfirman, ‘…dan yang memohon ampun di waktu sahur.’” (QS Ali Imran: 17)

Dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوبَ عَلَيْهِ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟

Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, lalu berfirman, “Adakah orang yang bertobat sehingga Aku menerima tobatnya? Adakah orang yang meminta sehingga Aku memberinya? Adakah orang yang memohon ampun sehingga Aku mengampuninya?” (Muttafaq ‘alaihi)

Baca sebelumnya: KISAH NABI YUSUF – MENYINGKAP RAHASIA

Baca setelahnya: KISAH NABI YUSUF – PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN

(al-Hafidz Ibnu Katsir)

Kisah